Segala tempat bergantung, selama ia makhluk, pasti akan musnah. Maka bergantung pada makhluk, lalu merasa goyah, adalah sebuah keniscayaan. Bergantunglah pada Dzat yang takkan lemah, yang menjadi sandaran segala makhluk, suka atau tidak, sadar atau tidak. Selain itu disukaiNya, jiwamu pun kan tenteram karenanya. Kala sesuatu digantungkan pada tempat yang lebih tinggi, mudah memahami hakikat […]

“Risaulah pada yang tak pasti. Jangan merisaukan yang telah pasti.” Sungguh rezeki telah pasti. Tuhan telah janjikan, jika diri ini tak percaya, lalu pada siapa lagi hendak percaya? Bukankah kala seseorang telah menjanjikan dengan kepastian, kita bisa merasakan tenangnya hati? Padahal ia hanya lah insan biasa, nan jauh tak berdaya dibanding Penciptanya. Maka kerisauan akan

Kerisauan yang BermanfaatRead More »

“Bila kau ingin belajar hakikat tawakal,” tutur Amr Khaled, dalam karyanya Akhlaq al-Mu’min, “perhatikanlah kisah hijrah Nabi saw.” Dalam hijrah, ternyata beliau tak sekedar berjalan pasrah mengharapkan perlindungan Allah. Ya, memang harapan itu ada. Tapi perhatikan sederetan, ya sederetan, strategi yang beliau siapkan.

“Keinginanmu untuk pasrah sebelum menyempurnakan usaha bisa jadi merupakan kekufuran yang samar. Sementara keteguhanmu untuk berusaha tanpa mengindahkan kepasrahan bisa jadi merupakan kesombongan terselubung. Keindahan hidup terjadi ketika keduanya berjalan dengan harmonis.” Di atas adalah terjemahan bebas dari salah satu hikmah yang diuraikan Syaikh Ibnu Athaillah dalam kitab beliau, Al Hikam. Kitab yang tampak tipis

Kekufuran dan Kesombongan yang SamarRead More »