Tentang Membaca

Sungguh aku bingung pada insan nan tak gemar membaca. Darimana ia hendak mendapatkan ilmu yang diperlukannya? Sementara kehidupan dengan berbagai ujian terus mendera, adakah ia merasa apa yang telah ia ketahui cukup tuk mendapatkan jawabannya? Bukankah itu serupa anak yang hanya belajar sampai kelas 1 SD, lalu terus saja nekat mengikuti ujian hingga SMP, SMA, bahkan universitas? Ilmu tak ditambah, padahal ujian tak pernah menjadi lebih mudah?

“Ah, ilmu kan tak hanya lewat buku. Pengalaman itu sendiri ilmu jua,” pembelaan dirinya.

Betul. Dan seberapa banyakkah pengalaman yang sanggup kita jalani dalam hidup? Sementara dalam buku yang bermutu, terangkumlah perjalanan panjang para alim dari waktu ke waktu. Tak semua segera kita butuhkan. Namun jika sudah membacanya, setidaknya kita kan tahu ke mana mesti mencari jawaban.

“Teori yang ada di buku itu tak terlalu penting. Lebih baik langsung praktik saja,” pembelaan yang lain.

Betul. Praktik itulah pengalaman sejati dari sebuah ilmu. Namun tanpa membaca, apa yang hendak dipraktikkan? Sedang bertemu guru tak mesti setiap saat. Fungsi guru pembuka pintu ilmu, tapi kita sendirilah yang harus menyelami jutaan misteri di dalamnya. Membaca tanpa berguru itu memang bisa menyesatkan. Sedang berguru tanpa membaca itu sebuah kemalasan. Inginnya disuapi saja. Tak mau repot. Tak bersiap-siap sendiri. Padahal jauh, jauh lebih baik bertemu guru dengan persiapan, lalu melanjutkan perjalanan seusai mendapatkan kunci-kunci pembuka darinya.

“Apa yang tertulis di buku jauh dari kenyataan,” pembelaan jenis baru.

Betul. Sebab apa yang tertuang di buku adalah hasil simpulan dari rangkaian pengalaman. Ia ibarat saripati, yang tak sama lagi dengan bentuk asli. Tapi adakah masakan yang enak tanpa saripati kaldu? Ada pula kah kita bisa menikmati minuman sedap jika buah-buahan langsung dimasukkan dalam air tanpa diperas saripatinya? Membaca buku yang berkualitas membantu kita mendapatkan saripati yang paling inti. Adalah tugas kita selanjutnya tuk memahami bagaimana ia bisa diterapkan dalam konteks yang sebenarnya. Ini adalah proses belajar yang jauh lebih menghemat banyak waktu.

Di luar semua itu, kadang terbit pertanyaan dalam benakku. Bacaan yang bagus adalah makanan pikiran, layaknya makanan yang baik bagi tubuh. Sementara pikiran demikian reseptif dengan informasi yang masuk setiap hari, tanpa membaca, informasi seperti apa kah yang masuk ke dalamnya? Adakah berita-berita tak bermanfaat yang menjadi makannya? Adakah gosip atau pendapat yang tak jelas kevalidannya?

Jika sekolah sekian tahun sudah cukup bagimu, wahai diri, bukankah membaca adalah aktivitas belajar yang demikian efisien di tengah kesibukan hari-harimu? Mengisi pikiran dengan belasan menit membaca buku bermutu sungguh sebuah kemerdekaan belajar yang tiada terkira. Jika sejak TK sampai kuliah kita disuapi bacaan yang mesti dipelajari, kini kita bebas menentukan apa yang ingin kita masukkan dalam pikiran. Sebab tanpa secara sengaja memasukkan ilmu yang baik pada diri, beragam informasi yang lalu lalang masuk tanpa disadari dan mengendalikan diri kita.

Didiklah dirimu, wahai diri, dengan bacaan yang baik. Inilah perintah pertama yang datang pada Nabimu dulu. Tidakkah kau penasaran, mengapa bukan perintah lain yang pertama-tama diturunkan? Apakah rahasia yang ada di balik aktivitas membaca ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>