Penelitian: Usaha Makna dalam Menemukan Kata

Beberapa hari yang lalu aku mendapat penghiburan. Dalam sebuah kuliah di kampus, dosen kami, Romo Wawan, setelah menanyakan apa yang menjadi fokus riset kami, mengungkapkan sebuah situasi bahwa menyusun disertasi itu memang membutuhkan proses membaca berulang-ulang, dalam kebingungan yang lama, hingga akhirnya bisa memahami. Kurang lebih seperti itu.

Dan aku, seketika menimpali dengan, “Itu hal yang lumrah berarti ya?”

Beliau menjawab, “Ya. Dosen saya dulu, ahli Hegel, pernah mengungkapkan kepada kami mahasiswanya kalimat yang kira-kira adalah, ‘Saya tidak bisa mengatakan bahwa filsafat itu mudah. Filsafat itu sulit. Sebab pemikiran yang kita teliti dan sedang berusaha kita pahami itu sejatinya sedang mencari kata-kata yang tepat untuk mewakilinya.’”

Ah, betapa pas rasanya ungkapan itu. Pemahaman, sepenangkapanku adalah tanda ketika ilmu mengambil tempat dalam diri kita. Diri, bukan hanya pikiran. Manusia era ini kerap mereduksi banyak hal sebagai pikiran semata. Padahal diri itu jauh lebih luas daripada pikiran. Kita memahami sesuatu ketika ilmu telah menjadi bagian dari diri, bahkan melewati diri. DIsebut melewati diri adalah ketika ilmu yang telah dipahami itu bisa setidaknya diceritakan kembali. Ia bisa diceritakan kembali karena ia telah ada dalam diri. Menjadi bagian diri. Menjadi ‘milik’ diri. Kita tak bisa mengeluarkan apa-apa yang tak kita miliki.

Ya, pemahaman, mungkin bisa disederhanakan sebagai kepemilikan. Aku memahami sesuatu, artinya aku telah memiliki pemahaman akan sesuatu. Sesuatu itu setidaknya telah ku kuasai.

Persoalannya, manusia hidup dalam dunia yang simbolnya adalah bahasa. Kita bertukar pikiran dan perasaan lewat bahasa. Bahasa dalam keseluruhannya. Pemahaman yang telah menjadi bagian dari diri itu, entah seperti apa bentuk aslinya. Saat dipertukarkan, ia memerlukan medium. Medium itulah bahasa. Karenanya, pemahaman itu perlu mengubah bentuk kembali menjadi kode-kode bahasa. Kode-kode bahasa itulah kata dan kalimat. Maka kita kerap menemui persoalan. Pertama, bisa jadi kita kesulitan memahami, sebab keterbatasan bahasa yang kita miliki. Tak ada medium yang cukup pas untuk mewakili makna yang ingin kita pahami. Kedua, bisa jadi juga makna itu mengalami perubahan ketika ia ‘dipaksa’ untuk diantarkan melalui medium yang berbeda. Kata sedih dalam bahasa Indonesia, memiliki banyak kemungkinan padanan dalam bahasa Inggris (sad, grief), padahal tiap kata itu sendiri mengandung nuansa makna yang berbeda-beda. Ilmu sebagai esensi, terpaksa menggunakan ‘baju’ bahasa yang lain, yang mengubah tampilannya.

Itulah sebab, mungkin, bahwa mempelajari filsafat memang membutuhkan ketekunan dalam membaca dan menulis. Membaca secara mendalam, dalam rangka mengurai makna-makna yang terkandung dalam sekadar kata-kata yang tertuang dalam teks. Jelas makna itu jauh lebih luas daripada teks yang mewakilnya. Menariknya, semakin ditelusuri, semakin makna itu membuka dirinya. Tapi memang membutuhkan kesabaran. Menulis secara cermat, dalam rangka menguraikan kembali apa yang dipahami sehingga ia bisa dikembangkan.

Makna yang berusaha menemukan kata-kata. Betapa indah ungkapan ini. Seperti rasa mangga yang tak pernah bisa diwakili oleh kata manis. Rasa itu secara utuh baru bisa dipahami oleh yang memakannya sendiri. Manis hanyalah sekadar perwakilan atas keutuhan pengalaman mencecap. Tapi pengalaman mencecap, selalu jauh lebih kaya daripada kata manis. Padahal rasa manis itu sendiri memiliki basis pengalaman inderawi. Apatah lagi makna-makna yang jauh dari sensasi mata-telinga? Memahami soal ‘ada’, misalnya, jelas membutuhkan ketekunan. Bagaimana ‘ada’ bisa dipahami? Jika Teddi itu ada, maka ada itu sendiri apa? Mengapa Teddi bisa di’ada’kan? Bahkan ketika Teddi tak tampak di hadapan, dalam tataran tertentu, ia masih bisa dianggap ‘ada’.

Penelitian, dengan demikian, memang proses perlahan. Ada istilah baru, slow research. Sebuah ajakan untuk melakukan penelitian secara perlahan, sebagai antidot dari riset terburu-buru sebab ingin segera terbit dalam jurnal. Padahal, bukankah sejatinya riset itu re-search? Mencari ulang. Mencari berulang-ulang. Jadi memang ia usaha perlahan, sabar, tekun. Usaha perlahan membiarkan makna menemukan kata.

Ya, dipikir-pikir, ini tidak hanya berlaku untuk filsafat sih. Semua ilmu sejatinya begitu. Buatmu yang sedang menekuni jalan ilmu, tak usah berpacu dengan waktu. Ilmu yang berarti memang perlu waktu untuk menampakkan diri.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *