Mengapa Perlu Istighfar?

Sore ini aku pulang kantor bersama istriku. Perjalanan awal cukup menggembirakan, sebab situasi jalanan yang sungguh bersahabat. Kutengarai sebab masih banyaknya orang yang cuti, memanfaatkan momen akhir tahun. Kukatakan perjalanan awal, sebab justru di sepertiga perjalanan terakhir, kondisi macet cukup panjang begitu mengagetkan. Sebab tak ada jalur alternatif lain untuk ditempuh saat itu, kami pun memilih untuk menikmati saja kondisi ini.

Tibalah kami di satu titik—ya, hanya satu titik—yang setelah titik itu segala kemacetan terurai. Dalam bahasa lain, titik ini lah penyebab kemacetan panjang yang terjadi. Dan apakah itu? Bukan mobil mogok. Bukan pula banjir—yang memang sedang tren. Ia hanyalah sebuah putaran, yang seorang ‘Pak Ogah’ berdiri di sana ‘mengatur’ kendaraan dari arah berlawanan yang ingin memutar.

Kami pun tersenyum, teringat pada seorang ‘Pak Ogah’ yang pernah beberapa tahun lamanya ‘bertugas’ di sebuah pertigaan dekat lokasi rumah. Ia sering kami sebut ‘Si Makasih’, sebab selalu mengucapkan kalimat ‘Terima Kasih’ dengan nada yang khas setiap kali disodori sebuah koin.

‘Si Makasih’ yang kini entah dimana, bagi kami adalah sosok ‘Pak Ogah’ yang kompeten. Sebab setiap kali ia bertugas, lancar lah pertigaan itu. Dan setiap kali ia absen, macet lah ia. Gayanya mengatur lalu lintas yang lugas, gerak yang gesit, taktis mengelola giliran, kiranya sebuah kompetensi yang perlu untuk dimiliki oleh setiap orang yang berminat mengikuti jejaknya. Kami pun berkesimpulan sementara: setiap hal ada ilmunya. Bahkan menjadi ‘Pak Ogah’ pun, perlu berilmu. Tanpa ilmu yang memadai, mereka yang hendak menjadi ‘Pak Ogah’ sejatinya justru akan mengganggu kelancaran arus, alih-alih membantu.

Tapi bukan soal kompetensi ini yang ingin aku bicarakan. Sebab sebentuk pikir justru hadir dalam benakku, mengajakku merenung dalam soal dosa dan istighfar.

Loh, apa hubungannya?

Entahlah. Ia hadir begitu saja. Begini ceritanya.

Pak Ogah yang kami temui tadi sore, mungkin tak pernah sadar bahwa tindakannya telah mengakibatkan kemacetan yang demikian panjang. Ia hanya memanfaatkan peluang untuk mendapatkan rezeki di waktu senggangnya. Cuman ya itu, sebab ilmu tak dalam, maka niatan sederhananya itu tanpa disadari berdampak luas pada banyak orang.

Lalu pikirku yang semula melayang, kembali ke tempatnya. Memicu sebuah tanya, “Berapa kali kah dalam hidupku, aku melakukan hal serupa Pak Ogah itu?” Ya, jangan-jangan aku pun, tanpa kusadari, telah entah berapa kali berbuat sesuatu yang merugikan orang lain. Menelusuri tabiatku yang masih senang mengikuti nafsu, rasanya jutaan kali lebih ia pernah terjadi. Dan aku, di detik ini, masih acapkali merasa bersih dari dosa, hingga enggan beristighfar, apatah lagi memperbanyak amal. Aku sibuk dengan pemenuhan keinginan, sampai tak peduli pada apa yang terjadi di sekeliling.

Duhai Rabb, berapa juta orang yang kan menuntutku kelak di Hari Akhir? Adakah aku termasuk sebagai orang yang bangkrut?

Di titik ini lah, sebaris nasihat kembali menelusup jiwaku. Menyalakan cahaya ilmu tentang kebutuhanku tuk beristigfar. Tak layak lidah ini basah dari memohon ampun, sebab tak pernah kuhitung telah berapa banyak perilakuku yang demikian menyusahkan. Padahal Sang Nabi yang dijamin keterjagaannya dari perbuatan dosa saja masih beristighfar lebih dari 100 kali setiap hari. Maka mesti berapa istighfar kah yang mesti dimohonkan oleh hamba yang berlumur lumpur dosa ini?

Duhai, sungguh diri ini lemah, kecuali Kau berikan kekuatan. Sungguh diri ini hancur, kecuali Kau selamatkan dengan rahmatMu.

Beristighfar lah, wahai diri. Sebab kau takkan pernah tahu, istighfar mana yang kan diterima, sedang hitungan dosa tak pernah henti walau sejenak.

Spread the love

4 thoughts on “Mengapa Perlu Istighfar?

  1. Salam kenal Mas Teddi, ini kunjungan ke sekian kali nya saya ke sini, tetapi baru sekarang diizinkan oleh Allah untuk berkomentar di Blog Mas Teddi 🙂

    MasyaALLAH… Tulisan Mas Teddi selalu membuat diri ini terhanyut oleh tulisan yang khas.

    Allah memerintahkan kita untuk selalu berdzikir kepada-Nya di waktu pagi dan waktu petang. Sesuai ajaran Rasulullah pula.

    Semoga kita selalu dalam lindungan Allah dan selalu Allah berikan kekuatan untuk kita.

    Sukses untuk Mas Teddi ya.

Leave a Reply to teddiprasetya Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *