Tentang Meminta Materi Pengajaran

Seorang guru memahami apa yang pas untuk diajarkan pada murid. Tidak saja bahan, melainkan juga bagaimana ia dipelajari. Maka bagian dari adab belajar ialah mempersiapkan diri tuk menerima apa yang diberi dengan sebaik-baiknya. Menerima dengan penuh kesungguhan, dengan menyimak dan mencatat. Keduanya adalah bagian penting yang akan menjadikan ilmu bagian dari diri, tak hanya tersimpan dalam berkas-berkas semata.

Aku sungguh menghindari meminta materi pengajaran pada guru, jika sang guru tak memberikannya kepadaku. Ada beberapa alasan.

Pertama, sebagai pembelajar, menyimak dan mencatat sebaik-baiknya adalah tugas kita. Meminta bahan, sejatinya menunjukkan kemalasan diri tuk menjalankan dua aktivitas pembelajaran penting ini. Apatah lagi, kerap kudapati bahan yang didapat seorang pembelajar tak serta merta ia pelajari pula setelahnya. Betapa banyak kawan yang mendapat fail dan buku elektronik secara gratis dan masih teronggok di USB tanpa pernah disentuh.

Kedua, seorang guru pastilah tahu seberapa banyak materi yang bisa diajarkan dalam satu waktu. Apa yang beliau ajarkan ketika itu, terimalah, jangan meminta lebih. Sebab lebih banyak belum tentu lebih baik. Ada batasan bagi pikiran tuk memahami sesuatu. Ada waktu yang dibutuhkan bagi diri tuk menguasai sesuatu. Bagian dari pembelajaran adalah merenungkan apa yang berhasil ditangkap ingatan, menjadikannya pemahaman, dan menggerakkan langkah sebagai pengamalan.

Ketiga, seorang guru kerapkali tak memiliki materinya sendiri. Beliau mendapat lisensi, yang hak mengajarkan bukan semata ada pada dirinya. Meminta materi yang tak diizinkan tuk diberikan sebenarnya menempatkan beliau pada posisi sulit untuk menjawab. Sungguh rasanya bukan adab murid yang baik menyudutkan guru seperti ini. Maka sekali lagi, terimalah apa yang kau dapat. Niscaya itu sudah mencukupi.

Betapa kupahami belakangan, kala sebuah kelompok belajar terbentuk dan mempelajari sebuah buku. Buku yang hanya setebal 500 halaman itu rupanya belum habis dibahas tuntas dalam 1,5 tahun. Dan dari yang sudah dipelajari itu pun, kami belajar begitu banyak. Padahal masih banyak buku-buku lain yang belum dijamah. Inilah barangkali keberkahan dari kesungguhan. Bukan soal banyak, tapi soal kedalaman.

Maka, wahai diri, hindair meminta materi, kecuali memang diberi. Siapkan diri tuk belajar. Simak, catat. Inilah sikap pembelajar sejati. Yang berhasil kau ingat dan catat ialah yang memadai untuk saat ini. Banyak yang terlewat? Ulangi lagi lain kali. Takkan rugi kita menyelami kembali apa-apa nan pernah dipelajari. Ilmu layaknya air sungai. Meski tampak begitu adanya, air yang mengalir tidak pernah sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>