Ukurlah dengan Dirimu

“Kita bukanlah apa yang kita miliki. Kita adalah apa yang kita beri.”

Apapun yang kita miliki, dan berada dalam pundi-pundi, belumlah memiliki arti. Ketika usia kita diakhiri, seketika semua hilang, dan tak kita bawa mati. Ya, sebab yang kita segala miliki hanyalah alat untuk mengerjakan apa nan jadi kewajiban. Uang, belum berarti dan jadi tabungan amal, sebelum ia dipergunakan. Sebanyak apapun jumlahnya, ia idle, sampai diubah bentuk menjadi sebuah kemanfaatan.

Tetiba sebuah firman Allah dihidangkan di hadapanku:

“Hari orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Al Baqarah: 267)

Dia perintahkan kita tuk segera menafkahkan, menggunakan, mengembangkan, sebagian dari yang kita terima dariNya. Namun Dia tahu persis kecenderungan diri ini untuk merasa sayang dengan apa nan dimiliki, yakni kecenderungan insan yang lemah iman adalah menafkahkan, namun memilih miliknya yang sejatinya tak disukai. Maka diingatkanlah kita untuk menghindari kecenderungan itu, lantaran justru merugikan diri kita sendiri kelak.

Apa pasal?

Ya karena kita adalah apa yang kita beri. Yang kita berikan, itulah yang jadi catatan. Yang kita gunakan, itulah yang jadi amalan. Insan yang cerdik nan produktif jelas akan memilih hanya yang terbaik untuk jadi tabungan keabadian. Seperti apakah tabungan itu jika yang kita berikan hanyalah hal-hal yang tak bernilai? Berikanlah yang terbaik, wahai diri, sebab itu pun sejatinya bukan milikmu. Itu milikNya, yang Dia berikan kehormatan tuk disalurkan melalui dirimu.

Ukurlah dengan dirimu, wahai diri, apa-apa yang kau niatkan tuk diberikan. Adakah dirimu sendiri kau suka kala menerimanya? Adakah kau kan bahagia saat menggunakannya? Adakah kan bersyukur hatimu sesudahnya? Jika tidak, maka cermatilah. Jangan-jangan telah berbolak-balik hatimu, sebagaimana peringatanNya:

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan, sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 268)

Sungguh, kecenderungan tuk pelit itu bukan berasal darimu. Itu adalah godaan setan yang menakut-nakutimu dengan kemiskinan. Padahal dalam tiap yang kau kerjakan, ada potensi ampunan dan karunia yang Dia janjikan. Lalu apakah kau hendak mengingkarinya?

Maka pada yang sanggup melalui ujian ini ada keunggulan:

“Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al Baqarah: 269)

Keunggulan itu bernama hikmah, yakni kemampuan insan tuk mengetahui apa-apa yang ada di sebalik kejadian, yang nun jauh dari penglihatan. Insan yang diberi hikmah tak terkungkung dengan kondisi saat ini, sebab melihat melampaui yang ada di hadapan. Ia bebas, merdeka, melepas apa yang dimiliki, yang berujung pada tabungan di hari akhir nanti. Hatinya tenteram tak terikat pada yang pasti mati. Sungguh beruntung insan ini, hidupnya produktif penuh arti. Harum namanya kini dan nanti.

Nah, mari berhenti sejenak di sini. Merenung lebih dalam tentang apa saja sebernarnya makna yang terkandung di dalamnya. Ini tentang apa yang kita beri. Yang kita beri, tak hanya soal harta dalam artik sedekah. Itu penting, namun ada yang jauh lebih penting, yang justru kerap terabaikan. Yang kita beri, itu termasuk apa-apa yang kita kerjakan.

Tengoklah, wahai diri, adakah selama ini kau telah bekerja dengan baik? Adakah yang kau kerjakan itu, jika dilihat dari sudut pandang pemberi kerja, sudah memenuhi hasil kerja yang memuaskan? Sudikah kau memberikan penilaian karya yang tinggi pada kinerja seperti itu? Akankah kau merekomendasikan atau mempromosikan orang yang karyanya serupa itu?

Jika ya, maka itulah sebaik-baik pemberian. Sungguh ada sebagian kecil insan yang abai pada hal ini. Mereka memiliki beberapa ketidaksukaan pada pemberi kerja, lalu bekerja ala kadarnya. Cara kerja yang sekiranya mereka menjadi pemberi kerja, sungguh takkan sudi memberikan upah yang layak. Jangan begitu, wahai insan, jangan begitu. Singkirkan godaan tuk bermalas-malasan dan memberikan unjuk kerja yang tak layak. Kau tak merdeka jika begitu. Kau terbelenggu dengan nafsumu.

Insan produktif nan merdeka sungguh dapat melihat melampaui apa yang tampak. Amat manusiawi jika lahir ketidaksukaan tertentu pada pemberi kerja. Namun ia sadari persis, bahwa yang mengatur keberadaannya bukan sang pemberi kerja, tapi Sang Pencipta. Pekerjaan itu adalah salah satu pipa rezeki yang Dia alirkan bagi dirinya, dan juga bagi orang lain. Ada tugas dalam tiap pekerjaan, yang jauh lebih dari sekedar mencari nafkah. Ada kemuliaan yang Dia titipkan dalam tiap gubahan karya yang kita buat. Dia jadikan kita pengantar rezeki, yang dari itu kan dinaikkan derajat diri.

Inilah hikmah, anugerah yang banyak itu. Maka beruntunglah jiwa-jiwa yang gemar mendulangnya dalam kerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>