Sulitnya Ikhlas Itu…

Ikhlas, diajarkan oleh para guru, bermakna murni. Persis serupa susu yang paling murni, belum tercampur apapun. Susu, dicampur dengan kopi dan teh, akan tetap teridentifikasi sebagai susu, namun tujuan keberadaannya bergeser dibandingkan dengan susu yang murni. 

Ikhlas, dijelaskan oleh para guru pula, adalah perbuatan hati, gerakan batin. Ia tak ada hubungannya dengan apa yang tampak pada lahir. Buktinya, kita toh diperintahkan tuk bersedekah, misalnya, dengan terbuka maupun sembunyi-sembunyi. Keduanya memiliki nilai, selama yang di hati ini murni. Sebagian orang mengatakan sembunyi-sembunyi itu lebih baik, sebab ia mudah menjaga kemurnian dibandingkan yang terang-terangan. Tapi, benarkah demikian?

Mari kita telaah. 

Perbuatan baik yang terang-terangan, justru karena ia telah diniatkan demikian, bisa jadi membuat pelakunya telah mempersiapkan diri, mempersiapkan hati. Ia tahu perbuatannya akan dilihat orang. Ia paham akan datangnya pujian—atau cibiran. Maka ia bisa jadi malah lebih baik dalam mempersiapkan diri. 

Sementara yang sembunyi-sembunyi, mungkin selamat dari pujian atau sindiran. Tapi ada tantangan yang lain. Yakni, godaan untuk mengharapkan balasan. Misalnya, kita berbuat baik pada seseorang, yang ia tak sadar akan perbuatan kita. Anggaplah, seorang atasan yang ‘menyelamatkan’ penilaian kinerja anak buahnya di akhir tahun. Karena sang anak buah tak sadar kebaikan atasannya, maka tingkah lakunya biasa saja. Satu kali, terjadi perbedaan pendapat yang membuat sang anak buah berani melakukan konftrontasi pada atasannya. Sang atasan tak terima, lalu dalam hati tersirat, “Tak tahu diri. Kemarin ku selamatkan penilaian karyamu, sekarang begini kelakukanmu.” Siratan kalimat itu tak terucap, tentu saja. Namun ia sungguh mengancam keikhlasan yang tadinya ada dalam dirinya. 

Belum lagi soal sedekah. Sedekah itu, sungguh kerap menjebak seseorang dalam keadaan merasa hebat. Ia merasa bahwa harta yang ia sedekahkan itu murni miliknya, lupa bahwa ia tak hadir melainkan karena kemurahan Tuhannya. Ia merasa bahwa orang disedekahi itu membutuhkan hartanya, lalai bahwa ia lah yang sebenarnya membutuhkan orang untuk disedekahi, sehingga tercatatlah hartanya sebagai amal. Ia luput menyadari bahwa antara yang memberi dan diberi sama kedudukannya di hadapan Tuhan, fakir, lemah, tak berdaya, mudah hilang yang dimilikinya jika Dia berkehendak. Maka kala seseorang bersedekah pada orang lain, baik bentuknya uang, waktu, diskon/potongan jasa, kerap ada harapan bahwa yang disedekahi itu lah yang kan membalas kebaikannya. Padahal balasan sedekah itu, dijanjikan bukan di dunia, melainkan di akhirat sana. Jika pun tampak ada balasan di dunia, ia tak lain hanya sebagian kecil saja. Sesuatu yang mengingatkan kita bahwa yang di akhir nanti jauh lebih besar dari ini. 

Jadi ikhlas itu memang ilmu advance. Tingkat tinggi. Ia keadaan hati yang lahir dari latihan. Latihan untuk menutup mata fisik dan menghidupkan mata batin. Mata batin lah yang sanggup mengenali cinta Tuhan yang tercurah karena perbuatan kita yang diniatkan hanya karenaNya. Ya, ikhlas itu bukan tanpa pamrih. Ikhlas itu pamrih, namun hanya kepada yang sanggup memberikan balasan, yakni Sang Penguasa Sejati. Pamrih pada sesama makhluk itu rugi, sebab ia hanya memiliki sedikit. Ia tak bisa memberikan yang tak ia miliki. Ikhlas, adalah pamrih pada yang benar-benar memiliki, yang kepemilikannya tanpa batas. Karena tanpa batas itulah mata fisik takkan sanggup melihat. Karena tanpa batas itulah ia tak mungkin disimpan di dunia, sebagaimana kekayaan triliunan itu bentuknya tak mungkin tabungan atau deposito—melainkan aset-aset yang tak bisa dilihat dalam bentuk uang kertas. 

Maka sulitnya ikhlas itu, adalah melatih menghidupkan cahaya hati, yang memungkinkan kita berbuat secara murni. Sehingga yang tampak (pujian, cibiran) dan yang tak tampak (balasan orang sesama) tak mengganggu kita. Di titik inilah kemerdekaan yang sesungguhnya. Ya, insan ikhlas itu merdeka. Tubuhnya boleh terbelenggu dengan pekerjaan, jabatan, rutinitas, tapi kebaikan yang dihasilkan melampaui batas-batas itu semua. 

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *