Filsafat sebagai Latihan Berpikir

Salah satu hal berharga yang ku pelajari sejak belajar filsafat secara formal adalah keterampilan berpikir. Berfilsafat berarti berpikir. Dan berpikir berarti menulis. Maka belajar filsafat sebenarnya adalah berlatih untuk berpikir secara ilmiah dan menuliskannya, dalam artian yang paling dasar. 

Aku memiliki beberapa tulisan ilmiah sejak kuliah S1. Sempat ada yang terbit pula di jurnal dan buletin. Tapi cara menulis ilmiah yang ku tahu rupanya masih bisa dipertajam lagi. Begini ceritanya. 

Saat menulis skripsi, aku belajar bahwa menulis ilmiah, terutama penelitian, itu ya menulis setidaknya dalam lima tahapan. Pertama adalah merumuskan masalah. Kedua adalah melakukan tinjauan literatur. Ketiga adalah merumuskan metode. Keempat melakukan penggalian dan pengumpulan data. Kelima membuat analisis dan kesimpulan. Logikanya begini. 

Menulis ilmiah itu dimulai dari perumusan masalah. Apa persoalan yang mau kita kaji atau teliti? Nah, sejak S1 aku belajar kalau masalah itu dirumuskan dengan mengenali kesenjangan antara apa yang seharusnya dengan apa yang terjadi saat ini. Seharusnya berat badan orang dengan tinggi badan sepertiku adalah rata-rata 60 kg, tapi kondisi saat ini adalah 75 kg. Itu masalah. Seharusnya karyawan bisa mencapai KPI 100%, nyatanya hany 80%. Itu masalah. 

Nah, saat masalah sudah dirumuskan, saatnya untuk mencari jawaban atas permasalahan. Dalam logika berpikir ilmiah, kita berusaha mencari jawaban yang setepat dan seandal mungkin. Dan untuk itu, kita mencurigai bahwa sejarah ilmu pengetahuan jangan-jangan pernah menawarkan sebuah pemikiran atas persoalan yang kita angkat itu. Masak sih kita satu-satunya orang yang pernah bertanya bagaimana menurunkan berat badan? Masak sih kita satu-satunya di dunia yang pernah bertanya bagaimana meningkatkan produktivitas karyawan? Jangan-jangan sudah ada, atau bahkan banyak. Daripada kita mencurahkan banyak waktu dan tenaga untuk meneliti apa yang jangan-jangan sudah ada, lebih baik kita menelusuri dulu, apa saja yang sudah ada. Itulah tinjauan literatur. 

Dari tinjauan literatur, ada beberapa kemungkinan yang bisa kita temukan. Ah, ternyata memang ada yang pernah menemukan solusi persoalan kita. Ya bisa kita pakai. Tapi biasanya apa yang sudah pernah dilakukan orang lain, kadang tidak tepat betul dengan situasi yang kita alami. Di situlah kita punya peluang membuat modifikasi. Kemungkinan kedua, ternyata tidak ada yang punya jawaban, atau kalaupun ada, rupanya parsial. Di sana pula lah kita punya peluang untuk merumuskan hal baru. Kemungkinan lain, ada jawaban, tapi kita tidak sepenuhnya setuju, karena kita punya pandangan lain, itu juga peluang.

Intinya, sekarang kita jadi menemukan apa yang perlu kita lakukan lebih lanjut untuk menemukan jawaban yang betul-betul meyakinkan. Karena itulah, langkah ketiga adalah kita merancang apa yang akan kita lakukan untuk menemukan jawaban yang meyakinkan itu. Itulah rancangan metode. Apa saja langkah-langkahnya. Data seperti apa yang kita butuhkan, dan bagaimana data itu akan didapat. Lalu, kita eksekusi lah pengambilan data itu, kemudian dianalisis. Dan akhirnya sampai pada kesimpulan jawaban.

Begitulah ringkasnya logika berpikir ilmiah yang ku pelajari dulu. Dan logika itu membantuku dalam menulis banyak hal, termasuk tulisan-tulisan ringan keseharian. Logika itu pula yang membantuku menemukan jawaban atas persoalan-persoalan di pekerjaan. Hasil risetku mungkin sudah tak lagi relevan. Tapi kemampuan yang terlatih dalam meneliti itu selalu relevan. 

Nah, saat belajar filsafat, aku baru tahu kalau logika berpikir ilmiah yang ku jelaskan tadi itu bisa dikembangkan sedemikian rupa. Perumusan masalah, misalnya, bisa berupa persoalan filosofis, sehingga memang tak konkrit seperti menurunkan berat badan atau meningkatkan produktivitas. Masalah dalam filsafat bisa berupa pertanyaan yang abstrak seperti, “Apa yang disebut kebenaran? Apa hakikat dari jati diri? Apa itu yang indah di masa kini? Bagaimana menemukan makna? Mengapa pendidikan direduksi melulu soal pengukuran dan bukannya pertumbuhan diri?” Dan bukan saja permasalahannya yang abstrak, jawabannya pun bisa abstrak. Sebuah istilah dalam filsafat bisa jadi penemuan. Martin Heidegger, misalnya, merumuskan istilah baru untuk menyebut manusia, dasein—yang ada di sana. Kurang abstrak apa coba? 

Belum lagi tinjauan literatur. Jika dalam penelitian ‘sains’ (baca tulisanku sebelumnya untuk tahu mengapa ku gunakan tanda petik) kita cenderung memilih sebuah teori tertentu sebagai kerangka untuk kemudian merumuskan metode, maka dalam filsafat, teori itu sendiri bisa dipertanyakan lebih dulu, “Apakah teori tersebut relevan? Apakah ada latar belakang pemikiran dari teori tersebut yang sebenarnya perlu dikritisi terlebih dahulu? Bukankah teori tersebut mungkin mengandung bias tertentu dari perumusnya yang perlu ditinjau ulang?” Maka penelitian filsafat memang tidak terlalu membutuhkan data empiris, sebab data empiris itu kan didapat melalui metode. Metode dirumuskan dari sudut teori tertentu. Nah, bagaimana mau mempercayai data kalau landasan teori yang jadi dasar perumusan metode itu sendiri masih ingin kita permasalahkan? 

Maka dalam kajian filsafat, sungguh penting untuk tidak saja menelaah sebuah pemikiran, tapi juga menelusuri latar belakang kehidupan sang pemikirnya, bahkan situasi sosial politik tempatnya hidup pada saat itu. Sebab itu semua mempengaruhi pemikirannya. Jadilah hampir selalu akan kita temukan dalam tulisan ilmiah filsafat, ada biografi intelektual dari sang pemikir yang jadi fokus kajian. Biografi bukan sekedar cerita, melainkan kerap merupakan unsur penting untuk memahami pemikiran seseorang. 

Di titik inilah, aku belajar bahwa tidak pernah ada pemikiran yang tidak memiliki ruang untuk dikritisi, dan kemudian dikembangkan. Yang namanya kebaruan dalam penelitian itu selalu mungkin, sebab paling tidak, sebuah pemikiran akan selalu terbatasi dalam ruang dan waktu tertentu. Sebuah teori dan teknik selalu memiliki keterbatasan, setidaknya ketika ia melewati ruang dan waktu tertentu. Apa yang berlaku bagi masa lalu belum tentu berlaku bagi masa kini. Apa yang berlaku bagi laki-laki belum tentu tepat bagi perempuan. Apa yang pas bagi orang dewasa belum tentu pas bagi anak-anak. Apa yang cocok di ‘Barat’ belum tentu cocok di ‘Timur’. Apa yang dimaklumi dalam kalangan Muslim belum tentu dimaklumi dalam kalangan Kristen. 

Inilah sebab, ilmu pengetahuan bisa terus berkembang, dan biasanya didahului oleh perkembangan di ranah filosofis. Maka kajian filosofis, menjadi amat penting untuk menjadi pijakan penemuan-penemuan baru. Kajian filosofis ibarat kajian yang membongkar dan membangun kembali fondasi sebuah bangunan. Saat fondasi sudah dibuat, dan bangunan jadi, ia kerap tak tampak. Yang tampak adalah tiang, dinding, atap, dan dekorasinya. Maka filsafat kerap dipertanyakan fungsi keberadaannya. Tapi di momen kita ingin membangun rumah 5 lantai, sedangkan fondasi rumah kita yang ada saat ini baru bisa untuk 2 lantai, maka tak ada pilihan lain selain membongkar dulu fondasinya dan membangun kembali yang lebih kokoh untuk 5 lantai. 

Jadi, kalau ditanya apa manfaat yang ku dapat dari belajar filsafat, jawaban paling mudah adalah aku belajar berpikir lebih baik, dan aku belajar menulis lebih komprehensif. Dan ini, rupanya, perjalanan yang tak ada ujungnya. 

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *