Bahasa adalah cara manusia menyampaikan pikiran dan perasaannya. Lebih jauh, bahasa adalah cara manusia mengekspresikan siapa dirinya. Apa yang ada dalam pikiran manusia tak terindera. Agar dapat dipahami bersama, manusia mewakilkannya pada bahasa. Yang disebut Teddi jelas tak hanya tubuhnya. Tapi keseluruhan dirinya, dan sejarahnya. Maka kata “Teddi” itu mewakili kesemua yang bisa ditangkap tentang […]

Sebuah pertanyaan menarik muncul di grup Alumni Belajar NLP Online: “Bagaimana pendapat teman-teman tentang berutang?”  Mulanya, aku tak ingin menjawab, atau bahkan mengomentari. Sebab grup ini memang tidak punya kepentingan membahas itu. Banyak referensi lain yang lebih valid. Apalagi, kami di grup ini tak punya kompetensi soal ini. Namun tak lama berselang, aku terpikir sesuatu.

Membedah Utang dari Sudut Pandang NLPRead More »

“Alih-alih fokus pada apa yang salah dalam diri atau orang lain, fokuslah pada apa yang berjalan dengan baik.” Richard Bandler Dari khazanah ilmu bertajuk Neuro-Linguistic Programming (NLP) yang kupelajari 13 tahun terakhir, kalimat dari seorang rekan-pendiri di atas merupakan salah satu tema sentral yang penting untuk direnungkan. Bahwa seseorang yang mengalami fobia, misalnya, sejatinya memiliki

Arahkan EnergimuRead More »

Ya. Bagaimana tidak? La NLP itu ilmu modeling. Berangkat dari ‘meniru’ keahlian orang lain. Maka melakukan modeling berarti mengakui adanya orang lain yang telah lebih dulu mengembangkan keahlian, dan bersedia belajar kepadanya. Dengan kata lain, jika toh sang praktisi menemukan sebuah teknik baru yang fenomenal, tetap ada orang lain yang lebih dulu memulainya. Ia ‘hanya

Praktisi NLP Itu (Seharusnya) Rendah HatiRead More »

Beberapa kali dalam waktu berdekatan, saya mendapati pertanyaan serupa tajuk di atas. Sebuah pertanyaan yang sejatinya tidak saja muncul belakangan, melainkan sudah ada sejak lama, bahkan di negara asalnya Amerika. Namun beberapa kawan mengajukan pertanyaan serupa, mungkin sebab terbitnya sebuah tulisan dari Mas Mohammad Fauzil Adhim berjudul “Tragedi Iman Seorang Hafidz” di sini. Saya maklum

Benarkah NLP bagian dari New Age Movement?Read More »

Di masa awal saya belajar NLP, kerap terdengar bahasan bahwa pikiran kita tak mengenal kata negasi. Maka kita tidak dianjurkan menggunakan kata ‘jangan’, misalnya. Sebab berkata ‘jangan marah’, hanya akan membuat seseorang memikirkan kemarahan. Lebih baik, ujar bahasan itu dulu, langsung saja gunakan kalimat semacam, ‘tenanglah’. Anjuran serupa ini cukup populer pada masanya, sehingga banyak

Balada ‘Jangan’ dan ‘Mengapa’Read More »

“Jika ada yang katakan kesabaran ada batasnya, maka kemarahan dan kekecewaan pun ada batasnya pula.” Demikian biasa terdengar. Sebuah kalimat yang tentu memiliki alasan. Atau menjadi alasan, untuk tidak merasa sabar. Dulu, aku berpikir bahwa kalimat ini amat perlu direvisi. Ya, mempelajari beragam ilmu dan meretas secuil hikmah saja telah mengajarkanku bahwa kesabaran sungguh tidak

Kesabaran Itu Ada BatasnyaRead More »

Pada Minggu, 16 Juni 2013 lalu, Indonesia NLP Society kembali menggelar NLP Talks. Kali itu, tema yang dibahas adalah “Path to Actualization – Part 1”. Tema ini diusung untuk mulai mengajak kita menapaki jalan menuju pertumbuhan diri. Ada “Part 1”, karena memang materinya takkan habis dalam 3 jam. Ia perlu sesi lanjutan yang panjang. Ya,

Aktualisasi Diri: Jalan-jalan PertumbuhanRead More »

“Kala makna diperkaya, pengalaman kan penuh warna.” Kita bereaksi terhadap makna. Dan sebab inilah kita punya kebebasan, apapun keadaan. Kebebasan ini pula lah, yang kala tak dibebaskan, maka kan berbalik membelenggu. Sebab makna, jadikan segalanya tampak nyata. Padahal kenyataan, bagi diri ini selalu merupakan penafsiran. Dan penafsiran, sangat bergantung pada silabus makna yang kita miliki.

Perkayalah Makna-maknaRead More »