Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan begitu (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Al Ankabut: 2-3 Ujian, adalah tanda iman. Tak datang ujian, kecuali tuk menguji keimanan. […]

“Kebenaran itu luas. Kau temukan satu, yang lain telah menunggumu.” Pernah ada yang berkata kebenaran itu relatif. Benar bagi kita, belum tentu benar bagi orang lain. Ini ada benarnya, jika kita tak pernah mengikutsertakan Sang Pencipta dalam memahami kehidupan. Yang lebih tepat barangkali adalah kebenaran itu luas. Demikian luas hingga pikiran ini terlalu terbatas untuk

Kebenaran Itu LuasRead More »

“Dunia hanyalah tempat permainan dan senda gurau belaka. Lalu, apa itu “masalah”? Adakah yang dinamakan sebagai “kesedihan” dan “kegembiraan”?” Dunia dianggap sebagai permainan, sebab pembandingnya yang sungguh lebih besar. Ya, akhirat. Diri yang berpandangan pendek mungkin akan menganggap banyak hal sebagai sesuatu yang besar, padahal ia remah belaka kala dibandingkan dengan yang baka. Bagaimana tidak?

Memandang DuniaRead More »

Sesuatu jadi bersih itu sebab rajin dibersihkan. Maka sesuatu yang kusam, pastilah jarang dibersihkan.  Jiwa kita? Saya teringat beberapa kali pengalaman sehabis pulang kampung pasca lebaran. Lantai rumah yang ditinggal seminggu, biasanya tak bisa segera licin kembali dengan sekali sapu dan pel. Perlu beberapa kali membersihkan, hingga akhirnya lantai berkilau sejernih biasanya. Sungguh berbeda dengan

Beruntunglah yang Menyucikan JiwaRead More »

Agama mengajarkan diri ini tuk terus meluruskan niat. Lama kurenungi, baru belakangan ada setitik jawaban yang begitu berarti. Ya, niat mesti lah terus diluruskan, sebab niat sangat mungkin bengkok. Contohnya begini. Kita ingin pergi ke Jogja. Setelah melalui berbagai pertimbangan, maka dipilihlah kereta api sebagai cara menuju ke sana. Niat yang telah dipasang: pergi ke

Meluruskan NiatRead More »

“Kita adalah jalan, bagi kebaikan atau keburukan.” Setiap hal yang kita kerjakan sejatinya saling terkait. Ia mengalir dari satu masa ke masa lain, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Semisal yang baru  saya sadari ini. Setidaknya sudah 10 tahun sejak pertama kali saya menggeluti dunia pelatihan. Ini adalah jalan hidup yang saya pilih, sebab ia lah

Jalan Bagi KebaikanRead More »

Pagi ini saya termenung kala membaca artikel dari Pak Jamil Azzaini, berjudul “Simpanlah Aibmu”. Ya, sungguh terlalu banyak aib diri ini yang tersembunyi. Diri ini masih dihargai orang lain sebab tertutupinya aib-aib itu. Maka benarlah ajaran yang mengatakan kita tuk tidak mengumbang aib yang sejatinya telah ditutupi olehNya. Simpanlah baik-baik aibmu, sucikan bekasnya dengan air

Jagalah Aib Orang LainRead More »

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al Baqarah: 277) Merenungi ayat ini—berbekal tafsir Zhilal—kupahami cara mudah tuk mendapatkan ketentraman jiwa. Kesirnaan kekhawatiran dan kesedihan dalam menjalani beragam peristiwa hidup. Ia lah melalui

Kunci Ketentraman JiwaRead More »

“Pertumbuhan, terjadi kala diri sibuk melucuti keakuan.” Kita lahir tanpa mengenal diri. Lalu mendewasa dengan keyakinan akan apa nan bisa kita lakukan. Lalu terbitlah keakukan, seiring terkumpulkannya keberhasilan. Selayaknya segala nan berlebihan selalu kehilangan manfaat, begitu pun keakuan, yang perlahan surut maknanya setiap kali ia melewati batas. Pada keakuan, terdapat kemandirian. Namun diciptakannya insan bukanlah

Melucuti KeakuanRead More »

“Uang bisa membeli kebahagiaan, justru kala ia diberikan.” Ya. Di sinilah paradoksnya. Insan mengumpulkan uang, lalu hadir kesenangan. Namun sebagaimana tabiat kesenangan, ia sesaat belaka. Lalu dijadikanlah uang itu alat tuk membeli beragam kenikmatan. Lagi-lagi ia segera terbitkan kesenangan. Dan lagi-lagi kesenangan itu sementara saja. Sebab sejatinya kala uang digunakan untuk membeli, dan pakai sendiri,

Uang Bisa Membeli KebahagiaanRead More »