Sebutan guru, mengandung dua kata, digugu dan ditiru. Sederhananya, guru adalah orang yang pada dirinya ada kelayakan untuk ditiru. Apa yang ditiru? Tentu saja ilmunya. Tapi tak sekedar ilmu sebagai pengetahuan, melainkan ilmu yang telah menjadi lelaku. Sebab baru ketika ilmu jadi perilaku, ia tampak, hingga bisa ditiru. Sebelum ilmu menjadi tindakan, ia belum bisa jadi teladan.
Maka seorang guru, pertama-tama mestilah seorang penggemar pada ilmu. Hari-harinya adalah pemburu ilmu. Ia bergulat dengan ilmu. Passion-nya adalah ilmu. Dengan demikian, seminimal-minimalnya, kegandrungannya pada ilmu itulah yang kan diteladani oleh murid-muridnya.
Tentu saja tak semua ilmu mudah untuk dipraktikkan, diamalkan. Sang guru pun, kala banyak ilmu yang ia ketahui, mungkin kan memerlukan perjalanan panjang untuk sekedar menerapkan beberapa bagian. Ya, tak apa. Setidaknya, apa yang dipraktikkan itu berbasis pada ilmu yang dengan sungguh-sungguh dicarinya. Setidak-tidaknya pula, tindakannya adalah tindakan yang proven, terbukti, sebab ia hasil dari ilmu yang benar-benar ditelusuri.
Maka sungguh mengherankan, misalnya, jika di zaman ini, ada guru yang tak gemar mencari ilmu. Tak memegang buku di tangannya, untuk dibacanya sendiri. Bukunya hanya buku ajar yang digunakannya untuk mengajar. Terlalu lama ia tak memegang buku untuk kegemarannya sendiri, kesenangannya sendiri, keingintahuannya sendiri. Bukankah kita jadi bertanya-tanya, kapan terakhir kali ia merasakan pencerahan dari apa yang dibacanya, ditemukannya dalam lembar-lembar buku yang ditulis dengan sungguh-sungguh itu? Lalu, pada guru yang demikian, apa kiranya keteladanan yang hendak ditunjukkan pada murid-muridnya?
Sebuah nasihat mengatakan, “Guru sejati, diamnya pun mengajari.” Bagaimana bisa demikian? Bagaimana mungkin diamnya seorang guru pun mengajari kita sesuatu? Ya, lantaran diamnya itu sendiri adalah diam dalam perenungan. Diam yang berdasar. Diam yang dilandaskan pada ilmu. Sebab semua tindakannya didasarkan pada ilmu, maka para murid tahu, jika ia bicara, bicaranya berilmu. Pun jika ia diam, diamnya tentu pula berilmu.
Direnung-renungkan, negeri ini didirikan oleh para pemburu ilmu, yang juga guru. Bung Karno dan Bung Hatta, misalnya, adalah para guru pada mulanya. Dan tentu saja, pembaca buku yang rakus. Dan hingga kini, keduanya masih mendidik kita lewat karya-karyanya. Ingin berguru pada Bung Karno? Bacalah “Di Bawah Bendera Revolusi”. Ingin berguru pada Bung Hatta? Bacalah “Untuk Negeriku”, “Indonesia Kita”, dan berjilid-jilid kumpulan tulisan yang sampai kini masih tersedia. Tapi tulisan-tulisan itu tentu lahir dari isi kepala yang penuh hingga meluap-luap, menunggu untuk dituangkan.
Ah, jangan-jangan demikianlah layaknya menjadi guru. Ia memburu ilmu, ia berbagi ilmu. Membaca dan menulis. Dengan keduanya, ia tak pernah berhenti mengajar, meski usia telah tertutup.
