Jika menjadi seorang pemimpin berarti menjadi guru dan orang tua bagi timnya, bagaimana seseorang menumbuhkan dirinya sebagai pendidik?
Seorang pendidik, pertama-tama, perlu meyakini bahwa anak didiknya memang bisa dididik. Artinya, mereka memiliki potensi. Ada hal tersembunyi, bibit, yang perlu ditanam, dirawat, sebelum akhinya kelak menjadi pohon yang rindang dan berbuah ranum. Tanpa keyakinan ini, seorang pendidik takkan mau meluangkan waktunya untuk repot-repot mengajari. Tengoklah orang yang memiliki hewan peliharaan. Ia gemar bermain bersama hewan itu, tapi tak pernah mau susah payah menyekolahkannya ke SD hingga kuliah. Mengapa? Ya karena tak punya keyakinan bahwa hewan itu, sebagus dan selucu apapun, punya potensi untuk berkembang. Maka pemimpin yang ingin menjadi pendidik , pertama-tama perlu meyakini bahwa timnya memiliki potensi. Potensi itu bisa jadi masih tersembunyi, sehingga memang memerlukan waktu dan usaha untuk memunculkannya. Belum lagi menumbuhkannya. Bagian tugas pemimpin adalah membantu timnya mengenali, menemukan, dan mengembangkan potensi tersebut.
Kedua, seorang pendidik, meyakini bahwa pendidikan adalah selalu adalah perjalanan. Jika untuk menyiapkan seorang anak menghadapi dunia kerja saja, ia perlu didik dari TK hingga universitas—itu artinya 19-20 tahun—maka mendidik seorang karyawan agar kompeten tentunya membutuhkan waktu. Tentu, karyawan telah melalui jenjang pendidikan dasar. Tapi kan memang dunia nyata di organisasi tak pernah sama dengan dunia kala ia masih sekolah. Apalagi situasi selalu berubah. Organisasi tak pernah statis. Begitupun sang karyawan, sejatinya merupakan manusia yang hingga akhir hayatnya tak pernah berhenti bertumbuh. Psikologi menyebut proses ini sebagai life span development, perkembangan sepanjang hayat. Maka tak realistis menganggap orang yang sudah lulus kuliah akan bisa beradaptasi dengan perkembangan keadaan begitu saja. Ia pasti memerlukan proses pembelajaran berkelanjutan. Kenyataannya, organisasi yang keberhasilannya berkelanjutan sangat serius menggarap program pengembangan seperti ini.
Karena pendidikan adalah perjalanan, maka sekolah membuat kurikulum, dan menyusunnya secara bertahap dalam rentang waktu yang realistis. Pendidikan dasar sejauh ini membutuhkan 6 tahun. Mempelajari aljabar sebelum kalkulus. Alih-alih menjejali murid dengan seluruh pelajaran, materi dibuat bertahap dan berkesinambungan, dengan jarak evaluasi semester. Ini adalah logika pendidik. Meyakini bahwa proses pendidikan selalu memerlukan waktu dan butuh kontinyu. Karenanya, pemimpin sebagai pendidik perlu menyusun dengan cermat pula perjalanan pendidikan yang perlu dilalui timnya hingga mereka bisa mencapai taraf kompetensi tertentu.
Ketiga, seorang pendidik, melihat keberhasilan dan kegagalan sebagai titik pijak. Murid yang saat dievaluasi berhasil mencapai apa yang diharapkan, maka siap untuk diberi pelajaran selanjutnya. Mereka yang belum berhasil, diajari ulang, dikokohkan kembali pemahamannnya, diberi masukan, diajak melakukan perbaikan. Begitupun pemimpin sebagai pendidik, evaluasi kinerja bukan semata momentum pemberian bonus atau sanksi, tapi momentum untuk mengajak tim menyadari perjalanan pembelajaran yang telalh dilalui. Mereka yang berhasil , disiapkan tantanggan dan pembelajaran yang lebih tinggi. Yang belum? Diberi masukan, diajak introspeksi, lalu memperbaiki diri.
Di titik inilah, sejatinya potensi seseorang menjadi pemimpin sudah bisa dikenali. Mereka yang meski tak punya posisi pimpinan tapi sudah menunjukkan tindakan kepemimpinan, yakni tindakan menjadi guru atau mentor bagi orang lain. Yang memiliki naluri mengajari, kemungkinan memiliki potensi sebagai pemimpin. Yang tidak, ya bukan tidak bisa sama sekali, melainkan perlu menyadari bahwa ia perlu menumbuhkan diri sebagai guru jika memang menghendaki jalur karir sebagai pemimpin.
