NLP dan Semangat Modeling

Sejarah NLP diawali dengan sebuah aktivitas bernama modeling. Modeling bermakna model-ing, melakukan proses memodel (meniru), atau bisa juga dipahami sebagai menyusun sebuah model. Jika kita meyakini bahwa manusia bertindak berdasarkan model dunia yang dimiliki (map), maka menyusun sebuah model berarti menyusun sebuah peta untuk menghasilkan tindakan. Maka kata model dan memodel merupakan kata kunci dalam NLP. Dan karenanya juga kata kunci bagi para pembelajar NLP. Apa implikasi dari hal ini?

Pertama, bagi seorang pembelajar NLP, memodel artinya mencari dulu model yang ingin dimodel. Ia bisa orang lain, atau diri sendiri dalam arti pengalaman di masa lalu. Ini didasari atas pemikiran dasar bahwa daripada repot-repot mencoba-coba, mengapa tak meniru saja yang sudah berhasil. Dalam hal ini, menurut Fran Burgess, modeling sejatinya bukanlah penemuan unik NLP. Memodel sebenarnya merupakan metode belajar paling dasar yang dilakukan manusia sejak kecil. Bukankah kita belajar berbagai keterampilan dasar paling fundamental seperti bicara dan berjalan melalui proses peniruan? Namun seiring waktu, karena pendidikan yang menuntut standarisasi, kita kehilangan kemampuan untuk meniru, dan berpikir bahwa belajar haruslah berupa secara formal berupa mengikuti kelas atau membaca buku. NLP adalah alat bantu untuk mengembalikan kemampuan kita memodel.

Oke, kembali ke persoalan mencari dulu model. Karena kita ingin meniru yang sudah berhasil, maka pembelajar NLP adalah pengamat keberhasilan. Baik keberhasilan orang lain, maupun diri sendiri. Kita bukanlah orang yang sekedar kagum akan keberhasilan yang kita lihat. Kita adalah pencatat yang gemar niteni kehebatan orang lain ataupun diri sendiri. Dalam apa-apa yang berhasil ada pola, ada struktur. Oleh karena itu kita peka pada adanya struktur dari keberhasilan. Keberhasilan bukan hanya soal kebetulan. Kebetulan dalam arti adanya kesempatan itu tidak dipungkiri. Tapi toh mereka yang berhasil pasti memiliki pola perilaku (dan rentetan pola pikir dan pola rasa di belakangnya) yang khas, ditemukan lewat pengalaman panjang, dan latihan terus-menerus. Jadi alih-alih hanya kagum pada orang yang lebih hebat dari kita, kita ingin tahu apa yang telah ia lalui, dan mana yang bisa kita tiru. Begitupun dengan pengalaman kita sendiri. Kita yang pernah berhasil dalam konteks tertentu, pasti ada struktur yang melatarbelakanginya. Struktur itu bisa dipelajari, disusun modelnya, dan digunakan kembali, mungkin dengan penyesuaian.

Yang kedua, bagi seorang pembelajar NLP, kondisi saat ini, saat kita belum berhasil, pun memiliki struktur, model yang membuat kita belum berhasil. Kita yang ingin olahraga, artinya sekarang masih malas berolahraga, itupun memiliki struktur yang membuat kita sangat ekselen dalam mengisi waktu luang dengan aktivitas lain (leyeh-leyeh, main media sosial, tidur berkepanjangan, dll). Maka proses perubahan adalah proses mengubah struktur lama yang membuat kita masih ada dalam status quo, menjadi struktur baru hasil modeling tadi. Struktur leyeh-leyeh, diganti menjadi struktur jogging hasil memodel rekan yang rajin, misalnya.

Semangat ini adalah semangat pragmatis yang diwarisi NLP dari filsafat pragmatisme Amerika. Bahwa hal yang bermanfaat itu adalah yang menghasilkan perubahan secara konkrit. Jadi bagi para pembelajar NLP, menjadi lebih baik itu ya konkrit-konkrit aja. Mau berubah dari apa menjadi apa. Dari A ke B. Tentukan B nya, pelajari caranya. Telaah A nya, pelajari yang menghambat perubahan. Lakukan tindakan konkrit untuk mengubah A menjadi B. Sesederhana itu.

Tapi ini tidak menghilangkan peran proses dan pembentukan kebiasaan. Tindakan baru hasil modeling tentu saja tetap perlu dipelajari, dilatih dengan sungguh-sungguh, sebelum melahirkan dampak yang nyata dan konsisten. Kan model yang kita tiru itu tidak berhasil dalam semalam. Maka kita pun perlu realistis dalam menjalani proses perubahan.


 

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *