Tekunilah yang Berarti

“Kedamaian bukan hadir sebab menghindari keriuhan. Ia terbit sebab menekuni apa-apa yang berarti.”

Cermati para anak usia dini, kala mereka sanggup mengerjakan sesuatu sendiri, terbitlah sumringah dalam senyum yang merekah. Ya, ada fitrah dalam diri untuk menjadi insan yang berarti. Ada kerinduan yang mendalam, ketika keseharian jauh dari pekerjaan yang hadirkan makna.


“Tahukah Anda apa yang saya sebut sebagai ide terbaik manajemen stres?” tanya Stephen R. Covey, penulis kenamaan buku “The 7 Habits” itu. “Yakni rasa memiliki tujuan, meraih makna, dan berkontribusi bagi kebaikan.” Maka pensiun, menurutnya, bukanlah saat untuk berleha-leha, apalagi berhenti dari aktivitas seketika. Pensiun, sejatinya adalah masa bagi kita untuk fokus mengerjakan hal-hal penuh makna, warisan yang ingin kita tinggalkan bagi dunia. Sebab bertahun dalam dunia memenuhi kebutuhan hidup, pensiun adalah jalan menggairahkan untuk mengerjakan apa yang kita inginkan.

Saya sepakat. Sebab tak jarang saya dapati para pensiunan yang malah semakin memburuk kesehatan raga dan jiwanya, akibat berhenti dari aktivitas.

“Tahukah Anda mengapa jantung kita berdetak setiap saat? Bukan sehari sekali, sebulan sekali, atau setahun sekali?” tanya seorang guru. “Sebab adalah tabiat kita untuk terus bergerak. Kala berhenti, bersiap lah menuju keniscayaan akan kehancuran perlahan-lahan.”

Saya pun teringat sebuah renungan beberapa tahun lalu, tentang mengapa debu selalu hadir dalam rumah yang disapu dua kali sehari. “Sebab ia memang diciptakan untuk membuatmu bergerak membersihkannya.” Demikian jawaban itu hadir. Adalah bergerak, bagian dari tugas penting penciptaan kita. Adapun diam, istirahat, hanyalah usaha mengembalikan tenaga untuk digunakan bergerak kembali.

Dan, tak ada aktivitas gerak yang tak mengenal henti, selain sebab mengerjakan apa-apa yang berarti, apa-apa yang bersentuhan dengan kehidupan banyak orang. Semakin banyak orang yang kan merasakan dampaknya, semakin ia bermakna dalam, semakin besar pula api yang menyala-nyala dalam diri tuk mewujudkannya. Maka damai, adalah rasa yang tak mungkin terelakkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>