Banjir: Bersedih atau Bersyukur?

Banjir di kotaku belum lagi usai. Jalanan yang sempat terendam memang sudah bisa kulalui lagi, namun tayangan terakhir menyampaikan masih ada air yang ‘berontak’ dan kembali menggenang di beberapa tempat. Pantas ataupun tidak, dalam hati kecil aku bersyukur rumahku sama sekali tidak tergenang air. Kukatakan pantas atau tidak, sebab sisi lain diriku mengatakan aku seharusnya tidak bersenang hati, sebab banyak orang masih menangisi musibah yang menimpa mereka.

Terlintas di benakku, banjir adalah fenomena yang unik. Ia bisa dibilang adalah bencana sebab akibat yang dimunculkan begitu luar biasa–meskipun kita sudah bisa perkirakan kepastian datangnya. Namun hal yang menarik bagiku, lagi-lagi alam mengajarkan bahwa keseimbangan adalah prinsip yang ia pegang teguh. Ya, di kala beberapa orang harus kehilangan yang mereka miliki, seorang penarik gerobak bisa mendapatkan penghasilan ratusan ribu dalam sehari demi menolong orang-orang yang terpaksa keluar rumah (atau terjebak tidak bisa pulang?) di hari-hari itu. Kita boleh terenyuh melihat para pengungsi yang makan dan berpakaian seadanya, tapi kita tampaknya juga harus tersenyum gembira jika mengamati para montir yang kebanjiran order perbaikan kendaraan yang terendam air. Begitu pula kita harus prihatin dengan perusahaan asuransi (tempatku bekerja salah satunya) yang pusing tujuh keliling menangani klaim banjir, sekaligus kita harus turut bahagia membayangkan peningkatan premi yang mungkin didapat ketika banyak orang (dan korban) sudah semakin sadar pentingnya asuransi.

Aku pun teringat ucapan seorang rekan ketika bertugas sebagai tim Crisis Center untuk membantu rekan-rekan yang rumahnya kebanjiran, “Alam itu luar biasa ya. Dia tidak terima dengan perlakuan kita yang membuang sampah sembarangan. Sekarang dia kembalikan tuh sampah semua sama kita.” Bang! Rasa malu pun muncul dalam hatiku. Barangkali tumpukan sampah itu juga adalah kontribusiku selama ini.

Kalau sudah begini, aku pun masih bingung apakah harus bersyukur atau bersedih dengan banjir yang (lagi-lagi) menimpa kotaku ini. Kupikir-pikir, mungkin tak seharusnya aku memilih. Bersedih sembari mensyukuri boleh juga kan? Toh bersyukur sejatinya adalah belajar, merenung, dan bertindak untuk memaksimalkan potensi dan perbaikan.

Saatnya berbenah.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *