Ada dua kegelisahan yang baru muncul dalam diriku belakangan ini. Pertama, sebuah iklan yang muncul di akun medsosku, tentang aplikasi kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) yang bisa digunakan oleh mahasiswa untuk membuat tugas kuliah. Bukan sekedar membantu mencari referensi, tentu saja, tapi membuatkan sampai jadi sebuah artikel. Tak cukup sampai di situ, iklan itu sudah mengantisipasi kemungkinan tugas tersebut terdeteksi oleh aplikasi yang dimiliki dosen, dengan menawarkan menu untuk melakukan humanisasi terhadap tugas kuliah itu sehingga bisa lolos deteksi. Kedua, cerita dari seorang kawan yang sedang mengambil studi doktoral di sebuah universitas ternama. Kawan seangkatannya tak banyak, sebagian besar adalah pejabat pemerintahan. Dan tak seperti dirinya, mereka semua membawa asisten yang siap mengerjakan tugas-tugas kuliah yang diberikan pada para mahasiswa doktoral tersebut—para pejabat pemerintahan itu. Para dosen pun sudah memaklumi kondisi serupa itu, sehingga bahkan mengingatkan para ‘mahasiswa’ itu untuk mendelegasikan tugas yang diberikan kepada para asisten.
Dan, dua kondisi itu menggelisahkanku, membuatku bertanya-tanya. Ada apa dengan belajar sehingga orang demikian malas belakangan ini? Memangnya mereka itu bersekolah tinggi untuk apa? Apa yang mereka ingin dapat dari kuliah? Sesibuk apa hidup mereka, sehingga tak sempat sama sekali mengerjakan tugas?
Pada persoalan pertama, aplikasi pembuat tugas, aku penasaran, apakah memang belajar itu telah tereduksi nilainya, maknanya? Apa memang para mahasiswa yang jadi sasaran produk AI itu tak menyadari bahwa mereka tak akan jadi ahli apapun tanpa mengerjakan tugas kuliah sendiri? Bukankah generasi sekarang adalah generasi instan yang ingin segera merasakan manfaat dari sesuatu? Bukankah manfaat paling nyata dari belajar adalah terbentuknya kemampuan berpikir yang lahir dan proses mengerjakan tugas? Tidakkah mereka tahu bahwa tugas kuliah S1 itu sudah ditakar sedemikian rupa oleh dosen sebagai simulasi paling sederhana dari sebuah teori? Jika itu saja tak sanggup mereka kerjakan sendiri, bagaimana mereka hendak menjadi sarjana yang tugasnya adalah berpikir konseptual untuk menyelesaikan permasalahan? Jika seorang sarjana tak mampu menyelesaikan persoalan, karena ia tak bisa memahami persoalan, lalu ia hendak dipekerjakan karena mengerjakan apa? Jika ia hanya bisa mematuhi perintah, mengapa harus sekolah hingga jadi sarjana?
Terus, mahasiswa yang mengerjakan tugas dengan AI itu, sesibuk apa hari-harinya? Apakah ia harus bekerja? Waktunya habis untuk apa sehingga seolah tak punya waktu untuk mengerjakan tugas sendiri? Bayangkan seorang dokter yang lulus karena mengerjakan tugas dengan diwakili oleh AI, adakah kita ini mau mempertaruhkan nyawa untuk berobat kepada mereka? Bagaimana jadinya jembatan yang dibangun oleh para sarjana hasil AI? Bagaimana kualitas bangunan yang didesain oleh sarjana AI? Bagaimana ekonomi yang didesain oleh ekonom AI? Bagaimana perusahaan yang dijalankan manajer lulusan AI?
Ini bayangan yang mengerikan. Bukan, aku bukan anti AI. Aku pun menggunakannya. Tapi sebagai alat, sebagaimana alat yang lain. Ia jadi tempat mencari referensi, yang tetap harus ku telusuri kebenarannya. Ia tidak ku biarkan untuk membuatkan tugas untukku, sebab yang sedang belajar itu aku. AI tak butuh belajar, maka ia tak butuh mengerjakan tugas. Akulah yang sedang berlatih, sehingga akulah yang harus mengerjakannya sendiri. Ibarat makanan, aku boleh saja memesan makanan jadi, tapi tetap saja aku yang harus mengunyah dan menelannya sendiri.
Jadi, wahai mahasiswa yang menggunakan AI untuk membuatkan tugas, aku harap dosen kalian lebih cerdas dan membuat kalian tak lulus. Harus mengulang kuliah. Dan kalian sadar akan kebodohan kalian karena itu. Kalian itu sedang dididik, agar jadi terdidik. Maka bersungguh-sungguhlah dalam mendidik diri kalian sendiri. Tidak, kalian tidak sesibuk itu sehingga tak sempat mengerjakan tugas. Kalian hanya malas berpikir. Dan dunia ini akan berbahaya di tangan orang pemalas. Apalagi jika satu saat nasib memberikan pada orang pemalas itu jabatan.
Lalu yang kedua, soal mahasiswa doktoral yang membawa asisten. Mereka itu sekolah doktoral buat apa ya? Setahuku, studi doktoral adalah studi untuk menjadi seorang scholar. Ilmuwan. Peneliti. Setahuku pula, memang tidak semua orang harus menjadi ilmuwan, peneliti, dan karena doktor. Negara maju pun begitu. Karenanya, studi doktoral itu khas. Berbeda dari dua jenjang sebelumnya. Studi doktoral adalah studi penelitian. Studi menjadi seorang peneliti yang sungguh-sungguh mencari kebenaran dalam ilmu yang digeluti. Ia tak lagi banyak mendengarkan kuliah, tapi serius meneliti. Yang tak ingin menjadi ilmuwan, ya memang tak harus studi doktoral. Yang lebih senang menjadi praktisi, ya memang tak harus kuliah sampe S3. Di negara maju pun demikian. Lalu mengapa mereka, para pejabat itu, studi doktoral kalau tak ingin meneliti? Kalau tugas-tugas saja diserahkan pada orang lain? Seorang kandidat doktor itu sedang dilatih jadi peneliti mandiri dulu. Belum saatnya dibantu oleh orang lain. Kalau memang tak minat meneliti, ya tak usah jadi doktor. Toh kalian sudah jadi pejabat sukses dan kaya tanpa menjadi doktor. Yang aneh lagi, mengapa kampusnya menyetujui praktik itu? Filosofi pendidikan yang mana yang digunakan? Dunia akademik seperti apa yang ingin dibangun? Belum lagi di negeri ini, untuk menjadi doktor harus menerbitkan artikel di jurnal bereputasi. Lalu, artikel macam apa yang akan diterbitkan oleh ‘doktor atas bantuan asisten’ itu? Kemudian, bangunan ilmu seperti apa yang akan terbentuk atas artikel-artikel seperti itu? Sungguh, aku jadi meremehkan supremasi artikel jurnal saat ini, jika cara kerja kampus seperti itu. Konon, artikel jurnal lebih berbobot tinggi daripada kutipan buku, karena kebaruannya. Tapi jika yang memproduksi adalah ‘akademisi’ seperti itu, di mana bobotnya?
Inilah kecemasanku. Kecemasan akan terancamnya integritas keilmuan. Ketika dunia ilmu diisi oleh orang yang enggan belajar, bagaimana ilmu yang lahir darinya? Dan ketika suatu saat orang makin tak percaya pada ilmu pengetahuan ilmiah (karena tak ada kebaruan, akibat banyaknya artikel isinya itu-itu saja karena dibuatkan oleh AI), itulah yang disebut matinya kepakaran. Kehidupan kembali pada mitos. Bedanya, mitos itu kini tercampur dalam jurnal ilmiah.
Wahai mahasiswa doktoral yang tak sungguh-sungguh ingin jadi ilmuwan, berhenti saja lah kuliah. Jika kalian pejabat, sungguh waktu kalian lebih layak digunakan untuk mengurus persoalan rakyat secara sungguh-sungguh daripada dibuang percuma di ruang kuliah yang tak kalian sungguhi. Pun jika membutuhkan pengetahuan, bertanya sajalah pada ilmuwan sungguhan yang betul-betul memahami persoalan. Jangan rusak bangunan ilmu pengetahuan dengan kerakusan kalian akan gelar yang tak sanggup kalian emban.
