Perkenalanku dengan Filsafat

Tahun ini, aku mengambil sebuah keputusan. Aku mendaftar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Program matrikulasi selama 1 tahun, yang jika berjalan lancar akan memungkinkan untuk mendaftar ke program S2. 

Kok filsafat? Mengapa bukan melanjutkan studi di bidang psikologi? Atau manajemen yang lebih dekat dengan pekerjaan?

Ada kisah agak panjang di balik keputusan ini. Akan ku ceritakan sebagai bagian dari refleksi perjalanan hidupku beberapa tahun belakangan ini. 

Begini ceritanya. 

Sudah sejak 2004 aku mengenal NLP. Neuro-Linguistic Programming. Dan sampai saat ini masih terus mendalami, meski dalam bentuk yang berbeda-beda dari waktu ke waktu. Ada sebuah pertanyaan yang sempat menggelisahkanku beberapa tahun lalu, yakni tentang keilmiahan NLP. Dulu sekali aku tak peduli dengan pertanyaan ini. Namun di titik itu, aku amat penasaran, hingga sampai pada sebuah pertanyaan: memangnya apa sih yang disebut ilmiah itu? Bagaimana kita bisa menilai sesuatu sebagai ilmiah atau tidak? 

Penelusuranku sampai pada bahasan tentang filsafat ilmu. Sebuah istilah yang tentu saja sudah pernah ku dengar sejak lama sebagai mahasiswa humaniora. Namun ternyata sama sekali belum ku pahami. Menariknya, saat sampai di filsafat ilmu, aku tak lagi gelisah dengan pertanyaan tentang keilmiahan NLP, melainkan justru penasaran dengan filsafat itu sendiri. 

Kebetulan, beberapa tahun belakangan ramai bahasan tentang stoisisme, aliran filsafat yang sangat praktis dan terasa amat dekat dengan NLP. Buku Filosofi Teras sangat berjasa dalam hal ini. Belanja buku daring ku pun mulai masuk ke buku-buku filsafat. Buku pengantar sampai buku klasik. Hingga pada suatu saat aku membeli “Being and Time” karya Martin Heidegger. Kemudian mendapati bahwa 2 halaman kata pengantar pun tak sanggup ku lanjutkan, karena tak satu pun ku pahami maksudnya. 

Di titik itu aku merenung. Sepertinya memang aku butuh guru. Tak mungkin ilmu ini bisa ku selami sendiri. Mempelajari psikologi, NLP, manajemen, itu seperti berenang di sungai. Namun masuk ke dalam filsafat itu seperti berenang di lautan luas. Keterampilan berenangku yang ala kadarnya jelas tak memadai untuk sekedar bisa bertahan hidup. 

Maka aku pun mulai mencari-cari kampus yang memungkinkan untuk itu. Beberapa kampus negeri tak bisa masuk hitungan, karena hanya menyediakan program reguler yang jam kuliahnya di siang hari, hari kerja pula. Hanya STF Driyarkara yang begitu murah hati mengadakan kelas di sore hari, momen paling tepat bagi orang-orang yang ingin kuliah namun tetap harus mengais rezeki. 

Tentu saja kampus ini bukan kampus sembarangan. Reputasinya luar biasa. Pengajarnya tak main-main keahliannya. Nama-nama besar di dunia filsafat Indonesia lahir dari sini. Maka ada tradisi menarik yang ku pelajari di awal-awal perjalanan ini. 

Filsafat, jelas, adalah bidang yang menghendaki kita untuk banyak membaca. Aku memang hobi membaca. Namun membaca sebagai hobi kiranya tak cukup untuk mendalam filsafat. Membaca dalam studi filsafat berarti membaca untuk memahami. Membaca secara perlahan, berkali-kali, hingga kita bisa mengupas lapisan-lapisan makna yang terkandung dalam bacaan. Proses membaca seperti inilah yang diingatkan oleh para pengajar, juga rekan-rekan yang sudah pernah terlebih dahulu mengenal budaya belajar di kampus ini. 

Menariknya, aku terkaget-kaget sendiri, dengan apa yang ku temukan setiap kali mengulang bacaan. Semacam ada lapisan baru yang hanya bisa ditemukan setelah kita membuka lapisan pertama. Bahkan, ada lapisan dalam yang membutuhkan usaha keras untuk menembusnya. Sebagai gambaran, ada teks berupa buku kecil dengan jumlah halaman hanya kisaran 100. Tapi aku baru sedikit paham setelah membacanya 3 kali. Jadi sebenarnya buku itu bisa dibilang tebalnya 300 halaman, atau lebih. Sungguh, aku tak lagi berani meremehkan buku-buku tipis setelah ini. 

Wajar, sebab memang sebuah teks adalah perwakilan dari kekayaan pemikiran seseorang. Jelas pemikirannya jauh amat lebih luas daripada kesanggupan kata-kata untuk mewakilinya. Ketika sebuah pemikiran dituangkan dalam kata-kata, seketika ia terperangkap, dan kehilangan keleluasaan dari makna aslinya. Itulah sebabnya membaca teks secara permukaan kerap hanya akan menghasilkan kedangkalan pemahaman. Kita perlu lebih tekun dalam menyelami apa makna sejati yang hendak disampaikan oleh sang pemikir. Dan untuk itu, kita mungkin butuh memahami siapa kah dirinya yang sejati. Jika itu tak mungkin, semisal karena keterbatasan informasi yang bisa kita akses, setidaknya kita perlu membaca dengan menggunakan imajinasi, bahwa ia sedang bicara pada kita sebagai seorang manusia yang utuh. Ia bukanlah teksnya semata. Ia adalah keutuhan pribadi yang mencoba menyampaikan maka lewat keterbatasan kata-kata. 

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *