Tahu Diri

Adakah kau percaya pada kesempurnaan penciptaan Tuhan, wahai diri? Bahwa Dia ciptakan segala tanpa cacat, tanpa kesia-siaan? Maka sungguh berani jiwa yang mengatakan dirinya biasa belaka, hidup layaknya air mengalir, mengikuti arus kian kemarin. Sebab dengannya ia katakan Tuhan lalai dalam penciptaan, Dia hadirkan makhluk tanpa tujuan.

Bukan, bukan tanpa tujuan, wahai diri. Pun bukan untuk tujuan yang sederhana pula diri ini diciptakan. Tapi kusamnya cermin hati yang akibatkan diri ini lalai mendapati betapa banyak bekal yang sudah Dia siapkan untuk kita jalankan tugas besar itu. Demikianlah seringkali kita tak tahu diri, merasa tak berarti, padahal tugas besar tengah menanti.

Tahu diri lah, tahu diri. Tengoklah apa yang tampak dari dirimu, lalu hitung harganya. Tengohlah apa yang ada dalam jiwamu, lalu ukur kedalamannya. Sungguh kau bukanlah ciptaan yang sederhana, wahai diri.

Tapi jangan kau bayangkan tugas besar itu semata apa-apa yang dikatakan oleh orang-orang. Bahwa kekayaan itu semata urusan harta. Bahwa kesuksesan itu pastilah beraroma kemewahan. Tugas besar itu bisa jadi tampak kecil, remeh, dan sahaja bagi banyak mata, namun kesungguhanmu menjalankannya lah yang menjadikannya bernilai. Sebab tak perlu menjadi besar bagi berlian tuk menjadi berharga, ia cukup kecil saja, yang dibentuk penuh ketekunan.

Ah, maka tergantunglah dari jernihnya cermin hatimu, wahai diri. Adakah kau yakini dirimu berlian, maka kau gosok dirimu hingga berkilau? Atau kau cermati dirimu layaknya batu jalanan, hingga kau biarkan ia tanpa perawatan?

Kita melihat, apa-apa yang kita yakini.

Spread the love

2 thoughts on “Tahu Diri

  1. Betul betul betuul…, setuju bgt!, hebat mas teddy bisa punya segudang pemikiran yg ga kepikiran, thanks mas utk sarapannya 🙂

Leave a Reply to yenni rusdiarta Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *