Kejujuran dan Kebohongan

“Kejujuran itu berat di awal, kebohongan itu berat di akhir. Yang pertama melegakan, yang kedua menggelisahkan.”

Jujur, adalah kata yang indah. Ia adalah sesuatu yang secara alamiah disukai jiwa, siapapun ia. Tak hanya orang yang benar, bahkan para penjahat pun menghendaki kejujuran di antara mereka. Namun adalah tabiat setiap yang berharga untuk memang ada harganya. Semua yang tinggi nilainya, tak bisa didapat begitu mudahnya. Demikian lah pula pada mutiara bernama kejujuran.

Hati ini sungguh tahu bahwa jujur itu baik, untuk masa kini maupun masa depan. Tapi kekhilafan yang dibalut nafsu acapkali menghalangi diri dari melakukannya. Apa pasal? Banyak godaan. Umumnya adalah rasa takut akan hukuman, cibiran, kemungkinan direndahkan. Meski telah begitu banyak pembuktian bahwa kejujuran, seperti apapun pahitnya, akan selalu berakhir dengan kemuliaan. Mereka yang jujur, tak pernah tersungkur dalam kehinaan. Justru ia meninggi, jika tak di dunia, insya Allah di akhirat.

Maka kejujuran, adalah sesuatu yang seringkali berat di awal. Yakni, ketika jiwa masih terkotori rasa takut terhadap penilaian manusia. Namun ya, ia memang hanya di awal. Yakinlah bahwa akhirnya akan selalu baik. Salah satu buktinya adalah ketentraman hati yang dirasakan setelahnya.

Sebaliknya,  kebohongan, mungkin sejenak menenangkan. Tapi ya, hanya sejenak, ketika tampak mata tak ada yang tahu. Dan segera lah kita pahami bahwa yang sejenak ini tak pernah berlangsung lama. Ia yang berbohong tak pernah henti dari gelisah, sebab segala yang busuk memang akan menelusup dan tercium jua. Maka kebohongan, meski terasa ringan di awal, ia pasti berat di akhir. Jika pun hingga ajal tak tertampakkan di dunia, yakinlah ia terang benderang di hari akhir.

“Aku tahu,” katamu, “bahwa jujur itu baik. Tapi bagaimana caranya?”

Ah, tidakkah kau pahami, wahai diri, bahwa selalu ada suara pengingat kala diri hendak tak jujur. Meski memang, keras atau lemahnya suara itu bergantung pada seberapa sering ia kau dengarkan. Sebab suara hati ibarat kawan, yang enggan terus mengingatkan jika tak pernah kau hiraukan.

Ya, kini pun suara hati itu masih ada, masih terus berbicara. Dengarkan lah, dengan sungguh-sungguh. Ikutilah, sepenuh hati. Ciri kebenarannya terletak pada apa yang kau rasakan setelahnya. Tentramkah? Atau gelisah?

Spread the love

2 thoughts on “Kejujuran dan Kebohongan

Leave a Reply to teddiprasetya Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *