Ini adalah jawaban atas pertanyaan yang amat sering diajukan oleh kawan-kawan yang tahu aku kuliah filsafat. Aku pernah menulis artikel beberapa tahun lalu soal hal ini. Tapi menengok ke belakang, setelah menyelesaikan magister, aku menemukan alasan berbeda yang membuatku kini masih melanjutkan belajar filsafat.
Sejak memutuskan kuliah magister, ku sadari kalau pertanyaan-pertanyaan penelitianku memang lebih merupakan pertanyaan filosofis daripada sains. Mmm.. biarkan saja dulu kata sains di sini dipahami terpisah dari filsafat, meskipun pada dasarnya ia anak dari filsafat. Pertanyaan saintifik, misalnya, adalah pertanyaan yang lebih fokus pada hal-hal yang konkrit, seperti ‘Bagaimana model pendidikan yang efektif untuk memajukan kehidupan bangsa?’ atau ‘Bagaimana meningkatkan produktivitas karyawan tanpa mengorbankan kesehatan mental?’. Sementara itu, terkait dua contoh tadi, pertanyaan yang akan ku ajukan lebih seperti, ‘Manusia seperti apa yang perlu dibangun oleh bangsa ini?’ dan ‘Apa hakikat produktivitas sehingga ia menjadi begitu sentral bagi organisasi?’ Ini adalah pertanyaan-pertanyaan penelitian yang arahnya lebih filosofis.
Dalam kasus studi magister, aku bertanya ‘apa sebenarnya keilmiahan itu?’ Dari situ aku bertemu dengan pemikiran epistemologis dari Abraham Maslow. Dan kini, melanjutkan studi doktoral, aku bertanya ‘Apa itu diri dan identitas? Mengapa identitas penting? Bagaimana identitas terbentuk? Apa saja sumber-sumber pembentuknya?’ Untuk itu aku perlu menemui beberapa pemikir, salah satu yang akan ku telusuri adalah Charles Taylor yang menulis karya tebal Sources of the Self.
Guru-guruku di STF Driyarkara mengajarkan kalau pertanyaan filosofis itu biasanya bisa digolongkan ke dalam beberapa kategori. Aku coba terangkan empat di antaranya. Kalau kamu menemukan salah satunya ternyata adalah pertanyaan penelitianmu, mungkin kamu bisa mempertimbangkan untuk kuliah filsafat.
Pertama, epistemologi. Ini adalah pertanyaan tentang apa itu pengetahuan, bagaimana kita mengetahui? Misalnya, dalam konteks bidang ilmu awalku psikologi, pertanyaan epistemologis itu seperti ‘Bagaimana psikologi menjadi ilmiah? Apakah jiwa bisa diketahui?’ Kamu yang belajar psikologi tentu tahu bahwa keilmiahan dalam sejarah psikologi itu bergerak terus, yang satu sama lainnya bisa tampak berlawanan. Psikoanalisis, misalnya, dianggap tidak ilmiah oleh behaviorisme. Behaviorisme sendiri, dianggap terlalu sempit keilmiahannya oleh humanistik. Toh, ketiga mazhab itu masih ada hingga kini, dipelajari secara ilmiah, dianggap ilmiah karenanya masih bisa dipraktikkan, meskipun satu sama lain tak sepenuhnya saling setuju. Perkembangan belakangan seperti psikologi Islam, misalnya, lahir karena mempersoalkan keilmiahan psikologi secara berbeda.
Kedua, etika. Ini pertanyaan tentang bagaimana baik dan buruk itu ditentukan. Nantinya ia akan jadi landasan bagi penyusunan kode etik. Misalnya, kode etik psikologi yang menyatakan bahwa psikolog harus menjaga informasi pribadi kliennya, tentunya didasarkan pada sebuah kriteria kebaikan tertentu. Saat sudah jadi kode etik, ia sudah menjadi aturan. Namun aturan itu pasti disusun di atas landasan pemikiran etis tertentu. Belakangan kita membaca berita tentang kemungkinan perlu diaturnya penyebaran foto oleh para fotografer olahraga yang memotret orang saat momen Car Free Day, misalnya. Isu ini muncul karena di baliknya ada persoalan kepemilikan. Apakah imaji kita merupakan milik kita sehingga kita berhak menentukan penggunaannya?
Ketiga, estetika. Ini pertanyaan tentang apa yang indah. Kita ingat beberapa tahun lalu sempat ada perdebatan apakah pakaian adat tertentu yang menampakkan bagian tubuh perempuan, merupakan pornografi atau tidak ketika ia ditampilkan secara publik? Sebagian yang mengatakan tidak melandaskan pemikirannya pada bahwa konteks pakaian adat itu adalah kesenian, niatnya menunjukkan keindahan. Dalam perdebatan ini ada persoalan estetika, yakni apa yang disebut indah?
Keempat, ontologi. Ini adalah pertanyaan yang menurutku paling abstrak bagi orang awam. Pertanyaan ontologis adalah pertanyaan tentang apa yang ada? Apa hakikat dari sesuatu? Mengapa sesuatu dianggap ada dan bukannya tidak ada? Untuk sekedar memberikan ilustrasi, mungkin contoh ini membantu. Dalam psikologi ada pembahasan mengenai karakter. Topik itu ada. Tidak mungkin saat ini orang psikologi menganggap karakter itu tidak ada. Tapi pertanyaannya, bagaimana ia bisa dianggap ada? Kan karakter itu tidak seperti batu bagi geolog, yang bisa diindera langsung oleh mata. Batu bisa ditunjuk. Tapi karakter tidak. Coba saja tunjukkan karakter. Kita hanya bisa mengatakan karakter ada, selalu melalui serangkaian cara tertentu. Nah, pertanyaanya, bagaimana karakter bisa dianggap ada? Menariknya, ilmu-ilmu humaniora sungguh amat banyak berurusan dengan topik seperti ini. Topik yang dianggap ada, namun tak bisa secara langsung ditunjuk keberadaannya secara inderawi.
Pertanyaan-pertanyaan dalam empat kategori di atas tidak bisa ditemukan jawabannya dalam ‘sains’. Pertanyaan tentang hakikat jiwa atau hakikat manusia, misalnya, sulit untuk dijadikan tema tesis atau disertasi di kampus-kampus psikologi. Padahal, psikologi konon merupakan ilmu jiwa. Nah, jika kamu meminati pertanyaan hakikat jiwa atau hakikat manusia, ia lebih mungkin ditelaah di fakultas filsafat.
Memang, di masa kini, filsafat dan sains tampak terpisah. Jadilah, misalnya, psikologi kini lebih banyak membahas manusia dengan sudut pandang praktis. Sisi filosofisnya diserahkan pada fakultas filsafat. Padahal, apa yang praktis selalu didasarkan pada pengandaian filosofis tertentu. Jadilah proses berpikir ilmiah kerap hanya disandarkan pada penelusuran di kalangan ‘sains’ saja. Padahal, apa yang dilakukan dalam filsafat pun sejatinya adalah ilmiah. Jika berpikir ilmiah artinya berpikir sistematis, kritis, rasional, dan terbuka (non mitis), maka filsafat mengajak kita untuk melakukannya secara ketat. Bedanya, dalam kajian filsafat, berpikir ilmiah memiliki ruang yang lebih luas dan tidak hanya menggunakan satu sudut pandang saja (misalnya, positivisme).
Jadi, gimana? Kamu yang mau kuliah, pertanyaan-pertanyaan penelitianmu lebih filosofis atau praktis? Kalau filosofis, cus lah kuliah filsafat.
