Saat mengaji pagi ini, aku sampai pada surat Yusuf. Berkali-kali ku baca surat ini seumur hidupku, selalu saja ada pembelajaran baru yang ku dapat, meskipun tentu saja aku bukan ahli tafsir. Hanya bermodal membaca terjemahannya saja, hikmah kerapkali hadir tanpa disangka-sangka.
Kali ini, hikmah itu mungkin bisa dirangkum dalam satu kalimat: bahwa apa-apa yang orang umumnya anggap sebagai anugerah, kerapkali menyimpan misteri yang tak diduga-duga.
Anugerah pertama yang nyata-nyata tampak dalam kisah Nabi Yusuf as adalah kenyataan bahwa beliau lahir di keluarga seorang nabi. Beliaupun diberi kenabian sejak muda. Tapi toh, anugerah itu tak mesti membuat hidup jadi mudah. Sebab anugerah kelebihan berupa karakter yang baik hingga disayang ayah, rupanya menimbulkan cemburu pada diri saudara-saudara yang lain. Bukan cemburu sembarang cemburu, melainkan cemburu yang memicu perbuatan amat buruk: membuang saudara mereka, menyingkirkan dari keluarga. Bahkan di masyarakat zaman kita pun, perbuatan ini jelas terlalu jauh dari suara hati nurani. Namun toh, dilakukan juga oleh anak-anak dari seorang nabi. Tentu saja kelak kita akan mendapati mereka semua sadar, tapi jarak kesadaran itu terbentang jauh, bertahun-tahun lamanya.
Tapi jika kemudian kita berpikir bahwa Yusuf kecil yang dibuang ke sumur itu apes, rupanya tidak. Dia dijual sebagai budak, tapi malah berakhir sebagai anak angkat penguasa negeri. Siapa sangka? Sampai di titik ini, kita mungkin akan berhenti merenung dan langsung memasukkan kisah ini ke dalam genre from zero to hero. Tapi tidak begitu rupanya perjalanan hidup Yusuf. Justru karena pesona yang Allah karuniakan kepadanya, terpicu para wanita di sekelilingnya, dan membuatnya berakhir di penjara. Duhai. Bukankah pesona ketampanan itu biasanya dianggap anugerah? Tapi dalam kisah ini, mengapa pula ia jadi penyebab malapetaka.
Eh, tunggu dulu. Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan. Yusuf sendiri tak pernah menganggap penjara sebagai persoalan. Ia malah mengatakan penjara lebih disukai daripada mengikuti ajakan maksiat para wanita itu. Wah, bukankah jika situasinya di zaman sekarang, lebih mudah untuk memilih sebaliknya? Jadi sebenarnya, pesona itu anugerah atau bukan kalau begini?
Yang menarik adalah anugerah berikutnya. Sebuah ilmu yang unik bernama tafsir mimpi. DI zaman materialisme seperti sekarang, ilmu ini mungkin takkan masuk dalam kajian ilmiah. Pemikir terakhir yang masih dianggap ilmuwan—meskipun banyak dikritik kemudian—dalam bidang psikologi tafsir mimpi mungkin adalah Sigmund Freud. Itupun teorinya sudah banyak ditinggalkan. Tapi dalam kasus kisah Yusuf, justru ilmu inilah titik pijak terselamatkannya sebuah negara, bahkan daerah-daerah lain yang bergantung pada mereka. Jangan-jangan, ilmu tafsir mimpi ini perlu digali kembali. Seingatku ada sebuah buku berjudul Tafsir Mimpi ditulis oleh seorang ulama, Ibnu Sirin. Mungkin aku perlu membacanya lebih serius. Mimpi, bisa jadi bukan sekadar bunga tidur. Mimpi, boleh jadi juga adalah sumber pengetahuan, ketika ia ditafsirkan oleh mereka yang kompeten. Jika ide ini kelihatan tidak ilmiah, jangan lupa bahwa itu di zaman sekarang. Pada masa lalu, amat wajar jika mimpi dipandang sebagai pertanda. Mungkin kita perlu mengembangkan epistemologi mimpi kalau begini.
Yang jelas, anugerah yang diterima Yusuf tak berhenti sampai di situ. Jika tafsir mimpi lebih bernuansa metafisika, ilmu-ilmu lain yang ia kuasai sesungguhnya amat empirik. Ia jelas kompeten dalam bidang pengelolaan keuangan negara hingga raja tak ragu untuk mengangkatnya sebagai bendahara. Ini bukan ilmu remeh, ini ekonomi makro. Menarik untuk direnungkan, bagaimana ia bisa menguasai ilmu-ilmu tersebut? Kan pada zaman dahulu belum ada kampus? Ia pun budak yang pada dasarnya tak leluasa untuk belajar. Ustadz Nouman Ali Khan pernah menguraikan penafsiran bahwa bisa saja beliau mempelajari ilmu-ilmu itu dari interaksi sembari menjadi pelayan di istana. Kan di istana banyak pejabat yang berdialog ragam persoalan negara. Pun jika demikian, tetap saja Yusuf seorang jenius yang bisa menangkap semua itu secara mendalam. Ah, tentu saja kita jangan lupa soal kenabiannya. Seorang nabi tentu diberi kemampuan jauh di atas rata-rata manusia.
Nah di titik ini perenunganku mencapai titik yang cukup mencerahkan. Nabi Yusuf as itu dianugerahi pesona ketampanan fisik yang istimewa. Orang zaman sekarang akan menganggap itu priviledge. Tapi tidak. Justru pesona itu menjadi pemicu munculnya permasalahan. Lalu apa yang membuatnya istimewa? Ya ilmunya. Ilmunya lah yang menyelamatkannya kembali, keluar dari penjara dan menjadi pejabat negara. Ilmunya pula yang menyelamatkan negara. Kelak, saat para saudaranya tak bisa mengelak dari kesalahan mereka, mereka pun mengakui keunggulan Yusuf bukan karena pesona fisik, melainkan karena karakter dan kompetensi yang ia miliki memang sulit dilampaui.
Apa pesannya? Kecantikan dan ketampanan fisik tak pernah bisa jadi keunggulan jangka panjang. Hanya kedalaman ilmulah yang bisa jadi keunggulan hakiki. Lebih dari itu, ilmu yang betul-betul berdampak pada kehidupan orang banyak lah yang membuat nilai seseorang demikian tinggi. Maka para pemilik wajah pas-pasan sungguh tak perlu kecil hati. Kecantikan dan ketampanan tak pernah menjadi indikator keberhasilan sejati. Surat Yusuf nyata-nyata menekankan bahwa apa yang kita bisa lakukanlah yang merupakan indikator kesuksesan.
