Mari Menuliskan NLP

INLPS bermula dari sebuah mailing list yang isinya adalah pertukaran informasi dan percakapan lewat tulisan. Selain itu, keberadaannya juga ditopang oleh sebuah blog yang isinya juga adalah tulisan. Jadi sejarah INLPS sebenarnya adalah sejarah tulis-menulis. Pada masa yang berbarengan ketika itu, marak pula sebuah blog yang bernama Portal NLP, didirikan oleh Pak Ronny Ronodirjo. Portal itu begitu viral, selain karena tulisan-tulisannya yang bernas, juga karena kekayaan khazanah bahasan akibat dari beragamnya penulis yang ikut berkontribusi. Ya, Portal NLP memang mengajak para penulis dari berbagai aliran untuk turut menyumbang pemikiran. Selain Pak Ronny, penulis yang kondang saat itu adalah Kang Asep Haerul Gani dan Pak Krishnamurti. Keduanya adalah penulis andal dan melahirkan beberapa buku.

Jadi kalau dipikir-pikir lebih jauh, NLP itu bisa kita kenal dan berkembang karena ada yang menulis. Di era pengembangan awal, yang berjasa tentu saja adalah duo Richard Bandler dan John Grinder yang menulis empat buku, dua jilid The Structure of Magic dan dua jilid Pattern of Hypnotic Technique of Milton H. Erickson. Saat sudah menggunakan NLP, yang berjasa adalah Steve Andreas, ia mentranskrip rekaman pelatihan Bandler dan Grinder kemudian mengubahnya menjadi buku, selain menulis pemikirannya sendiri. Lalu Robert DIlts, yang kontribusi signifikannya adalah merangkai model dan teknik NLP yang masih berserakan itu menjadi kerangka yang lebih sistematis, bahkan memberikan landasan teoritik dan filosofis. Lalu tentu saja L. Michael Hall yang sampai sekarang rasa-rasanya belum tertandingi produktivitas tulisannya di dunia NLP. Setiap minggu ia terus menulis tiga artikel, tidak pernah bolong, dan setiap tahun bisa menerbitkan beberapa buku sekaligus, di luar kumpulan artikel tadi.

NLP eksis karena ditulis. Bukan sekadar karena ia diajarkan dalam pelatihan-pelatihan. Bahkan meskipun masih sering ada yang menyebutnya sebagai sains semu, toh penelitian-penelitian mengenai NLP begitu mudah kita temukan, dan jumlahnya ratusan. Artinya, yang serius meneliti dan menulis karya ilmiah tentang NLP pun, banyak.

Karena itulah, sepertinya kita perlu membangun kembali tradisi menulis NLP ini di INLPS. Tidak harus tulisan panjang dan berat—kalau ada yang mau tentu silakan—tapi juga artikel singkat dan ringan tentang praktik dalam keseharian. Jika ada beberapa anggota saja yang istiqomah menulis sebulan sekali saja, maka setiap minggu komunitas ini akan ramai dengan pemikiran bernas yang membuat keberadaan NLP dan INLPS makin nyata.

Ilmu diikat dengan dituliskan. Demikian nasihat yang sering kita dengar. Sebab ilmu itu seperti hewan buruan, kalau tidak diikat ya ia akan kabur. Menuliskan ilmu juga memungkinkan kita untuk mengevaluasi pemahaman. Sebab saat membaca tulisan, kita jadi berjarak dengan pemahaman dan pengalaman yang kita tuliskan itu. Kita jadi orang lain yang bisa memandang pengalaman itu dari posisi 2 dan posisi 3—ingat perceptual position. Dua posisi yang bisa memberikan kita kekayaan makna.

Jadi, mari kita mulai menulis tentang praktik NLP yang kita lakukan. Dimulai dari menceritakan pengalaman praktik, atau sekadar rangkuman bacaan. Ya, membaca buku NLP dan merangkumnya, lalu memberikan sedikit komentar, sungguh sudah merupakan sumbangan yang berarti bagi pengembangan ilmu ini.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *