Tetaplah Rendah Hati

“Salah satu penghalang ilmu”, demikian sebuah nasihat, “ialah pikiran ‘Aku sudah tahu’.”

Ya, begitu terlintas dalam pikiran bahwa diri ini pernah tahu, pernah belajar, apalagi pernah mendalami, seketika itu pula pintu pertanyaan tertutup. Kita tak lagi bertanya. Kita tak lagi berminat. Dan kita menutup diri. Jika pun ilmu baru masuk, ia kan tertolak tanpa disadari. Padahal, selalu ada hal baru yang kita pastilah belum tahu. Ilmu yang bermanfaat layaknya berlian, dicermati dari tiap sisi kan menghadiahkan pemahaman yang tak pernah sama. Aliran ilmu pun serupa dengan aliran air sungai nan deras. Meski kita memandang sungai yang sama setiap hari, tahu lah kita air yang mengalir di sana tak pernah serupa dengan kemarin.

Maka agar tiap waktu tak tersia, cermatilah lintasan pikiran kala ada peluang pembelajaran. Semisal, ketika kita bertemu dengan orang yang baru dikenal. Tidaklah seseorang dipertemukan dengan kita, melainkan pasti kan lahirkan pembelajaran. Entah dari lisannya, atau dari tindakannya. Namun pertemuan singkat kerapkali mendorong diri tuk mencermati hanya apa yang tampak. Gayanya kah, rupanya kah, atau informasi-informasi dasar yang sempat ditanyakan. Lalu ketika ada peluang tuk merasa diri sebagai orang yang lebih tahu, godaan keangkuhan itu pun hadir. Layaknya iblis yang menganggap api lebih mulai dari tanah. Padahal kita tahu persis, api selalu padam ditimpa tanah.

Inilah sebab pembelajar sejati senantiasa memasang diri tuk selalu rendah hati. Sebab di atas langit ada langit. Semakin ilmu digali, semakin diri ini yakin akan berlimpahnya hal nan tak diketahui, apatah lagi dikuasai. Membiarkan setitik saja keangkuhan sungguh merupakan kerugian besar bagi pembelajar sejati. Lantaran ilmu yang terhidang di depan mata tertolak seketika.

Waspadalah, wahai diri, pada secuil kesombongan. Ia menelusup tanpa disadari di balik pengalaman yang kita miliki, gelar yang kita banggakan, posisi yang kita pegang, usia yang lebih tua. Kesempatan belajar hilang begitu kesombongan datang. Belum lagi efek samping dari kesombongan sungguh tak pernah menyenangkan. Ia mendorong wajah jadi tak ramah, senyum jadi tak tulus, nada bicara tak mengenakkan, kata-kata meskipun halus tapi menyakitkan.

Ada jebakan di balik pengetahuan. Kita merasa lebih tinggi dari mereka yang duduk di hadapan. Padahal tak pernah kita tahu bagaimana ia Allah takdirkan. Bisa jadi, dan kita tahu kerap terjadi, bahwa mereka yang sekarang tampak lebih muda, lebih tak berpengalaman, dikaruniai kebijaksanaan dengan cara yang tak disangka-sangka.

Aku pun teringat sebuah momen pembelajaran di satu komunitas. Berkumpullah di sana orang-orang yang kontribusinya bukan lagi ukuran organisasi, melainkan tataran negeri. Namun berbekal kerendah hatian, aliran ilmu demikian deras. Merekalah insan yang dengan seabrek karyanya, menunjukkan pada kami anak-anak muda, bagaimana menyimak itu sebenarnya. Tak ada rasa ingin menonjolkan diri. Tak ada pertanyaan-pertanyaan yang sekedar ingin menguji. Mungkin sikap ini justru lahir dari perjalanan mereka selama ini. Makin besar ujian, makin dikenali bahwa kita tak pernah bisa bekerja sendirian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>