Jika ada satu pembelajaran paling berdampak dari NLP adalahbe kecenderungan pragmatisnya untuk membuat segala sesuatu jadi konkret. Yang paling mudah ya, model perubahan itu. NLP Change Model. Dengan skema paling dasar adalah PS-DS, Present State-Desired State. Perubahan adalah perpindahan dari Kondisi Sekarang atau Saat Ini ke Kondisi yang Diinginkan.
Ini saja, kalau dipraktikkan dengan serius, akan membuat banyak perubahan lebih mudah dijalani.
Ya, sebab dalam pandangan NLP, perubahan itu kerap tidak terjadi karena tidak pernah didefinisikan secara jelas. Yang paling umum adalah orang belum merumuskan apa yang diinginkan, apa yang jadi tujuan. Jika saya tidak ingin grogi dan kena mental saat presentasi, dan terutama dicecar pertanyaan, maka apa yang saya inginkan? Jika saya tidak ingin terus-menerus mengenang mantan saya, maka apa yang saya inginkan? Jika saya tidak ingin menunda-nunda pekerjaan, maka apa yang saya inginkan?
Pertanyaan-pertanyaan ini mudah diajukan, tapi tak mudah dijawab, terutama oleh orang sedang dalam kondisi sebagai klien, baik coaching maupun counseling. Tapi jika kita cukup rajin berlatih NLP, kita akan dengan mudah mengatakan bahwa saya ingin dapat presentasi dengan tenang bahkan ketika dicecar pertanyaan. Saya ingin melanjutkan hidup dengan membuka hati saya pada orang lain yang lebih baik. Saya ingin memiliki rasa segera ingin menyelesaikan setiap pekerjaan yang menjadi tanggung jawab saya.
Menjawab seperti ini, kemudian, akan membuat kita lebih mudah untuk menentukan sumber daya berupa tindakan yang perlu dilakukan untuk melakukan perpindahaan dari kondisi saat ini ke kondisi yang diinginkan. Jika pun kita ternyata belum mengetahui tindakan apa yang efektif untuk berpindah kondisi, kita setidaknya bisa menggunakan semangat lain dalam NLP: modeling. Meniru.
Ya, belajar saja pada orang lain yang sudah lebih dahulu bisa mencapai apa yang kita ingin capai. Proses belajar dengan meniru sejatinya merupakan proses belajar paling dasar bagi kita, manusia. Bukankah banyak keterampilan fundamental dalam diri kita dipelajari lewat peniruan? Bicara, berjalan, berpikir, semuanya kita adopsi dari orang-orang di sekeliling kita tanpa permisi. Kita tiru saja dan jadikan milik kita.
Memang, seiring waktu, kemampuan meniru ini seolah menurun keampuhannya, karena kita kemudian lebih banyak belajar secara formal di sekolah. Tapi kemampuan meniru sejatinya tidak pernah hilang. Kita hanya perlu lebih sering mengamati dan bergaul dengan orang-orang yang sudah mampu mencapai berbagai hal yang kita inginkan. Sayangnya, ada sebagian orang lebih senang bersama mereka yang senasib, daripada mereka yang lebih baik. NLP sebenarnya mengajak untuk membalik kecenderungan itu. Jika kita ingin berhasil, aktifkanlah kembali keterampilan meniru kita. Pun jika belum sempat belajar teknik-tekniknya dalam NLP, setidaknya mulailah dengan mengamati mereka yang memiliki kemampuan yang ingin kita kembangkan. Kurang-kurangilah bergaul dengan mereka yang senasib, perbanyaklah bertemu dengan mereka yang keberhasilannya kita dambakan.
