Dalam NLP adalah satu kerangka berpikir yang disebut dengan Neuro-Logical Level (NLL). Ini adalah kerangka berpikir yang, oleh perumusnya Robert Dilts, dimaksudkan sebagai unified field theory of NLP. Sebuah teori yang akan merangkai banyak teknik dan model yang tersedia dalam NLP. Model yang dikembangkan dari teori logical level karya Gregory Bateson ini mengajak kita untuk memahami adanya berbagai level dalam pola pikir kita, yang tiap level saling mempengaruhi satu sama lain. Misalnya, saat kita sedang mempersoalkan kamar yang berantakan, kita sedang berpikir di level lingkungan. Agar kamar berantakan itu berubah menjadi lebih rapi, kita perlu berpikir di level yang berbeda, yakni perilaku. “Yuk, beresin kamarnya, dimulai dari merapikan ulang tempat tidur, menata kembali barang-barang, hingga menyapu dan mengepel lantainya.” Level perilaku, dalam NLL, berada satu level di atas level lingkungan. Dan untuk menyelesaikan persoalan—atau sekedar mengubah—sesuatu di satu level, kita perlu setidaknya berpikir satu level di atasnya. Demikian kata Dilts. Level-level itu dari bawah hingga atas adalah: Lingkungan, Perilaku, Kemampuan, Keyakinan, Identitas Diri, dan Spiritualitas.
Semua level ini ada dalam pikiran kita, dan karenanya berjalan atau tidaknya sebuah perilaku merupakan penanda adanya keselarasan atau ketidakselarasan. Jika seseorang rutin merapikan kamarnya, maka tidak saja ia akan tampak rutin melakukannya (perilaku), ia juga memiliki kemampuan, keyakinan, identitas diri, dan spiritualitas yang selaras. Sebaliknya, jika ia malas-malasan untuk merapikan kamar, itu berarti ada satu atau lebih dari pemikiran di level-level tersebut yang tidak selaras. Misalnya, ia ingin merapikan kamar, tapi kesulitan untuk memasang seprai. Dipasang di satu ujung, lepas ujung yang lain. Dan ia belum menemukan cara yang efektif untuk memasangnya sendirian. Ia belum memiliki kemampuan yang memadai. Jadilah perilaku rutin membereskan kamarnya belum terbentuk. Ditambah lagi, rupanya ada keyakinan yakni, “Ah, kamar aku tinggali sendiri ini. Nggak rapi juga nggak apa-apa. Lebih baik aku leyeh-leyeh istirahat, kan udah seminggu kerja.” Makin kuatlah perilaku bermalas-malasan di kamarnya, makin tidak terjadilah kebiasaan membereskan kamarnya.
Nah, belakangan ini, aku mendapati, bahwa level identitas diri itu rupanya amat kuat mempengaruhi perilaku seseorang, terutama jika menyangkut keterampilan yang kompleks, seperti kepemimpinan. Dalam The Leadership Pipeline, Ram Charan dan Stephen Drotter menulis bahwa ada beberapa level kepemimpinan yang umum dimiliki oleh organisasi, agar organisasi berjalan berkelanjutan setiap level kepemimpinan harus terisi, sedangkan setiap level membutuhkan seperangkat kemampuan dan tindakan untuk membuat posisi kepemimpinan efektif. Buku ini dengan amat komprehensif menguraikan apa saja yang perlu dilakukan dan dikuasai oleh para pemimpin agar sukses, mulai dari memimpin diri, memimpin orang lain, memimpin fungsi, memimpin bisnis, hingga memimpin grup usaha.
Aku sungguh menyukai buku ini. Menurutku, buku ini sungguh merupakan buku yang belum ada saingannya. Tapi kalau dipikir-pikir, isinya bukan hal yang sulit untuk diketahui oleh para pemimpin. Pertanyaannya, mengapa tidak semua pemimpin menguasai dan menjalankannya? Mengapa kenyataannya, banyak pemimpin tim yang masih berperilaku seperti pemimpin diri saja? Mengapa masih saja ada seorang pemimpin fungsi dan pemimpin bisnis yang bertindak layaknya pemimpin tim saja?
Meninjau ulang kembali NLL, ku sadari bahwa persoalannya bisa jadi ada dua.
Pertama, memang para pemimpin itu belum mengetahui dan menguasai apa saja yang perlu dilakukan di posisi barunya. Ia menganggap, apa yang membuatnya sukses dipromosi adalah hal yang sama yang akan membuatnya sukses juga di peran baru. Sebuah pola ikir yang wajar, bukan? Sayangnya, meminjam Marshall Goldsmith, what got you here, won’t get you there. Apa yang berhasil membuat kita dipromosi kemarin, belum tentu akan membuat kita sukses di keesokan hari. Menggunakan kerangka berpikir NLL, maka para pemimpin itu belum menguasai apa yang dibutuhkan di level kemampan, sehingga mereka belum bisa mempraktikkan perilaku baru yang harusnya mereka lakukan.
Kedua, pun jika sudah mengetahui, mempelajari dan mempraktikkan tak mudah, sebab kemampuan dan perilaku yang baru menghendaki pola pikir di level keyakinan, identitas diri, dan spiritualitas yang berbeda. Seseorang yang baru saja dipromosi menjadi pemimpin tim, misalnya, pun jika ia tahu cara melakukan coaching-mentoring, baru akan meluangkan waktu untuk sungguh-sungguh melakukannya, hanya ketika ia memiliki keyakinan baru bahwa ia harus mencapai hasil lewat terbangunnya kapabilitas tim (karenanya perlu ia latih) dan juga ia perlu melihat diri sebagai guru atau orang tua bagi timnya. Timnya adalah ‘anak-anak’ yang memang perlu ia didik, dan tak sekedar ia tagih pencapaiannya. Jika mereka belum bisa mencapai hasil secara optimal, itu artinya aku harus melatihnya, karena akulah ‘guru dan orang tua’ mereka.
Sampai di sini, pertanyaan yang muncul adalah: Apa susahnya mengubah pola pikir? Kan tinggal diubah saja.
Nah, itu masalahnya. Dalam NLP, kita tahu bahwa mengubah pola pikir itu sungguh tidak mudah. Tidak saja seseorang perlu menambah wawasan yang mungkin belum dimiliki, tapi juga ia perlu menata ulang keseluruhan desain dirinya yang lama, menjadi seseorang yang baru. Mengubah pola pikir di level keyakinan, identitas diri, dan spiritualitas, biasanya membutuhkan pendampingan seorang mentor atau coach. Sungguh jarang perubahan signifikan ini bisa dijalani sendirian. Mungkin bisa, tapi hanya untuk segelintir orang. Sebab keyakinan dan identitas diri yang lama itu telah melayani kita sekian lama, dan amat besar manfaatnya. Jadi ia bukannya tidak berguna, melainkan tidak lagi memadai di peran yang baru ini.
Jadi, jika Anda merasa stuck sebagai pemimpin, mungkin Anda membutuhkan bantuan seorang coach untuk mendampingi perjalanan pertumbuhan diri Anda. Sebab kalau tidak, ada kemungkinan Anda akan terjebak di cara lama, untuk sesuatu yang sejatinya membutuhkan cara baru.
