Belajar filsafat itu, konsekuensinya, adalah banyak membaca. Bahkan bukan banyak lagi, tapi amat banyak membaca. Dan tidak sembarang membaca, melainkan membaca secara mendalam. Artinya, membaca secara perlahan. Berulang-ulang. Speed reading hampir-hampir tak ada gunanya dalam belajar filsafat. Maka jika ada manfaat yang sangat ku dapatkan dari proses belajar filsafat saat ini adalah memperbaiki keterampilan membacaku.
Ya, aku memang suka membaca. Sejak dulu. Mungkin bermula sejak SD atau SMP. Kala SMA, aku pertama kali berkenalan dengan buku Quantum Learning, yang mengangkat istilah membaca cepat (speed reading). Beberapa lama aku sempat mencobanya, melatihnya. Tapi kemudian tak banyak menggunakannya. Sebab membaca bagiku bukan soal banyak-banyakan atau cepat-cepatan. Membaca berarti menikmati alur berpikir penulisnya. Bahkan, untuk penulis seperti Buya Hamka, Cak Nun, Andrea Hirata, Pramoedya Ananta Toer, membaca karya mereka berarti berguru cara berkata-kata. Jadi rasa-rasanya, amat sayang jika membaca cepat tulisan-tulisan mereka. Sebab tiap kata, apalagi susunan kalimat, dipiliah dengan cermat dan lihai. Aku tahu kata itu. Kata itu ada dalam bahasa Indonesia. Tapi kerap aku baru tahu cara menggunakannya kala membaca karya mereka.
Jadi jika pun kalian tidak ingin menjadi filsuf, tapi sekedar ingin menjadi pembaca yang lebih baik, belajarlah filsafat. Kita akan ‘dipaksa’ untuk meneroka pemikiran yang tertuang dalam tuturan kalimat para pemikir yang tak sembarang bicara. Jika pun ia tampak serampangan, keserampangan itu pasti ada tujuannya.
Yang menarik, dalam filsafat, konteks hidup sang penulis sungguh amat penting. Ya, ini salah satu hal yang baru ku pahami kala belajar filsafat. Tidak ada pemikiran yang lahir dari ruang hampa. Pemikiran selalu lahir dalam ruang tertentu tempat sang pemikir hidup. Maka riwayat hidupnya jadi teramat penting untuk dipahami. Pergulatan cinta dan patah hati, misalnya, di tangan seorang pemikir, bisa melahirkan karya yang mendalam. Apatah lagi penelusuran spiritual, kesepian dan pertemanan, keberhasilan dan kegagalan.
Karena pemikiran seorang filsuf hanya bisa kita akses lewat tulisannya, dan tulisannya selalu lahir dalam medium bahasa tertentu, maka bahasa yang ia gunakan jadi krusial untuk dikuasai. Setiap bahasa memiliki logikanya sendiri. Menerjemahkan berarti memaksa makna untuk dicerabut dan ditempatkan pada logika bahasa yang berbeda. Bukan tak bisa. Tapi jelas kita akan kehilangan banyak rangkaian makna aslinya. Maka justru, saat belajar filsafat, kita perlu memahami bahasa asli sang pemikir, kemudian menuliskannya dengan bahasa asli kita. Ya, setidaknya di kampusku, tulisan karya kita sebagai mahasiswa itu justru perlu dirangkai dalam bahasa Indonesia. Bukan bahasa asing seperti bahasa Inggris. Sebab kita menulis untuk memahami dan menjelaskan pemahaman. Dan sebagai orang yang berusaha menyarikan pemikiran untuk diuraikan kembali kepada khalayak kita sendiri, maka sudah selayaknya kalau pemikiran itu ditulis dalam bahasa kita sendiri. Tanda aku memahami Hegel adalah ketika aku bisa menguraikan pemikiran Hegel dalam bahasaku sendiri. Ketika aku menuliskannya dalam bahasa lain, maka apa yang ku pahami sendiri tentu sudah mengalami pergeseran.
Dalam karya ilmiah filsafat, yang disebut data adalah kalimat. Kalimat yang ku kutip dari para pemikir itulah data. Kalimat itulah yang ku analisis, ku rangkai jadi argumen, ku kritik. Maka kalimat itu perlu ku pahami sedemikian akurat. Meskipun ku tulis terjemahannya, di catatan kaki perlu ku cantumkan kutipan dalam bahasa aslinya. Dan aku perlu bisa mempertanggungjawabkan mengapa aku menerjemahkan kalimat asli itu seperti itu. Salah menerjemahkan, berarti salah mengambil data. Dan keseluruhan argumen yang ku bangun bisa rontok karenanya.
Maka membaca memang tak pernah sederhana dalam filsafat. Membaca itu perlu berulang-ulang, bahkan perlu membandingkan dengan pembacaan-pembacaan orang lain jika ada. Membaca bukan hanya persoalan membaca apa yang tertulis, melainkan juga membaca apa yang tak tertulis, yang tersimpan di kedalaman kalimat. Membaca juga menangkap kesan. Sebab dalam tiap tulisan, kerap ada ruh yang tak bisa ditangkap dari kata-kata, tapi bisa dirasakan oleh jiwa. Membaca, bahkan seringkali menggambarkan sang pembaca. Ya, caraku membaca itu sendiri mencerminkan siapa aku, sebagaimana tulisan sejatinya adalah gambaran diri sang penulis terhadap apa yang ia uraikan dalam tulisannya. Ini sungguh menarik. Dan amat baru buatku. Aku ternyata tidak sedang membaca tulisannya, tapi sedang membaca diriku sendiri. Aku tahu siapa aku dari caraku memahaminya.
Jadi, kalian yang gemar membaca, dan ingin lebih dalam membaca, kuliah filsafat menyediakan sarana untuk itu. Ini memang bukan jenis kuliah yang mungkin akan menyediakan penghasilan tambahan pada kita. Tapi ini jenis kuliah yang menyediakan jalan baru bagi kita memahami kehidupan.
