19 Tahun Indonesia NLP Society

Tanggal 3 April 2026 yang lalu, INLPS berusia 19 tahun. Teman-teman mungkin sudah tahu sejarahnya. Dimulai dari mailing list (sepertinya yang kenal hanya generasi milenial) dari tahun ke tahun alhamdulillah kita berkembang sebagai komunitas. Mempertahankan sebuah komunitas tidak mudah, sebab ikatan komunitas adalah ikatan non material. Ikatannya harus emosional, sosial, intelektual. Maka struktur organisasi yang disusun oleh pengurus memang perlu ditopang oleh hubungan baik, hubungan persahabatan.

Nah, persahabatan. Inilah insight yang terbaru ku dapatkan di refleksi milad INLPS tahun ini. Begini ceritanya.

Entah sejak kapan, beberapa rekan di INLPS senang memanggil beberapa orang mitra belajar dengan panggilan mas atau mbak guru. Mungkin karena yang dipelajari adalah ilmu terkait kehidupan, bisa jadi ada dorongan untuk memanggil orang yang mengajari kita dengan sebutan guru. Sebutan yang terdengar, dan tentu saja terkesan takzim.

Awalnya, aku sendiri merasa kurang pantas mendapat panggilan seperti itu. Tapi apa mau dikata, kita tidak sepenuhnya bisa mengendalikan bagaimana orang lain mau memanggil kita. Sisi lain, ya, nyatanya kan memang menjadi mitra belajar itu memang menjadi guru. Apapun namanya di zaman sekarang: trainer, fasilitator, coach, mentor. Pada hakikatnya ya menjadi guru.

Nah, tapi kalau direnungkan lebih jauh, hubungan guru-murid di INLPS ini banyak yang berkembang. Sebab sobat-sobat yang tadinya peserta, lama-lama menjadi rekan belajar. Sebagian di antaranya sudah turut menjadi kolega sesama pengajar. Sebagian lagi, jika pun tidak meminati menjadi pengajar, menunjukkan kedalaman pemahaman yang membuat tiap percakapan tidak lagi percakapan top-down dari guru ke murid, tapi dialektika dari rekan sejawat, counterpart, sparring partner. Dengan kata lain, menjadi sahabat.

Ah, kok jadi ingat juga. Orang-orang yang menjadi murid dari Nabi Muhammad Saw itu, tidak disebut sebagai guru, syaikh, kyai, gus, suhu, sage. Mereka disebut sebagai sahabat. Bisa jadi, memang titik tertinggi dari transformasi seorang murid adalah menjadi sahabat bagi orang yang dulu merupakan gurunya. Atau jika dibalik, tugas seorang guru adalahmengawali perjalanan belajar murid-muridnya, hingga pada satu titik mereka akan setara dan menjadi sahabatnya, rekan belajar bersamanya.

Rasa-rasanya, dalam hal ini, kita bisa mulai melihat misi INLPS pelan-pelan diwujudkan. Jika kita ingin menjadikan komunitas ini sebagai tempat bagi optimalisasi potensi setiap insan, maka tujuan akhirnya adalah menjadikan sebanyak mungkin pembelajar di INLPS sampai ke titik pemahaman yang setara, dan akhirnya menjadi mitra belajar bersama.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *