Jika dirunut-runut, keputusanku belajar filsafat tidak bisa dilepaskan dari pengalamanku belajar Neuro-Linguistic Programming (NLP). Singkat cerita, ilmu psikologi praktis yang ku tekuni sejak 2004 itu kerap dianggap tidak ilmiah, bahkan disebut sebagai pseudosains (sains semu). Anggapan ini terutama muncul karena setiap kali kita melakukan pencarian tentang NLP di peramban seperti Google, yang akan kita temukan pertama-tama memang artikel dari Wikipedia. Dan artikel itu, menyebutkan di bagian awal salah satu kelemahan NLP adalah keilmiahannya. Menarik, bahwa banyak dosen tidak akan mengizinkan mahasiswa menulis skripsi dengan mengutip referensi dari Wikipedia tanpa menelusuri lebih lanjut, tapi dalam hal ini entah mengapa soal NLP banyak yang percaya artikel itu. Beberapa praktisi NLP telah melakukan protes terhadap artikel tersebut, tapi rupanya artikel itu tetap saja sebagaimana adanya.
Karena agak bosan menjawab soal keilmiahan ini, aku pun terpikir untuk bertanya lebih lanjut, apa sebenarnya yang disebut dengan ilmiah itu? Bagaimana sebuah ilmu dapat dikatakan ilmiah atau tidak? Jika keilmiahan ditandai dengan penelitian dengan menggunakan metode dan metodologi tertentu, bagaimana metodologi dan metode itu dirumuskan? Atau lebih tepatnya, bagaimana sebuah metode ilmiah, menjadi dianggap ilmiah?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini rupanya memang bukan pertanyaan di ranah sains. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan di ranah filsafat, utamanya filsafat ilmu, atau lebih besarnya epistemologi. Bagi yang belum tahu, epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang bagaimana kita mengetahui sesuatu. Singkatnya, bagaimana pengetahuan kita dibangun? Jadi, ilmu pengetahuan tentang ilmu pengetahuan itu sendiri.
Dalam epistemologi, dipelajari misalnya perbedaan pandangan antara empirisisme dan rasionalisme. Empirisisme adalah pandangan yang mengatakan bahwa apa yang kita ketahui selalu berbasis pada apa yang secara empiris bisa diindera. Inilah kata yang kerap digunakan oleh para ilmuwan ketika mengatakan ‘mana bukti empirisnya?’. Masalahnya, apa yang bisa diindera pada kenyataannya tidak bisa dimaknai atau diketahui jika kita tidak memiliki konsep apapun dalam nalar kita. Bukti tes kecerdasan itu secara empiris hanyalah angka-angka hasil tes. Seorang psikolog bisa memaknai angka-angka itu sebagai kecerdasan karena ada konsep tentang kecerdasan dalam pikirannya. Begitu pula hasil tes rontgen. Secara empiris hanyalah tampak serupa arsiran. Nalar dokter dengan konsep di pikirannya lah yang membuatnya bisa memahami apa yang terjadi dalam tubuh pasiennya.
Itu baru dua pandangan. Masih banyak perdebatan lain dalam epistemologi, sehingga menetapkan sesuatu sebagai ilmiah atau tidak memang merupakan kerja kompleks. Singkat cerita, kalau sekarang aku ditanya apakah NLP itu ilmiah, dengan cepat akan ku jawab: iya. Buktinya? Risetnya sudah banyak. Cari saja riset tentang NLP, banyak. Ah, tapi katanya beberapa riset itu tidak terbukti valid. Sudah baca detil belum apa yang diteliti? Sebab apa yang tidak terbukti, tidak serta merta perlu kita buang begitu saja. Setiap peneliti selalu menyisakan ruang keterbatasan penelitian dalam tulisannya. Riset yang paling canggih sekalipun selalu mengandung keterbatasan. Tidak ada yang sempurna. Jadi ruang kekurangan itu lumrah. Justru jadi peluang penelitian selanjutnya. Apalagi, apa yang belum dibuktikan itu tidak sama dengan tidak terbukti. Jika ada konsep dalam NLP yang belum ada penelitiannya, bukan berarti ia tidak ilmiah dan karenanya pseudosains. Ia hanyalah belum dibuktikan. Justru itu jadi peluang untuk dibuktikan.
Kira-kira begitulah jawaban singkatnya.
Lalu bagaimana dari epistemologi jadi ke Maslow?
Kisaran 2007-2008, salah seorang praktisi dan pengembang NLP bernama L. Michael Hall, menulis dua buah buku yang menjadi titik balik bagiku untuk belajar kembali psikologi, utamanya pemikiran Abraham Maslow. Dua buku itu adalah Unleashed dan Self Actualization Psychology. Singkatnya, dari buku itu aku mendapat perspektif menarik tentang sejarah NLP, yang bisa dirunut kepada pemikiran psikologi humanistik yang digagas oleh Maslow. Aku pun jadi ingin membaca karya-karya Maslow secara langsung. Tercenganglah aku saat mendapati bahwa Maslow tidak saja memiliki pemikiran psikologi yang menarik (apa yang ia rumuskan secara agak spekulatif pada masa itu kini jadi banyak topik penelitian), ia juga memiliki pemikiran filosofis yang mendalam, utamanya dalam epistemologi. Tidak banyak pembelajar psikologi yang tahu kalau Maslow menulis buku The Psychology of Science yang berisi pemikiran epistemologinya. Membaca karya-karya Maslow secara langsung membuka pemahaman baru bahwa rupanya Maslow tidak ingin mengkritik dan menyingkirkan psikoanalisis dan behaviorisme. Psikologi humanistik justru sejatinya adalah sintesis dari keduanya. Sebuah alternatif ketiga (meminjam Covey) yang mencakup keduanya. Dalam bahasa Maslow, psikologi yang ada pada saat itu baru menjelaskan separuh dari manusia, yakni sisi negatif dan mekanisnya, kita perlu melengkapi dengan separuhnya lagi, yakni sisi positifnya.
Pemikiran epistemologi Maslow, misalnya, meletakkan dasar bagi lahirnya penelitian kualitatif dalam psikologi. Mengapa kita bisa menganggap metode wawancara itu sebagai metode yang valid dalam penelitian? Mengapa kata-kata dari responden bisa kita terima sebagai kebenaran? Ya karena ada pengandaian epistemologis di sana. Tidak seperti Freud yang merasa perlu menafsirkan perkataan klien selayaknya menafsirkan simbol, psikologi humanistik berangkat dari pengandaian bahwa apa yang dialami oleh orang yang sehat itu mengandung kebenaran dalam dirinya. Apa yang dialami oleh seseorang adalah kebenaran eksistensial. Kita tidak bisa mengempiriskan (mengindera) perasaan cinta, misalnya, tapi bukan berarti kita bisa menafikan adanya perasaan cinta dalam diri manusia, bukan?
Ah, detilnya ada di buku terbaruku. Baca saja di sana ya.
