Dekade ini adalah masa ketika istilah passion diperkenalkan dengan amat gencar. Manusia disadarkan akan potensi dirinya, lalu diajak untuk mengenali potensi itu, dan mengembangkannya. Dalam usaha yang kadang berlebihan, ide ini memicu sebagian orang untuk kemudian berani berpindah pekerjaan hanya karena alasan ‘bukan passion saya’—sementara pada saat yang sama masih kesulitan untuk menjawab pertanyaan, “Lalu […]

Carilah pahala akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.  Al Qasas: 77 Inilah umat yang disebut sebagai pertengahan. Yang tak ekstrim

Akhirat dan DuniaRead More »

“Di balik ‘ramah pengguna’, ada ‘ramah nafsu’.” Istilah ‘ramah pengguna’ alias user friendly telah menjadi mantra bagi bisnis belakangan ini. Ia mungkin mempengaruhi lahirnya istilah lain seperti ‘ramah anak’ yang kerap disematkan pada sekolah menjadi ‘sekolah ramah anak’—istilah yang sebenarnya agak mengherankan. Ah, kita bahas lain waktu lah soal sekolah ini. Mari kembali saja ke

Di Balik ‘Ramah Pengguna’Read More »

“Bagaimana hendak memimpin ke masa depan, sedang jalan itu tak tampak di hadapan?” Sebagaimana tak banyak guru pada sekolah formal menyadari bahwa ia adalah pemimpin, belum banyak pula para pemimpin yang menyadari bahwa ia adalah guru.  Kala saya meminta para guru di sebuah sekolah untuk mengangkat telunjuk dan menunjuk pemimpin di ruangan, kebanyakan akan menunjuk

Menjadi Pemimpin, Menjadi PembelajarRead More »

“Menjadi guru adalah menjadi pembelajar.” Saya bukan seorang guru, dalam arti profesi resmi. Posisi resmi saya di kantor—jika saya tidak salah ingat, sebab tak pernah menengok-nengok lagi kontrak 9 tahun lalu itu—adalah professional resources. Nama yang hampir tak pernah digunakan di keseharian. Orang-orang seperti saya lebih sering disebut dan menyebut diri sebagai fasilitator. Sebutan yang

Menjadi Guru, Menjadi PembelajarRead More »

“Salah satu ciri ahli adalah kemampuan mencermati dan menghargai.” Pikiran ini hadir—mungkin lebih tepatnya kembali hadir—saat membaca buku Kecerdasan Semiotik karya Prof. Yasraf Amir Piliang dan Audifax. Lama judul itu ku pertimbangkan tuk dibeli, bukan karena bisa mengira manfaat isinya, tapi karena unik. Kecerdasan kok semiotik. Kecerdasan apa lagi itu?  Semiotika sendiri adalah ilmu yang

Pandemi adalah Momentum Menjadi AhliRead More »

“Rumah kini tak mesti mendidik kita. Sebab tontonan masuk dan mendidik pikiran tanpa permisi.” Mengapa beberapa tahun belakangan kita ribut-ribut pendidikan karakter? Mungkin sebab di dalam hati kita sudah tak tahan dengan bobroknya karakter bangsa, yang tercermin tidak saja di tingkah laku para pemimpin di layar media, tapi juga serampangannya tingkah laku orang di jalanan.

Menata Ulang Rumah KitaRead More »

Sudah agak lama sejak terakhir kali ku tulis artikel Coaching Insight. Bukan karena sudah lama pula aku tak melakukan coaching, tapi karena belakangan aku lebih gemar mencatat pembelajaran secara lebih luas. Namun beberapa waktu yang lalu, sebuah sesi coaching bersama seorang sahabat memicu pikiran ini untuk mencatat kembali. Jadi, mari.  Fokus yang menjadi tujuan adalah

Coaching Insight #9: Meneliti Itu Perlu Revisi Identitas DiriRead More »

“Pemimpin itu lahir dari kita, jadi benihnya pun bermula dari cara kita memilih.” Setelah ku terbitkan artikel bertajuk “Menata Ulang Kota Kita”, seorang sahabat berkomentar, “Jadi terfikir bahwa sejatinya politik pemerintahan itu untuk melayani peradaban, bukan sekedar menyuburkan panggung perselisihan. Seperti yang saat ini marak dipertontonkan. Politik pemerintahan adalah langkah bersama mencapai apa-apa yang dicita-citakan.

Menata Ulang Kriteria Pemimpin KitaRead More »

“Kota adalah tubuh, apa yang kita lakukan bersama adalah jiwanya.” Sekian gubernur pernah berjanji untuk menghilangkan macet dari bumi Jakarta. Sebuah janji yang jelas basi karena kota ini telah macet bahkan sejak aku dilahirkan, selalu bertambah, tak pernah menurun. Ia lengang hanya beberapa hari masa liburan lebaran, ketika penduduknya mudik. Dan ketika mereka kembali, seketika

Menata Ulang Kota KitaRead More »