Puasa Mengajariku Berkata, “Cukup!”

Ya, inilah yang kudapatkan di Ramadhan tahun ini. Mungkin sudah seharusnya kupahami sejak bertahun-tahun lalu. Namun kepandiran yang tak kunjung sembuh ini rupanya baru sedikit terobati di tahun ini.

Apa pasal kupahami bahwa puasa mengajariku berkata cukup?

Sebabnya sederhana. Tiap kali menjelang berbuka puasa, nafsuku, yang sejatinya sedang terbebas dari godaan setan itu, terus bergejolak tuk minta dipuaskan dengan beragam kenikmatan. Tapi teguh kukokohkan diri bahwa aku hanya akan berbuka dengan barang satu-dua teguk air, dan sepotong makanan kecil. Setidaknya, kuusahakan lah demikian. Lalu segeralah kutunaikan shalat maghrib setelahnya, baru makan.

Dan, ya, dua jenis makanan itu segera menurunkan gejolak nafsuku hampir separuhnya. Maka ketika aku selesai shalat, dan kutatap lagi makanan yang tersedia, nafsuku jauh menjadi lebih jinak. Cukuplah kunikmati barang sepiring tak penuh untuk mengisi tenaga bekal shalat isya dan tarawih.

Demikian terjadi hampir sepanjang Ramadhan tahun ini. Tak bisa lebih dari itu. Pun ketika banyak tersedia sajian nikmat, diri ini seolah mengatakan, “Cukup.” Titik.

Ya, tubuh ini, sejatinya memiliki kebutuhan. Dan kebutuhan itu sungguh tak banyak. Namun nafsu yang dituruti menjadikannya membangun keseimbangan baru yang naik setiap saat, hingga seolah kebutuhannya begitu besar. Padahal kesemuanya semu belaka. Dan apa akibat diturutinya nafsu ini? Tentu lah lemahnya jiwa, lesunya ia menjalankan hal-hal yang lebih berguna. Sebab tubuh dan jiwa satu adanya. Di dunia, yang satu berjalin kelindan dengan yang lain.

Puasa tubuh semata, jika dijalani dengan hanya memenuhi kebutuhannya, sejatinya memang menjadikan jiwa suci adanya. Setidaknya, setahap demi setahap. Dan tahun ini, untuk pertama kalinya, kurasakan itu semua. Segalanya memiliki titik cukup. Inilah titik kebutuhan. Selebihnya hanyalah keinginan. Dan keinginan, adalah ruang bermain bagi setan mempermainkan nafsu. Yang perlahan-lahan menjauhkan jiwa dari Tuhan. Hingga kering, hingga lepas, hingga hampa.

Mencukupkan diri pada kebutuhan menjadikan jiwa bertumbuh. Puasa, ajar banyak alim ulama, adalah salah satu metode tazkiyatun nafs, penyucian jiwa, yang canggih. Dan tazkiyatun nafs, yang sering diterjemahkan sebagai penyucian jiwa itu, sejatinya memiliki makna lebih dalam sebagai penumbuhan jiwa. Wajarlah bila demikian. Sebab layaknya kita ingin naik tingkat, haruslah mencukupkan diri berdiri di tingkat yang bawah agar bisa naik ke atas. Maka agar jiwa bertumbuh, mampu naik mendekati Tuhan, diri mestilah mencukupkan kebutuhan fisik, untuk jiwa mampu melayang tanpa terbebani.

Ah, betapa sepele. Namun bertahun baru kupahami. Ini pun belum apa-apa, sebab makna puasa masih begitu luas dan dalam.

Esok Idul Fitri. Hati gembira bercampur rindu. Kegembiraan jiwa yang berhasil bertumbuh, menundukkan nafsunya. Rindu jiwa pada bulan yang seolah Tuhan begitu dekat setiap saatnya. Sungguh sajianNya begitu berlimpah, tapi diri ini menyia-nyiakannya begitu banyak.

Selamat hari raya. Taqabbalallahu minna wa minkum.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>