Belajarlah dari Yang Lebih Baik

NLP lahir dari sebuah semangat bernama modeling. Modeling berarti memodel, meniru, meneladani. Adalah Richard Bandler, yang memiliki bakat alamiah meniru perilaku orang lain, namun tak seperti para komedian yang meniru tokoh politik, ia meniru Virginia Satir dan Fritz Perls. Maka hasil tiruannya tidak sekadar humor, melainkan teknik-teknik terapi. Atas bantuan John Grinder dan rekan-rekan lainnya, apa yang ia lakukan kemudian menjadi model dan teknik dalam NLP.

Michael Hall, penggagas Neuro-Semantics, kemudian mengajukan pertanyaan menarik. Dari mana datangnya ide memodel itu? Kan tak mungkin terjadi begitu saja. Pun jika iya, sejarah ilmu pengetahuan selalu menunjukkan bahwa penemu kerap tidak atau belum menyadari saja bagaimana penemuan mereka sejatinya dipengaruhi oleh orang lain. Penelusuran Hall kemudian sampai pada kesimpulan bahwa semangat memodel lahir dari semangat zaman psikologi di era itu, yakni psikologi humanistik yang dipelopori oleh Abraham Maslow dan kawan-kawan. Psikologi humanistik, mazhab ketiga dalam psikologi barat arus utama itu, memiliki landasan keyakinan bahwa psikologi selayaknya dikembangkan dengan cara meneliti manusia yang telah mencapai aktualisasi dirinya. Manusia yang telah berhasil menjadi yang terbaik yang ia bisa. The best specimen. Jika kita ingin tahu seberapa cepat manusia bisa berlari, kata Maslow, maka tak ada gunanya jika kita melulu mempelajari orang rata-rata. Kita perlu mempelajari mereka yang telah memenangkan medali emas Olimpiade, dan mencari bagaimana mereka berlatih. Demikian metafora yang ia tuturkan dalam The Farther Reaches of Human Nature.

Sampai di sini, belajar NLP itu sebenarnya gampang. Sebelum belajar model dan teknik yang banyak itu, belajar saja dulu untuk mengamati orang-orang yang ingin kita teladani. Pilih dengan cermat, kemudian pelajari mereka sebaik mungkin. Tidak harus yang jenius, satu level lebih baik dari kita saja sudah cukup untuk memulai. Sebab mereka yang jenius kerap masih terlalu jauh untuk kita ikuti. Mereka yang sedikit lebih baik dari kita akan tampak lebih realistis untuk diikuti langkah-langkahnya.

Latihan ini saja, jika kita lakukan dengan baik, akan memungkinkan kita untuk menapaki jalan perubahan selangkah demi selangkah. Sebab latihan ini, di usia dewasa, jadi tidak alamiah. Padahal, metode belajar dengan cara meniru adalah metode belajar paling dasar yang kita gunakan untuk membangun keterampilan-keterampilan yang kita gunakan seumur hidup. Cara kita makan, bicara, bertindak, hingga berpikir, hampir tidak pernah kita pelajari lewat kurikulum yang tertuang dari buku pelajaran. Kita mempelajarinya lewat proses peniruan dari orang-orang yang hadir di sepanjang awal hidup kita. Namun memang, ketika kita mulai bersekolah, dan belajar menjadi kegiatan yang formal dan terstruktur, keterampilan meniru ini pelan-pelan luntur. Padahal kalau dipikir-pikir, logat bicara kita yang sangat khas dan sulit diubah itu jelas dipelajari lewat proses memodel, bukan kursus resmi.

Nah, NLP, bagi saya, mengingatkan kembali bahwa memodel itu proses belajar yang amat layak kita latih kembali. Fran Burgess merangkum secara mendalam metodologi memodel yang ada di berbagai aliran NLP dalam satu karya bagus bertajuk The Bumper Bundle Book of Modeling. Namun jika kita belum sampai merasa perlu mendalami buku itu, setidaknya mulailah dengan berlatih kembali mengamati orang yang keahliannya ingin kita miliki, yang lebih baik dari kita. Lalu coba tirulah.

Tapi, hati-hati, jangan meniru yang permukaan. Semangat NLP yang lain adalah berusaha menemukan perbedaan yang benar-benar membedakan. Apa tepatnya cara berpikir dan berperilaku yang membuat ia bisa terampil seperti itu? Jika ingin memodel kebiasaan olahraga rekan kita yang sangat konsisten, jangan cuma meniru jam tangan dan sepatunya. Tapi tirulah kebiasaan awalnya. Apa saja yang ia lakukan ketika pertama kali membangun kebiasaan itu. Galilah pengalamannya, lalu tirulah yang realistis sesuai keadaan kita.

Menjalankan latihan seperti ini saja, akan mengubah banyak orientasi hidup kita. Kebanyakan orang sibuk mencari rekan yang senasib untuk berbagi penderitaan. Sementara dengan semangat memodel, kita justru mencari orang yang berbeda nasib dari kita, dan menggali apa saja cara hidup yang membedakannya dari kita, kemudian meniru apa yang mungkin kita tiru.

Benarlah nasihat jika seseorang akan bergantung pada dengan siapa ia berkawan. Banyak berkawan dengan orang yang hebat, kemungkinan besar kita akan meniru tindakan yang membuatnya hebat. Gemar berkumpul dengan para pengeluh, kemungkinan nasib kita akan tak jauh beda.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *