Tahapan Membaca

Buku adalah makanan pikiran para pembelajar. Tiada pembelajar sejati yang tak gemar membaca. Jika pun tak tiap saat, mungkin hanyalah tersebab keterbatasan. Terbatas sumber bacaan, terbatas waktu luang. Tapi pembelajar penggemar ilmu pastilah memiliki kegandrungan dan kegairahan membaca amat tinggi.

Bagaimana tidak? Sedang ilmu demikian banyak, waktu demikian terbatas. Ingin berguru langsung pada ahli, tak setiap saat bisa bertemu. Sementara para ahli telah menuangkan racikan dan intisari pembelajaran mereka dalam buku, mengapa tak dinikmati terlebih dahulu? Memang ia perlu diolah. Memang ia perlu dibimbing. Namun setidaknya pikiran yang telah diisi memudahkan tiap pendidikan yang diberikan seorang guru.

Ketidakgemaran membaca adalah bencana peradaban. Peradaban adalah akumulasi pengetahuan kolektif dari generasi ke generasi. Maka ketika satu atau beberapa generasi memiliki keterampilan dan kegemaran membaca rendah, aliran pengetahuan pun tersumbat secara kolektif. Aku tidak sedang membicarakan potongan kecil informasi. Aku sedang membicarakan potongan yang menggunung dari setiap orang dalam satu generasi, digabungkan dengan generasi yang lain. Jadilah setidaknya Barat sekarang tampak sedang menguasai sains, sedang Timur agak tertinggal. Sebab pendidikan di Timur baru belakangan menyadari kembali pentingnya membangun kebiasaan literasi. Sedang bagi Barat, keterampilan membaca ialah mata pelajaran pokok.

Masyarakat kita, puas dengan keterampilan membaca huruf jadi kata, kata jadi kalimat. Betapa terkejutnya aku kala memfasilitasi kelas di sebuah sekolah. Ketika itu, kuputarkan sebuah video berdurasi 5 menit, dengan teks terjemahan yang jelas. Ketika kuajukan pertanyaan reflektif setelahnya, hampir tak ada yang sanggup menjawab dengan opini yang mendalam. Beberapa bahkan memahami adegan dengan kekeliruan yang cukup fatal. Ya, itu hanya tayangan 5 menit.

Lain lagi kisah seorang kawan yang mengajari kelompok ibu-ibu di sebuah perkampungan. Jika 1 halaman artikel diberikan kepada mereka, dengan mudah mereka bisa membacanya. Tak mengejutkan. Namun ketika lembar tersebut diambil, dan mereka diminta menceritakan apa yang mereka pahami, otak seakan terhenti. Sungguh ada jarak yang jauh antara membaca dan memahami bacaan.

Membaca Tulisan

Ya, ketika masyarakat kita mengatakan bisa membaca, rupanya baru membaca di level ini yang dikuasai. Membaca informasi berupa rangkaian kata dan kalimat, hingga beberapa paragraf. Keterampilan membaca ini, kiranya baru membaca pada tahapan paling awal. Kita mesti berlatih lebih tekun untuk membaca hingga tahapan…

Membaca Makna

Sebagaimana kata mewakili isi pikiran, maka kalimat dan paragraf, berlanjut bab hingga satu buku, mewakili bangunan pemikiran. Jika sebuah kata ‘coklat’ saja bisa memiliki variasi makna ‘makanan’ atau sekedar ‘warna’, tentunya kalimat dan paragraf perlu direnungkan agar mencuat makna-makna yang dimaksud oleh penulisnya. Belum lagi makna-makna itu pun perlu dirangkai kembali agar bisa dipahami oleh kapasitas berpikir diri ini.

Inilah tahapan membaca yang memerlukan keterampilan bertanya. Bertanya pada bacaan, mempertanyakan pemahaman dan cara memahami. Bertanya pada penulis, dan pada saat yang sama bertanya pada diri sendiri.

Membaca Tanda

Di balik makna, tersembunyi makna. Inilah yang kumaksud dengan tanda. Makna yang sedang dibahas sang penulis ini sejatinya menandakan apa? Apa esensi yang menjadi muara dari semua penuturannya.

Membaca karya-karya Andrea Hirata, misalnya, kita bisa mendapati keinginannya tuk mengisahkan ragam kekayaan budaya Melayu yang kini masih terjaga. Novelnya tak pernah secara eksplisit menceritakan hal itu. Namun dari bab ke bab, kita disuguhi pernak-pernik kehidupan yang tak pernah kita duga jika tak pernah hidup di sana. Menariknya, kesemua itu ia tuturkan dengan jenaka. Mengesankan bahwa pada tiap kesulitan selalu ada kegembiraan yang bisa dinikmati. Dan masyarakat, selalu punya cara untuk menikmati apa yang orang lain anggap sebagai kegetiran.

Lain lagi kisah roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya ulama sastrawan legendaris, Buya Hamka. Di bagian akhir beliau ungkapkan bahwa lika-liku yang berujung sad ending dalam buku tersebut bukanlah sekedar kisah percintaan, apatah lagi soal kasih tak sampai. Ia, jelas beliau, adalah cerita tentang keteguhan, perjuangan para pemuda. Ya, kisah pemuda memang sebagaimana yang termaktub dalam sebaik-baik kisah dalam surat Yusuf. Bukan kisah yang lempang, melainkan penuh naik dan turun.

Membaca di Balik Bacaan

Di balik bacaan ada ideologi. Di balik bacaan ada keyakinan. Di balik bacaan ada identitas. Di balik bacaan ada misi. Di balik bacaan ada gambaran apa yang sedang diperjuangkan sebuah peradaban.

Seorang penulis adalah anak peradaban. Ia tak bisa benar-benar lepas dari konteks ruang dan waktu tempat ia hidup dan besar, lahir dan bekerja, menghirup udara dan menikmati sumber daya. Maka penuturan seorang penulis adalah gambaran peradabannya. Memahami sekumpulan penulis, bahkan yang tampak saling bertentangan pada zahirnya, kita mungkin saja menemukan kesamaan pada hakikatnya.

Di titik pembacaan ini, biasanya, jika bukan senyum, yang terbit adalah tangis. Senyum dan tangis yang menandakan pemahaman akan kebijaksanaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>