Ku tulis di artikel sebelumnya, bahwa ELC sudah berumur sepuluh tahun. Ia dimulai sejak 2015 dengan nama NLP Essentials. Kala itu durasinya tiga hari, berjalan dua angkatan. Setelahnya, kami merasakan bahwa materi yang dirasa penting sungguh sulit dibawakan dalam tiga hari. Jadilah kami desain ulang sehingga jadi empat hari, dibagi menjadi dua modul.
Ah, aku mau cerita latar belakang yang lebih belakang lagi dari program ini.
Jadi begini. INLPS itu komunitas pembelajar. Niatnya jadi tempat belajar bareng. Maka sejak awalnya, di kisaran 2010, program yang ingin sekali dijalankan adalah pertemuan rutin belajar NLP bersama, yang kini kita sebut sebagai Practice Group (PG). Jadi, PG itulah sebenarnya program utama di INLPS. Program yang paling selaras dengan misi INLPS. Tapi rupanya PG di 2010 itu hanya berjalan sekali atau dua kali lalu berhenti. Anggotanya ya masih ada sampai sekarang. Pertemuan kala itu yang tersendat-sendat.
Singkat cerita, 2014 dicoba lagi diadakan. Seingatku sehabis kita mengadakan kelas Self Actualization Mastery (ya, aku lagi demam lagi bahas self actualization sejak mengambil sertifikasi Meta Coaching setahun sebelumnya dengan Michael Hall). Sama. Sekali dua kali berjalan, lalu berhenti. Setelah dievaluasi, salah satu kesimpulannya adalah pemahaman dasar tiap anggota tidak sama. Ada yang sudah pernah belajar NLP hingga belasan hari, ada yang masih belum pernah sama sekali. Maka 2015, digagaslah sebuah program dasar yang niatnya membantu teman-teman yang sama sekali belum kenal, setidaknya mengenal dasar-dasar NLP.
Maka dipilihlah materi-materi NLP yang banyak itu, mana saja kiranya yang bisa bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Ya, tidak semua materi dalam NLP (yang biasanya diajarkan di pelatihan 7-10 hari dalam program semacam NLP Practitioner di berbagai tempat) bisa digunakan sehari-hari. Kebanyakan program sertifikasi NLP masih menggunakan format praktisi, master praktisi, yang nuansanya adalah mempelajari NLP untuk memberikan intervensi ke orang lain. Orang lain dulu, diri sendiri belakangan. Apalagi programnya mahal, jadi pengen segera balik modal. Hehe..
Dalam upaya memilih yang bisa berguna sehari-hari itulah, disepakati bahwa aplikasi NLP itu ya intinya kan cuma dua. Atau dalam bahasa lain, persoalan manusia sehari-hari yang perlu bantuan NLP itu kan ya cuma dua.
Pertama, aku dan diriku. Kedua, aku dan orang lain. Itu-itu saja. Aku dan diriku itu misalnya aku yang ingin membangun kebiasaan baru, olahraga, membaca, lebih produktif bekerja, lebih sabar, dll. Aku dan orang lain itu misalnya aku yang ingin berkomunikasi dan berelasi lebih baik dengan keluargaku, teman-temanku, pelangganku, rekan kerjaku. Cobalah cek, jika ada hal yang ingin kita ubah lebih baik, sebutkan. Biasanya ia bisa dikelompokkan ke urusan ‘aku dan diriku’ atau ‘aku dan orang lain’. Jadilah, modul ELC itu ada dua. Pertama, modul satu, Personal Excellence. Ini membahas persoalan aku dan diriku. Kedua, modul dua, Relationship Excellence. Ini membahas persoalan aku dan orang lain.
Dulu, kami masih mengizinkan orang mengikuti modul dua tanpa modul satu. Tapi lama kelamaan kami menyadari, bahwa modul dua itu hanya masuk akal kalau orang paham modul satu. Maka kini, orang bisa ikut modul satu saja, tapi tidak bisa lompat langsung ke modul dua, sebab fondasi modul dua ada di modul satu. Jadi kalau belum punya keluangan dan baru bisa ikut salah satu, ya ikut saja modul satu. Dipraktikkan dengan tekun satu tahun insya Allah sudah banyak manfaatnya bagi diri dan sekitar.
Awalnya, kami mengadakan dua modul ini secara terpisah. Jadi adakan dulu modul satu beberapa kali, baru adakan modul dua. Dengan harapan, terkumpul cukup banyak peminat modul dua dulu baru diadakan. Sebab mungkin saja ada yang baru sanggup ikut modul satu dulu. Eh rupanya, cara ini tidak efektif. Kerapkali modul dua dibatalkan karena kekurangan peserta, meski modul satu sudah diadakan beberapa kali. Salah satu ‘korban’-nya adalah Bu Rita dan suaminya Pak Irwan itu. Mereka sudah bayar dua modul, eh, kok ya modul duanya dibatalkan melulu. Kalau tidak salah, mereka sampai perlu menunggu setahun baru bisa. Untungnya mereka berdua penyabar dan baik hati, pemaklumannya luas, jadi bahkan masih terus jadi sahabat sampai sekarang.
Akhirnya ketemulah formula penyelenggaraan yang kita gunakan sampai sekarang, yakni mengadakan sekaligus dua modul sebagai satu angkatan, hanya dipisahkan minggu. Jadi kalau ELC sudah dibuka, maka dibuka untuk dua modul sekaligus, minggu ini dan minggu depannya. Dengan cara demikian, malah semakin tinggi kemungkinan kelas berjalan. Alhamdulillah, model ini sudah berjalan di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, hingga Makassar. Semoga seluruh yang belajar dan terlibat senantiasa mendapatkan manfaat berlipat-lipat.
Nah, kalau sudah pernah ikut ELC, maka akan mudah kita diskusi di PG. Aktivitas PG pun sederhana saja. Cukup mengulangi kembali materi di ELC secara bertahap, ditambahkan dengan membaca buku NLP TPTE. Bermodal modul pelatihan dan buku, PG bisa terus berjalan bertahun-tahun. Peserta yang ikut jumlahnya memang jarang yang banyak sekali. Tapi wajah-wajahnya selalu istiqomah. Dan aku jadi saksi, yang rajin PG itu pertumbuhan dirinya terasa banget. Before and after-nya signifikan. Tidak ada yang rajin PG dan tidak berkemajuan. Dengan jalan yang dipilih masing-masing, mereka menapaki tangga kehidupan satu demi satu. Beberapa orang kadang ‘menghilang’ dulu. Tak apa. Pada waktunya toh mereka kembali lagi.
Jadi kalau dipikir-pikir, dengan sudah berjalan 10 tahun. ELC ini bukan program kaleng-kaleng juga. Hehe..
Mungkin karena program ini, meski baru dimulai 2015, ide dasarnya sudah dirintis sejak 2010an. Kala itu, buku NLP TAOEL terbit, dan aku mulai kerap diundang mengisi pelatihan NLP. Dari situ muncullah beberapa racikan yang kemudian diselenggarakan juga secara publik. Modul satu Personal Excellence itu, bisa dibilang berawal dari modul Self Leadership Mastery. Sementara modul dua Relationship Excellence, bisa dibilang awalnya dari modul Communcation Mastery. Nah, sedangkan modul sertifikasi coaching Professional NLP Coach, boleh dikata rintisannya adalah modul Coaching Mastery. Salah satu orang yang berjasa mengadakan kelas publik dari tiga modul ini adalah Mas Darmawan Aji, di Bandung. Jadi, kalau mas Aji sekarang jago banget membuat program pelatihan dan menjualnya, ya itu buah dari pengalaman panjang.
Nah, kamu yang sudah pernah belajar ELC, apa saja ceritamu mempraktikkan materi-materinya?
