Dalam NLP, kita mengenal satu framework yang disebut dengan Neuro-Logical Level (NLL). Kerangka berpikir ini dimaksudkan oleh perumusnya, Robert Dilts, sebagai payung dari berbagai model dan teknik NLP. Singkatnya, intervensi dalam NLP bisa dipahami dalam berbagai area, mulai dari lingkungan, perilaku, kemampuan, keyakinan, identitas, dan spiritualitas. Setiap persoalan di satu level area, jika ingin diatasi, setidaknya perlu dilakukan di satu level di atasnya. Jika kamar saya berantakan (level lingkungan), misalnya, ia bisa diatasi setidaknya dengan berpikir di level perilaku, yakni membereskannya. Singkat cerita, maka level yang tinggi, keyakinan-identitas-spiritualitas, memiliki dampak demikian besar bagi level-level di bawahnya. Meskipun saya memiliki kemampuan menulis, jika saya menganggap tulisan saya tidak berguna (keyakinan), apalagi saya memandang diri saya penulis yang buruk (identitas), maka kemampuan itu tidak akan keluar dengan sempurna menjadi perilaku menulis rutin dan menghasilkan tulisan yang berdampak (lingkungan).
Maka identitas diri dan spiritualitas, kiranya merupakan tataran berpikir yang ama krusial bagi munculnya tatanan berpikir yang di bawahnya. Dalam banyak sesi coaching, saya mendapati perubahan, setidaknya di dalam diri dulu (inner game) sangat dipengaruhi oleh tatanan berpikir di level identittas dan spiritualitas. ‘Siapa aku’ dan ‘apa tujuan tertinggiku’ adalah dua hal yang kerap kali luput direnungkan secara mendalam oleh seseorang, sehingga perilaku yang diharapkan tak mudah muncul. Sebaliknya, saat ‘misiku’ dan ‘siapa aku’ selaras, maka kemampuan bisa dipelajari, dan perilaku bisa dimulai.
Tentu saja perubahan di tataran identitas dan spiritualitas tidak bisa terjadi tiba-tiba. Penjualan tidak tiba-tiba melonjak hanya karena berdoa dan yakin Tuhan akan memberikan rezeki, jika tidak berusaha. Tapi usaha itu sendiri akan lebih mulus dilakukan—meski susah—jika ia selaras dengan ‘siapa aku’ dan ‘apa misiku’.
Di titik inilah, persoalan identitas menjadi menarik perhatianku. Di era digital ini, entah mengapa orang makin begitu mudah jatuh pada depresi, hanya karena ia diejek di media sosial. Ejekan itu bahkan datang dari orang tak dikenal. Mengapa begitu mudah terganggu oleh orang tak dikenal?
Salah satu kesimpulan sementara yang ku coba rumuskan adalah, mereka rapuh di tataran identitas diri. Saat seseorang mengejekku di media sosial, itu bukan cuma tulisan. Itu adalah serangan (keyakinan) yang ditujukan pada diriku (identitas), bukan sekedar akunku. Akunku memang telah seolah menjadi bagian dari diriku. Semacam extended self-ku. Akun itu, yang telah ku isi dengan pikiranku, adalah cerminan diriku. Setidaknya, diriku yang aku berharap dilihat oleh orang lain. Meskipun tak sepenuhnya diriku, ia tetap bagian dari diriku. Maka ketika ia diejek, ejekan itu ditujukan kepadaku.
Sekilas, situasi ini tampak tak masuk akal. Setidaknya bagi generasi lawas, generasi yang baru menggunakan media sosial belakangan. Tapi bagi para digital native, kebertubuhanku telah diperpanjang—mengalami ekstensifikasi—dengan media sosial. Maka akunku itu adalah aku.
Pertanyaannya, mengapa bisa demikian? Bagaimana mungkin identitas diri manusia di era digital demikian rapuh?
Menggunakan NLL kembali, jawabannya ada pada tataran spiritualitas. Spiritualitas adalah semacam ruang moral tempat identitas diri dilahirkan—dirumuskan. Identitas diri—desain moral tentang aku—tak pernah lahir dalam ruang hampa. Ia lahir dalam ruang yang sudah disediakan. Ruang itu bisa agama atau budaya, atau keduanya. Aku tak mencuri meski mampu (perilaku dan kemampuan), karena aku meyakini mencuri itu buruk (keyakinan), karena aku bukan pencuri sebab aku seorang muslim (identitas), karena itu adalah ajaran Islam (spiritualitas). Maka seberapa aku memahami ruang moralku, sekokoh itu aku bisa membangun siapa aku. Jika pemahaman dan penghayatanku akan ruang moral itu rapuh—atau bahkan aku tak benar-benar memiliki ruang moral yang ajeg—maka identitas diriku pun rapuh. Aku yang tak benar-benar yakin bahwa Tuhan Maha Pemberi Rezeki (spiritualitas) akan tak seyakin itu pada diriku, sehingga ketika aku tak mendapat promosi yang ku harapkan, aku jatuh. Sebaliknya, karena aku yakin bahwa Tuhan Maha Pengatur dan Pemberi Rezeki, maka aku yakin bahwa aku yang tak (atau belum) mendapatkan rezeki itu mungkin sedang diselamatkan olehNya. Aku mungkin belum siap dan perlu lebih banyak belajar. Aku perlu menambah keterampilan yang mungkin memang belum ku kuasai.
Di titik inilah, kerapuhan identitas diri manusia di era digital mungkin bisa dipahami. Manusia di era digital, terlalu banyak mengkonsumsi pemikiran yang sudah terkurasi oleh pemilik modal media digital, terlalu banyak memasukkan tanpa sadar imaji kehidupan yang tak pernah ada (karena semuanya buatan), dan sebaliknya, kurang mengamati dan menghayati pengalaman konkrit di sekitar. Ia terhubung dengan yang jauh (padahal maya), tapi terlepas dari yang dekat (padahal nyata). Maka berbeda dengan generasi sebelumnya yang terhubung dengan kenyataan kehidupan sehari-hari, manusia di era digital seolah tak sempat membangun identitas diri dalam ruang moral yang telah terbukti kekokohannya seiring zaman. Ajaran agama, misalnya, tak bisa dipungkiri telah menata kehidupan ribuan tahun. Tapi karena manusia era digital tak sungguh-sungguh mendalami, ia memilih ruang moral maya yang cair dari media sosial. Dalam ruang moral yang cair dan comsa-comsi (comot sana, comot sini) itulah identitas dirinya dibentuk. Identitas diri yang juga cair. Bahkan mungkin fractured. Tak sempat utuh, menyatu. Ia pun rapuh. Mudah ambyar.
Lalu bagaimana keadaan ini bisa diatasi?
Beruntungnya, manusia adalah makhluk yang diberi kemampuan khas untuk melakukan refleksi mendalam. Buktinya ya lahirnya NLL itu tadi. Tidak saja kita bisa menyelami tatanan berpikir kita, kita juga bisa mengambil jarak dengan keseluruhan tatanan berpikir itu, untuk menyadari, dan membangunnya kembali. Proses ini tidak mudah, dan tidak cepat, tapi bisa. Manusia di era digital perlu pertama-tama menyadari ruang moral yang ia amini tanpa sadar. Kemudian membangunnya secara sadar. Di ruang moral itu bisa membangun kembali identitas dirinya yang rapuh, menjadi kokoh.
Bagaimana kiranya ini bisa dimulai, akan jadi perbincangan lain waktu.
