Jika dirunut-runut, keputusanku belajar filsafat tidak bisa dilepaskan dari pengalamanku belajar Neuro-Linguistic Programming (NLP). Singkat cerita, ilmu psikologi praktis yang ku tekuni sejak 2004 itu kerap dianggap tidak ilmiah, bahkan disebut sebagai pseudosains (sains semu). Anggapan ini terutama muncul karena setiap kali kita melakukan pencarian tentang NLP di peramban seperti Google, yang akan kita temukan […]

Salah satu hal berharga yang ku pelajari sejak belajar filsafat secara formal adalah keterampilan berpikir. Berfilsafat berarti berpikir. Dan berpikir berarti menulis. Maka belajar filsafat sebenarnya adalah berlatih untuk berpikir secara ilmiah dan menuliskannya, dalam artian yang paling dasar.  Aku memiliki beberapa tulisan ilmiah sejak kuliah S1. Sempat ada yang terbit pula di jurnal dan

Filsafat sebagai Latihan BerpikirRead More »

Ini adalah jawaban atas pertanyaan yang amat sering diajukan oleh kawan-kawan yang tahu aku kuliah filsafat. Aku pernah menulis artikel beberapa tahun lalu soal hal ini. Tapi menengok ke belakang, setelah menyelesaikan magister, aku menemukan alasan berbeda yang membuatku kini masih melanjutkan belajar filsafat.  Sejak memutuskan kuliah magister, ku sadari kalau pertanyaan-pertanyaan penelitianku memang lebih

Mengapa Kuliah FilsafatRead More »

Ya, empat tahun lalu aku menulis sebuah artikel bertajuk “Perkenalanku dengan Filsafat”. Artikel itu menandai perjalananku belajar filsafat secara formal di STF Driyarkara. Rupa-rupanya, aku tak pernah lagi menulis soal perjalanan belajarku selama di sana, hingga akhirnya aku tahun ini lulus studi S2. Setahun matrikulasi, tiga tahun kuliah, total empat tahun. Lebih lama dari masa

Empat Tahun Belajar FilsafatRead More »