Tubuh, Tentara Jiwa

“Tubuh adalah tentara jiwa. Sucikan jiwa, agar tubuh melangkah di jalan kesucian.”

Mudah bagi kita, mengetahui apakah seseorang tersenyum dengan tulus atau tidak. Cukup nikmati senyumannya, dan rasakan apakah ia menggerakkan hati tuk membalasnya dengan ketulusan. Jika tak sedikit pun hati tergerak, maka seindah apapun senyuman itu tampak, sejatinya ia jauh dari tulus.

Berapa banyak kita dapati orang yang wajahnya tenang, namun kita tahu ia sedang marah. Dari mana berasal? Entahlah. Tahu saja. Terasa bahwa ketenangan wajah itu, berbeda dengan ketenangan akibat jiwa yang tentram.

Maka benarlah apa yang dikatakan bahwa tubuh dan jiwa tak pernah terpisahkan. Ia berjalin kelindan, menyatu dalam keutuhan diri. Apa yang terasa di jiwa, akan tertampak pada raga, serapi apapun ia ditutupi. Bisa jadi bentuknya sama-sama senyum, namun rasanya jauh berbeda. Bisa jadi punya bentuknya sama-sama kesal, namun geloknya sama sekali lain.

Dan dalam hubungan yang harmonis ini, jiwa lah yang memegang kendali. Layaknya komputer yang fungsi dan manfaatnya bergantung pada perangkat lunak apa yang bekerja di dalamnya. Jiwa, meski tak terlihat, demikian halus menyusup dan menggerakkan tubuh menuju apa yang diinginkan. Hingga tahu lah kita bagaimana keadaan jiwa orang yang melulu mengurusi harta, tanpa peduli kehalalannya.

Maka pekerjaan terbesar yang tak pernah henti adalah terus-menerus menyucikan jiwa. Sebab jiwa yang suci, hanya mengenal dan tertarik pada jalan kesucian. Sedang jiwa yang keruh kan kesulitan mendapati jalan terang meski terbentang di depan mata.

Sisi lain, tubuh adalah tentara jiwa, maka cermatilah kemana tubuhmu mengarah, dan kan kau kenali sejenis apa jiwa yang kau miliki. Adakah ia menjalankan fitrahnya dalam kebenaran? Atau ia sedemikian kusam, hingga perlu kesungguhan tuk menjernihkannya kembali?

Berhati-hatilah, wahai diri, akan setiap lelaku tubuh dan jiwa. Sebab tiada satu lelaku pun yang hadir, kecuali pasti ia kan ditanya pada waktunya kelak. Sungguh tak layak diri tuk bersantai, kecuali telah ada jaminan lurus dan mudahnya perjalanan. Dan semuanya bermula dari lurus dan sucinya jiwa mengikuti cahaya petunjukNya.

Spread the love

2 thoughts on “Tubuh, Tentara Jiwa

  1. Subhanallah, sgt menginspirasi.. Apalah guna hidup ini, bila tak bs mengendalikan tubuh dan jiwa, yg pd akhirnya membwt kita susah di hr perhitungan nti..
    Tks mas Teddy sgt menginspirasi.. Dan membangunkan jiwa yg kadang terlena

Leave a Reply to Ida Ronny Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *