“Tanamlah doa di kala lapang, agar dikabulkan doa di kala sempit.” Doa ibarat bibit. Kita tak pernah tahu kapan dan seperti apa ia kan dikabulkan. Namun yakinlah bahwa ia pasti tumbuh, sebab janjiNya takkah pernah luput. Dan layaknya bibit, doa yang kita panjatkan mestilah sesuatu yang baik, hingga layak lah kita berharap hasil yang baik […]

“Tidakkah kau lelah, wahai diri, bergelimang dalam dosa, yang nikmatnya selalu hanya sesaat?” Ya, dosa itu melelahkan. Sebab ia bukanlah fitrah dasar manusia, maka berbuatnya selalu menghadirkan kegelisahan. Nikmat? Mungkin. Namun tak pernah lama, melainkan hanya selalu sesaat saja. Kenikmatan dalam dosa, acapkali hanyalah bisikan yang menipu. Jauh dalam lubuk hati setiap insan, tersimpan kerinduan

Dosa Itu MelelahkanRead More »

“Tiap pemimpin selalu memiliki waktu tuk menyendiri. Mengurai makna-makna, membarukan jiwa.” Adalah tabiat diri tuk mengambil waktu menyendiri. Sebab di tengah keriuhan, memang banyak hal berharga dialami, namun sulit bagi diri tuk mengambil hikmahnya. Menyendiri, memungkinkan diri menjaga jarak dengan kenyataan, demi menelaah setiap langkah, dan menyusun mozaik pembelajaran dengan indah. Para pemimpin—dan sejatinya tiap

Pembaruan JiwaRead More »

“Tubuh adalah tentara jiwa. Sucikan jiwa, agar tubuh melangkah di jalan kesucian.” Mudah bagi kita, mengetahui apakah seseorang tersenyum dengan tulus atau tidak. Cukup nikmati senyumannya, dan rasakan apakah ia menggerakkan hati tuk membalasnya dengan ketulusan. Jika tak sedikit pun hati tergerak, maka seindah apapun senyuman itu tampak, sejatinya ia jauh dari tulus. Berapa banyak

Tubuh, Tentara JiwaRead More »

“Berqurban lah sepenuh jiwamu. Agar terputus kecintaan pada apa-apa yang sementara.” Sungguh miris kutengok diriku. Untuk sebuah gadget, hampir tak pernah ku berpikir panjang membelinya, kala memang dibutuhkan dan dana tersedia. Tapi ketika tiba lah seruan untuk berqurban, selalu saja jiwa ini lemah, dan mencari alasan kuat hingga akhirnya bisa melakukannya. Ya, aku pun berqurban,

Berqurban lah Sepenuh JiwamuRead More »

Ya, inilah yang kudapatkan di Ramadhan tahun ini. Mungkin sudah seharusnya kupahami sejak bertahun-tahun lalu. Namun kepandiran yang tak kunjung sembuh ini rupanya baru sedikit terobati di tahun ini. Apa pasal kupahami bahwa puasa mengajariku berkata cukup? Sebabnya sederhana. Tiap kali menjelang berbuka puasa, nafsuku, yang sejatinya sedang terbebas dari godaan setan itu, terus bergejolak

Puasa Mengajariku Berkata, “Cukup!”Read More »