Bakat Hanyalah Bibit

Hanya karena kita memiliki bibit mangga, bukan berarti kita bisa segera menikmati buahnya yang manis. Bibit yang baik itu, perlu ditanam pada tanah yang subur, dirawat dengan cara yang tepat, dijaga dari gangguan hama, dan dibiarkan seiring waktu sebelum akhirnya buahnya dapat dipetik. Para penikmat mangga yang hanya hobi membeli di pasar tentu tak pernah tahu bahwa proses menumbuhkan pohon mangga tidaklah mudah. Mereka pikir memastikan pohon mangga menghasilkan buah yang manis sama mudahnya dengan membeli sekilo mangga di pasar swalayan. Tunjuk, timbang, bayar.

Demikian pula kala kita menyoal bakat. Sungguh mudah kita mengatakan bahwa seorang atlit silat begitu berbakat, ketika ia menjuarai berbagai turnamen. Atau seorang pemusik, kala lagu-lagu yang digubahnya laku keras. Kita pikir ia ditakdirkan sukses sejak lahir, lalu perjalanan hidupnya mulus hingga mencapai kondisinya sekarang. Cara pandang seperti ini sungguh mengerdilkan para berbakat, seolah hanya mendapatkan sebuah keajaiban. Padahal mereka menjalani proses yang tak banyak orang tahu, hingga akhirnya tampak buah yang manis.

Bakat, hanyalah sebuah bibit yang belum menampakkan bentuknya kala ia pertama kali terdeteksi. Para pemiliknya pun acapkali tak pernah sadar bahwa ia berbakat. Yang ia tahu, ia menyukai apa yang ia lakukan. Ia rela mengerjakan hal itu berjam-jam dengan penuh kesenangan, meski tetap berlumur kesulitan. Perjalanan merawat dan menumbuhkan ini pun hampir tak pernah menampakkan keajaiban. Ia bergerak sedikit demi sedikit dari waktu ke waktu, hingga pada suatu titik mencapai kematangannya. Lalu tercengang lah para penonton. Padahal bagi pelaku, ia hal yang teramat biasa. Sebab apa yang ia dapatkan kini, hanyalah buah dari apa yang telah ia rawat bertahun lamanya.

Maka kita hampir-hampir tak pernah bisa mengenali bakat, sampai ia menjadi sebuah proses yang disungguhi. Kesungguhan itulah, yang sejatinya menjadi penanda utama akan bakat seseorang. Sebab tanpa kesungguhan, bibit sebaik apapun akan tersia belaka. Sebaliknya, mereka yang di awal tampak tak berbakat, tak jarang hanyalah serupa lambat panas, yang dalam kurun waktu beberapa lama baru menunjukkan kebolehannya.

Di titik ini, terngianglah sebuah nasihat yang pernah diberikan oleh seorang guru kala mendapat keluhan dari seseorang yang merasa bahwa pekerjaannya kini tidaklah sesuai dengan bakatnya. “Tak apa. Bakati saja apa yang kau kerjakan. Niscaya orang akan berkata, ‘Duhai, yang bukan bakatnya saja bisa sebaik ini!’”

Sempat terpikir bahwa yang dimaksud adalah semata memaksa diri. Namun kiranya bukan. Makna sejatinya adalah bahwa bakat tak pernah terlihat sebelum kesungguhan usaha dijalankan. Dalam kesungguhan itulah bakat menemukan bentuk dan keunikannya. Barulah sang diri menyadari, bahwa apa yang ia jalani teramat berarti. Persis seperti sebuah ungkapan yang konon diucapkan oleh Albert Einsten, fisikawan kenamaan itu:

“I have no special talent. I am only passionately curios.”

Saya tak punya bakat khusus. Saya hanyalah orang yang memiliki rasa penasaran demikian besar nan menggairahkan atas apa yang saya kerjakan.

Spread the love

2 thoughts on “Bakat Hanyalah Bibit

Leave a Reply to Iin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *