Ini adalah pertanyaan lanjutan yang cukup sering ku terima setiap kali orang tahu kalau aku kuliah formal filsafat. Sejujurnya, waktu kuliah S1 pun aku tak tahu apa guna filsafat. Kuliah 2 SKS saat itu tak membekas, mungkin karena aku terlalu muda, mungkin juga karena memang yang ku pelajari saat itu baru sekedar pengantar. Lalu, setelah menuntaskan S2, dan kini lanjut S3, apakah aku bisa menemukan manfaatnya?
Seharusnya iya dong. Masak repot-repot melanjutkan studi kalau tidak bermanfaat. Tapi jawabannya memang tidak sesimpel yang kalian kira. Artikel ini ku tujukan pada kalian yang awam filsafat. Jadi aku akan berusaha menerangkannya dalam bahasa yang seawam mungkin. Toh, aku sendiri masih awam juga.
Jadi begini. Pertanyaan ‘apa manfaat filsafat’, sebenarnya merupakan pertanyaan yang khas dari orang di era ini. Pertanyaan yang ingin jawabannya berupa sesuatu yang praktis dan konkrit. Apa manfaat dari ChatGPT? Mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang langsung diracik jadi jawaban praktis. Apa manfaat kopi? Menghilangkan kantuk. Apa manfaat mobil? Mengantarkan kita berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan nyaman. Dengan orientasi jawaban seperti ini, memang filsafat jadi tidak langsung kelihatan manfaatnya. Bahasan filsafat yang mungkin masih bisa memberikan jawaban praktis seperti itu mungkin ada, tapi tidak banyak. Misalnya, logika. Belajar logika akan langsung memberikan kita manfaat nyata, karenanya logika—meski tidak disadari sebagai materi filsafat oleh banyak orang awam—masuk di setiap bidang ilmu, bahkan sudah diperkenalkan sejak sekolah menengah. Bidang lain mungkin adalah etika, terutama salah satu pemikiran yang populer belakangan ini, Stoikisme. Pemikiran ini memang relatif praktis, setidaknya sebagian kecil yang diperkenalkan misalnya oleh Massimo Pigliucci, Ryan Holiday, dan di Indonesia Henry Manampiring denga Filosofi Terasnya. Sebagian kecil? Ya, karena aslinya stoikisme itu luas dan tak semua praktis juga.
Nah, untuk memahami manfaat filsafat lebih luas, mungkin kita perlu menggunakan sebuah metafora: bangunan. Bangunan, rumah atau gedung, itu memiliki dua bagian besar. Yang terlihat adalah lantai hingga atap, yang tak terlihat adalah fondasi. Saat sebuah rumah jadi, maka pemilik dan penggunanya akan sibuk berurusan dengan apa yang bisa membuat lantai hingga atap itu bermanfaat dan indah. Tapi kita semua tahu, kalau keindahan dan kegunaan segala sesuatu yang ada di lantai hingga atap, yang terlihat itu, tidak akan bisa berdiri jika fondasi yang tidak terlihat itu rapuh. Kita tentu sudah sering mendengar berita bangunan yang roboh karena tak kuat sejak fondasinya, bukan? Kegunaan dan keindahan apa yang yang tampak di atas, sejatinya berdiri di atas fondasi yang kokoh. Karenanya, seorang pemilik rumah tak bisa sembarangan menambah jumlah lantai dari rumahnya. Ia mesti meminta bantuan ahli bangunan untuk memperkirakan kekuatan fondasi yang ada di bawah, adakah sanggup untuk menanggung beban lantai baru. Jika tak sanggup, maka bangunan itu perlu dibuat ulang sejak fondasinya.
Dalam pemikiran, dan terutama ilmu pengetahuan, filsafat itu seperti fondasi. Ia ada di bawah dan mendasari berbagai teori yang kita gunakan sehari-hari. Saat teori sudah banyak tersedia, filsafat seolah tak tampak lagi. Hanya ketika teori-teori yang ada sudah tidak lagi bisa digunakan karena tidak relevan, maka fondasi itu perlu ditelusuri, bahkan dibangun kembali.
Misalnya, aku ambil contoh dalam bidang yang ku sedikit tahu saja, psikologi. Dalam psikologi barat, ada setidaknya tiga mazhab besar yang lahir karena proses pembongkaran filosofis yang radikal. Behaviorisme, misalnya, mengkritik psikoanalisis dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukan para psikoanalis kurang kokoh menurut standar ilmiah. Karena ilmiah bagi para behavioris artinya adalah membangun ilmu pengetahuan berbasis bukti nyata yang empiris, sehingga membutuhkan operasionalisasi apa-apa yang abstrak menjadi definisi yang konkrit, agar kemudian bisa diteliti secara eksperimental. Tidak heran jika kemudian behaviorisme banyak melakukan penelitian pada hewan, dan berusaha mengaplikasikan temuan mereka pada manusia. Humanistik, di kemudian hari, mengkritik psikoanalisis dan behaviorisme sebagai baru mampu menjelaskan separuh dari manusia, yakni yang bermasalah dan yang dipengaruhi lingkungan saja. Abraham Maslow dan kawan-kawan, meyakini bahwa sejatinya ilmu psikologi seharusnya melihat manusia dalam keutuhannya yang paling tinggi, yakni manusia yang paling sehat.
Perkembangan mazhab ini terjadi, didahului dengan kritik yang amat mendalam terhadap unsur filosofis dari psikologi yang ada pada setiap era, sebelum akhirnya melahirkan metode dan teori-teori baru yang bisa digunakan kemudian. Yang kita nikmati adalah teori yang sudah jadi, tapi aslinya diawali dengan membongkar asumsi-asumsi yang mulanya tidak disadari. Dan itu adalah pekerjaan filsafat.
Tapi kan, yang melakukan itu bukan filsuf? Ahli dalam bidang itu sendiri.
Ya, betul. Tidak semua yang melakukan proses pembongkaran filosofis itu merupakan filsuf dalam arti orang yang mendalami filsafat secara formal. Tapi mereka sejatinya adalah orang yang mempraktikkan filsafat dalam bidang mereka. Karena kedalaman refleksi filosofisnya, yang mereka lakukan sejatinya tak lagi sesuatu yang sekedar ‘saintifik’, melainkan filosofis. Einstein, misalnya, bukan hanya seorang fisikawan, tapi juga filsuf ilmu pengetahuan. Apalagi, dalam sejarah, sebelum era modern, belum dibedakan antara filsuf dan ilmuwan. Pada masa lalu, orang yang ahli dalam bidang ilmu apapun seringkali disebut dengan filsuf saja. Baru di era ketika ilmu semakin spesifik bahkan renik, filsafat seolah menjadi bidang terpisah dari apa yang sekarang disebut dengan sains.
Jika kalian membaca artikelku sebelumnya, maka manfaat filsafat setidaknya bisa ditemukan pada beberapa area. Dalam area epistemologi, filsafat memberikan pendasaran pada proses pembentukan metode yang digunakan oleh tiap ilmu untuk membangun dan mengembangkan ilmunya. Setiap ilmu pasti memiliki metode ilmiahnya masing-masing, dan metode ilmiah itu dibangun lewat diskursus epistemologis.
Dalam praktiknya, sebuah ilmu pasti perlu dipraktikkan secara bertanggung jawab, agar tidak merugikan kehidupan. Ilmu kedokteran, misalnya, perlu diatur agar mencapai tujuannya menyelamatkan manusia, dan bukannya malah membahayakan. Maka ilmu kedokteran—dan ilmu-ilmu lain yang sudah mapan—pasti memiliki kode etik. Dan kode etik itu dibangun atas dasar diskursus dalam area etika.
Di bidang-bidang ilmu yang menyangkut keindahan, seni dan sastra misalnya, pasti terlebih dahulu didiskusikan tentang apa yang indah itu. Ini adalah diskursus filosofis di ranah estetika. Para praktisi seni yang tak mempelajari apa yang indah terlebih dahulu, biasanya akan menghasilkan karya yang itu-itu saja, sebab hanya mengikuti standar estetika tertentu yang sedang berlaku saat itu. Untuk menghasilkan kebaruan, novelty, pasti ia perlu menelusuri dahulu apa yang indah, dan bagaimana yang indah itu bisa dikembangkan. Di atas fondasi keindahan tertentu itulah kemudian dibangun tren seni yang baru. Maka sepanjang sejarah kita mengenal ragam seni yang berbeda secara signifikan, disebabkan oleh fondasi standar keindahan yang berkembang terlebih dahulu.
Sementara itu,dalam bidang manajemen bisnis, mengapa berkembang praktik yang disebut dengan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility)? Dulunya kan tidak ada. Secara hitung-hitungan bisnis saja juga tampak seperti mengeluarkan biaya yang menggerus keuntungan. Tapi istilah tanggung jawab sosial merupakan istilah yang sangat beraroma ranah etika dalam filsafat. Jika para praktisi manajemen belajar mata kuliah Etika Bisnis, nah, yakinlah bahwa ia lahir dari diskursus soal etika, soal apa yang baik dan benar dalam bisnis. Bisnis yang awalnya murni kapitalis, belakangan perlu menyesuaikan diri dengan peraturan-peraturan seperti upah minimum regional (UMR) yang lahir dari diskursus yang bernuansa sosialis.
Belum lagi dunia pendidikan. Pendidikan yang bertujuan membangun manusia untuk kemajuan bangsa perlu terlebih dahulu mendiskusikan mengenai manusia seperti apa yang perlu dibangun. Dalam konteks manusia Indonesia, bahkan pertanyan itu perlu didahului dengan pertanyaan soal Indonesia itu yang seperti apa? Lalu manusia Indonesia itu manusia yang seperti apa? Jawaban yang sementara muncul akan menentukan desain pendidikan yang disusun oleh pemerintah, diikuti oleh insititusi pendidikan menjadi kurikulum dan rencana pembelajaran sehari-hari.
Oke, sampai di sini dulu. Nah, menurutmu, membaca di titik ini, apa manfaat filsafat?
