Dari banyak momen yang kita bisa simak bersama, pidato Pak Prabowo menyiratkan seseorang, yang adalah pemimpin dengan kekuasaan sangat besar, namun kehilangan kemampuan untuk membaca realita. Bukan karena tidak bisa, tapi tidak mau. Sebab membaca realita mengandaikan kita, sang pembaca, untuk membuka diri terhadap apa yang nampak di hadapan. Membaca realita menghendaki kita, sang pembaca, […]
Category: Nasihat Diri
Saat mengaji pagi ini, aku sampai pada surat Yusuf. Berkali-kali ku baca surat ini seumur hidupku, selalu saja ada pembelajaran baru yang ku dapat, meskipun tentu saja aku bukan ahli tafsir. Hanya bermodal membaca terjemahannya saja, hikmah kerapkali hadir tanpa disangka-sangka. Kali ini, hikmah itu mungkin bisa dirangkum dalam satu kalimat: bahwa apa-apa yang orang
Belajar dari Kisah Nabi Yusuf: Dari Ketampanan ke KompetensiRead More »
Ada pengalaman mendalam yang belum lama ini ku alami. Pengalaman itu bersambung dari saat aku berangkat dan pulang. Sekira 2 minggu yang lalu, aku melakukan perjalanan ke sebuah daerah yang membutuhkan beberapa kali pergantian moda transportasi. Yang paling signifikan adalah dari pesawat, sambung dengan perahu motor. Perahu motor itu diisi cukup banyak orang dengan tujuan
Sebutan guru, mengandung dua kata, digugu dan ditiru. Sederhananya, guru adalah orang yang pada dirinya ada kelayakan untuk ditiru. Apa yang ditiru? Tentu saja ilmunya. Tapi tak sekedar ilmu sebagai pengetahuan, melainkan ilmu yang telah menjadi lelaku. Sebab baru ketika ilmu jadi perilaku, ia tampak, hingga bisa ditiru. Sebelum ilmu menjadi tindakan, ia belum bisa
Dalam setiap perayaan Idul Adha, khatib shalat sering mengangkat penggalan kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as sebagai pelajaran. Ayat yang kerap dikutip adalah QS Ash-Shaffat ayat 102 yang terjemahannya adalah sebagai berikut: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah
Belakangan ini berita terkuaknya kasus korupsi sedang ramai. Dari pagar laut hingga Pertamina, kita geleng-geleng kepala dibuatnya, sebab melibatkan banyak orang yang sebenarnya sudah amat sangat kaya, dengan mengorbankan mereka yang miskin. Pertanyaan yang muncul dalam benakku adalah bagaimana asal muasal korupsi ini? Bagaimana seseorang (atau sekelompok orang) terlibat, tega, terencana, terorganisir, berusaha mengeruk kekayaan
Kata profesional berasal dari kata profesi. Menggunakan pemaknaan bebas dari bahasa Inggris, kita mungkin bisa memahami profesi sebagai pekerjaan. Sebagai kata benda, pekerjaan mengandung di dalamnya beragam aktivitas yang berada dalam satu rumpun. Pekerjaan sebagai kasir, misalnya, mencakup rangkaian aktivitas pembayaran yang tak sekedar menerima atau menyerahkan uang. Maka seorang kasir yang profesional adalah ia
“Kekurangan kita, sejatinya memang adalah ruang bagi yang lain tuk mengisinya.” Salah satu ciri khas utama manusia adalah ia berkekurangan. Ia lahir tak lengkap. Maka sepanjang hidupnya ia berusaha untuk bertahan hidup dengan mencari berbagai hal yang melengkapinya. Ia makan agar memiliki nutrisi yang cukup, sebab nutrisinya memang tak pernah cukup. Ia belajar agar memiliki
“Tabiat manusia adalah ingin menguasai.” Tabiat manusia adalah ingin menguasai. Salah satu indikasinya adalah saat manusia memberi nama. Sebelum sesuatu diberi nama oleh manusia, ia ada di sana begitu saja. Ia terlepas dan berjarak. Lalu manusia memberinya nama: bunga, meja, kursi, bintang, angin, dll. Bahkan hal-hal yang sejatinya tak berentitas tetap pun seolah menjadi fix
“Berharganya waktu adalah sebab ia terus bergerak maju.” Berharganya waktu adalah sebab ia terus bergerak maju. Ia tak menyisakan ruang untuk pengulangan. Apa-apa yang tampak berulang adalah ilusi semata. Berkat kecenderungan pikiran kita akan yang sama, maka setiap momen yang sejatinya berbeda seolah hadir dalam keterulangan. Karena tak terulang itu ia berharga. Lantaran ia tak

Recent Comments