Di lewat tengah Ramadan ini, aku merenungi kisah iblis si pembangkang. Kisah ini, terasa olehku, menunjukkan betapa Allah itu Maha Pengasih, Maha Penyayang. Bayangkan, makhluk yang Ia ciptakan, melawan perintahNya secara terang-terangan. Tidak cuma dalam sekali kalimat, tapi terus berlanjut. Iblis tidak mau bersujud. Kemudian melanjutkan dengan sumpah akan menyesatkan manusia.
Bayangkan, bayangkan saja. Jika di hadapan kita ada adegan seorang raja, memberikan perintah pada seseorang, yang seseorang itu tak saja tidak mematuhi, melainkan juga bersumpah akan terus membangkang. Apa yang kiranya akan dilakukan sang raja?
Ya, tak perlu lama. Si pembangkang akan segera dieksekusi. Mati. Saat itu juga.
Tapi Allah bukanlah raja serupa manusia. Allah itu pemilik segala. Termasuk pemilik iblis. Tidak perlu terburu-buru menghukum iblis, toh iblis takkan bisa melakukan apa-apa tanpa izinNya. Pembangkangannya itu pun terjadi karena kemampuan yang Ia berikan pada iblis. Allah tahu bagaimana potensi manusia, makhluk yang diciptakanNya untuk jadi khalifah. Makhluk ini, tampak lemah, tapi memiliki potensi luar biasa. Potensi yang pada saat yang sama bisa membuatnya masuk kembali ke surga, atau jatuh ke neraka. Justru karena ada potensi inilah, manusia perlu diuji. Dan biarkanlah godaan iblis jadi ujian itu. Manusia yang lulus ujian saja yang berhak untuk kembali ke surga. Sisanya? Biarkankah ke neraka, bersama iblis si pembangkang itu.
Kembali ke perumpamaan raja tadi. Raja itu manusia. Hatinya tak selapang itu. Kala dilawan oleh anak buah, gengsinya membuat ia perlu melakukan tindakan, sebab jika tidak akan jatuh wibawanya. Kasih dan sayangnya pun terbatas. Hanya bisa diberikan pada yang sesuai selera.
Tapi Allah, adalah Sang Maha. Maha dalam kasihNya. Pemilik segala. Makhluknya mau apa saja, patuh atau durhaka, toh itu semua dalam pengawasanNya, perhitunganNya, menggunakan sumber daya yang Ia sediakan. Makhluk itu tak benar-benar membangkang. Ia hanya pura-pura bisa membangkang. Mungkin mirip seperti anak kecil yang ngambek pada orang tua, dan orang tuanya pun hanya tersenyum, sebab tahu anak itu takkan bisa apa-apa dengan kengambekannya itu. Mau apa sih? Kabur? Minggat? Seberapa jauh? Paling di situ-situ saja. Maka orang tua malah akan merasa lucu alih-alih tersinggung.
Makhluk manusia ini, mau ke mana sih dengan pembangkangannya? Bisakah ia hidup sedetik saja tanpa ruang dan waktu yang disediakan olehNya? Bisakah ia melepaskan diri dari segala sumber daya dan pemeliharanNya? Tidak mungkin.
Inilah kasih sayang Allah yang paripurna. Jika kita belum merasakannya, bayangkan saja adegan iblis si pembangkang itu, yang dalam sekejap sanggup dimusnahkan oleh Allah. Tapi tidak. Dia biarkan makhluk itu terus ada hingga akhir zaman untuk menguji kita. Lalu kita ini mau jadi bukti yang mana? Yang bertakwa dan menjadi bukti akan potensi kebaikan? Atau yang durhaka dan menjadi bukti potensi keburukan?
Kita takwa atau durhaka, kasihNya tak berkurang sedikit pun. Saat durhaka, nafas kita masih ada, udara masih tersedia, tanah tempat berpijak masih kokoh, tubuh masih leluasa. Bahkan Dia firmankan, “Yaitu siapapun yang berbuat kejahatan di antaramu karena kebodohan, lalu ia bertobat dan memperbaiki diri, maka Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Al An’am: 54). Tidak pakai lama. Dia ampun segera insan yang sadar dan kembali kepadaNya. Ditutup aib dan dihapus dosanya. Sesuatu yang takkan mungkin dilakukan oleh sesamanya, sedekat apapun hubungan mereka.
Maka kebebasan insan dalam bermaksiat, bukanlah sebab Dia tak berdaya untuk menghukum segera. Tapi sebab Dia menyediakan waktu bagi hamba untuk menyadari kekhilafan, dan menyungguhi pertaubatan.
