Perlindungan dari Kesia-siaan

“Sesiapa yang dikehendaki berada dalam kebaikan, kan dilindungi dari sia-sianya perkataan.”

Setiap perkataan, sebagaimana perbuatan, takkan satu pun terluput dari perhitungan. Yang buruk kan dipertanggung jawabkan. Yang baik kan ditanya niatnya. Yang tak buruk dan tak baik, kan menjadi kesia-siaan. Dan jangan kira yang sia-sia kan dibiarkan saja. Ia pun kan ditanya, apa pasal waktu dan kemampuan yang tersedia tak digunakan dalam kebaikan.

Maka para shalih adalah orang-orang yang amat cermat dalam tiap perkataan. Kaidahnya adalah: pastikan setiap kata mengantar pada kebaikan, atau diam. Sebab dalam diam, setidaknya ada keselamatan.

Itu para shalih. Yang dalam hatinya memang hampir tak bersisa kecuali keimanan. Bagaimana dengan diri yang jauh dari keshalihan?

Mudah-mudahan, Dia berikan setidaknya penjagaan. Yakni jika pun belum teguh niat tuk menghindarkan diri dari kesia-siaan, moga dilindungi darinya. Pernahkah terbersit niat bersia-sia, lalu Dia sulitkan perjalanan? Pernahkah tergerak diri melakukan sesuatu, lalu diaturkanNya kewajiban lain tuk dipenuhi? Pernahkah hendak bertemu dengan seseorang, dan tiba-tiba ia membatalkan sebab beragam alasan?

Bisa jadi, ya, bisa jadi, itulah cara Dia menghindarkan diri ini dari kesia-siaan. Sebab kita mungkin waspada dari berbuat dosa, namun sungguh jebakan kesia-siaan begitu samar tuk dielakkan. Maka bersyukurlah, wahai diri, kala dihindarkan, sebab Dia masih restui diri ini berada di jalan kebaikan.

Spread the love

2 thoughts on “Perlindungan dari Kesia-siaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *