Dari banyak momen yang kita bisa simak bersama, pidato Pak Prabowo menyiratkan seseorang, yang adalah pemimpin dengan kekuasaan sangat besar, namun kehilangan kemampuan untuk membaca realita. Bukan karena tidak bisa, tapi tidak mau. Sebab membaca realita mengandaikan kita, sang pembaca, untuk membuka diri terhadap apa yang nampak di hadapan. Membaca realita menghendaki kita, sang pembaca, […]

Saat mengaji pagi ini, aku sampai pada surat Yusuf. Berkali-kali ku baca surat ini seumur hidupku, selalu saja ada pembelajaran baru yang ku dapat, meskipun tentu saja aku bukan ahli tafsir. Hanya bermodal membaca terjemahannya saja, hikmah kerapkali hadir tanpa disangka-sangka. Kali ini, hikmah itu mungkin bisa dirangkum dalam satu kalimat: bahwa apa-apa yang orang

Belajar dari Kisah Nabi Yusuf: Dari Ketampanan ke KompetensiRead More »

Ada pengalaman mendalam yang belum lama ini ku alami. Pengalaman itu bersambung dari saat aku berangkat dan pulang. Sekira 2 minggu yang lalu, aku melakukan perjalanan ke sebuah daerah yang membutuhkan beberapa kali pergantian moda transportasi. Yang paling signifikan adalah dari pesawat, sambung dengan perahu motor. Perahu motor itu diisi cukup banyak orang dengan tujuan

Hidup dan Mati Itu Tipis BatasnyaRead More »

INLPS bermula dari sebuah mailing list yang isinya adalah pertukaran informasi dan percakapan lewat tulisan. Selain itu, keberadaannya juga ditopang oleh sebuah blog yang isinya juga adalah tulisan. Jadi sejarah INLPS sebenarnya adalah sejarah tulis-menulis. Pada masa yang berbarengan ketika itu, marak pula sebuah blog yang bernama Portal NLP, didirikan oleh Pak Ronny Ronodirjo. Portal

Mari Menuliskan NLPRead More »

Tanggal 3 April 2026 yang lalu, INLPS berusia 19 tahun. Teman-teman mungkin sudah tahu sejarahnya. Dimulai dari mailing list (sepertinya yang kenal hanya generasi milenial) dari tahun ke tahun alhamdulillah kita berkembang sebagai komunitas. Mempertahankan sebuah komunitas tidak mudah, sebab ikatan komunitas adalah ikatan non material. Ikatannya harus emosional, sosial, intelektual. Maka struktur organisasi yang

19 Tahun Indonesia NLP SocietyRead More »

Di lewat tengah Ramadan ini, aku merenungi kisah iblis si pembangkang. Kisah ini, terasa olehku, menunjukkan betapa Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang. Bayangkan, makhluk yang Ia ciptakan, melawan perintahNya secara terang-terangan. Tidak cuma dalam sekali kalimat, tapi terus berlanjut. Iblis tidak mau bersujud. Kemudian melanjutkan dengan sumpah akan menyesatkan manusia. Bayangkan, bayangkan saja. Jika

Mengenali Kasih SayangNyaRead More »

Beberapa hari yang lalu aku mendapat penghiburan. Dalam sebuah kuliah di kampus, dosen kami, Romo Wawan, setelah menanyakan apa yang menjadi fokus riset kami, mengungkapkan sebuah situasi bahwa menyusun disertasi itu memang membutuhkan proses membaca berulang-ulang, dalam kebingungan yang lama, hingga akhirnya bisa memahami. Kurang lebih seperti itu. Dan aku, seketika menimpali dengan, “Itu hal

Penelitian: Usaha Makna dalam Menemukan KataRead More »

Dalam NLP, kita mengenal satu framework yang disebut dengan Neuro-Logical Level (NLL). Kerangka berpikir ini dimaksudkan oleh perumusnya, Robert Dilts, sebagai payung dari berbagai model dan teknik NLP. Singkatnya, intervensi dalam NLP bisa dipahami dalam berbagai area, mulai dari lingkungan, perilaku, kemampuan, keyakinan, identitas, dan spiritualitas. Setiap persoalan di satu level area, jika ingin diatasi,

Identitas Diri dan Ruang Moral bernama SpiritualitasRead More »

Belajar filsafat itu, konsekuensinya, adalah banyak membaca. Bahkan bukan banyak lagi, tapi amat banyak membaca. Dan tidak sembarang membaca, melainkan membaca secara mendalam. Artinya, membaca secara perlahan. Berulang-ulang. Speed reading hampir-hampir tak ada gunanya dalam belajar filsafat. Maka jika ada manfaat yang sangat ku dapatkan dari proses belajar filsafat saat ini adalah memperbaiki keterampilan membacaku.

Belajar Filsafat Sejatinya Berlatih Membaca MendalamRead More »

Jika dirunut-runut, keputusanku belajar filsafat tidak bisa dilepaskan dari pengalamanku belajar Neuro-Linguistic Programming (NLP). Singkat cerita, ilmu psikologi praktis yang ku tekuni sejak 2004 itu kerap dianggap tidak ilmiah, bahkan disebut sebagai pseudosains (sains semu). Anggapan ini terutama muncul karena setiap kali kita melakukan pencarian tentang NLP di peramban seperti Google, yang akan kita temukan

Mengapa Epistemologi? Mengapa Maslow?Read More »