Waspadai Pengalih Perhatian

“Kunci dari keunggulan bukanlah adanya resep rahasia nan tersembunyi, melainkan ketekunan mengerjakan nan berarti tanpa henti.”

Ada sebuah nasihat tentang produktivitas yang menjadi salah satu favoritku, “There is no such a thing as time management, it is only self management.” Tak ada yang namanya manajemen waktu, yang ada hanyalah manajemen diri. Sebab waktu, dari dulu hingga akhirnya nanti jumlahnya ya hanya segitu-gitu. Tak berkurang, tak pula bertambah. Maka yang bisa dikelola bukanlah waktu, melainkan aktivitas yang dikerjakan oleh sang diri ini.

Untuk itulah, Stephen R. Covey mempopulerkan dan mengembangkan model bernama Matriks Waktu. Dalam model ini, beliau mewanti-wanti bahwa yang kerap ‘merampok’ waktu kita bukanlah hal-hal yang teramat penting dan genting. Namun justru hal-hal yang sejatinya tak penting, namun tampak penting, tersebab ia genting—hadir tiba-tiba. Ketiba-tibaan itu lah yang kerap membuat kita mengira sesuatu begitu penting, padahal belum tentu.

Dan di era ini, hal serupa ini begitu banyak terjadi. Mulai dari tayangan televisi, ajakan ngopi, hingga sesederhana bunyi atau bahkan kedipan lampu smartphone. Lalu kita pun merasa sibuk, banyak hal dipikir dan dikerjakan. Namun di akhir hari, jika diminta tuk merefleksikan apa saja nan berarti telah dikerjakan hari ini, tak kuasa rasanya menuliskan barang 1-2 kalimat saja.

“Memang apa salahnya sekedar pengalih perhatian? Toh kita kadang jenuh jua?” tanyamu.

Nah, ini masalahnya. Kita kerap menganggap sekedar pengalih perhatian itu ringan belaka. Padahal energi yang diperlukan tuk kembali fokus pada apa yang dikerjakan sungguh tak sedikit. Sekali perhatian teralih, ibarat peralatan elektronik yang dimatikan, lalu dinyalakan kembali. Ia memakan daya yang lebih besar dibanding jika tetap menyala dalam keadaan normal.

Maka insan yang sering teralih perhatiannya, pasti kan kesulitan menemukan kedalaman pada apa yang ia kerjakan. Kerja ala kadarnya, tak pernah tuntas. Sebab kedalaman memang menghendaki diri tuk masuk ke dalam, merenung dan meresapi, menelaah lapisan demi lapisan pemahaman. Dan ini jelas aktivitas yang tak bisa disela-sela.

Waspadalah, wahai diri, pada aktivitas serupa ini. Tersebab banyaknya, kita tetiba merasa kehabisan energi, apatah lagi ketika disadari tak banyak hal bermakna yang dihasilkan. Lalu putus asa, dan berakhir pada penyia-nyiaan lebih banyak lagi. Ya, bermula dari pengalih perhatian, berujung pada pengalih arah kehidupan.

Lalu teringatlah kita pada ajaran Sang Nabi:

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.”

(H. R. Muslim No. 783)

Bukan soal banyak, melaikan kontinu. Dalam kontinuitas, tercipta kumpulan keahlian, pemahaman, kedalaman. Dan melakukan sesuatu secara kontinu, jelas membutuhkan keteguhan hati tuk tak melirik para pengalih perhatian. Tak heran, Daniel Goleman dalam buku terbarunya yang bertajuk Focus, menambahkan sub judul “The Hidden Driver of Excellence”. Sebab kunci dari keunggulan bukanlah adanya resep rahasia nan tersembunyi. Melainkan ketekunan mengerjakan nan berarti tanpa henti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>