Ada pengalaman mendalam yang belum lama ini ku alami. Pengalaman itu bersambung dari saat aku berangkat dan pulang.
Sekira 2 minggu yang lalu, aku melakukan perjalanan ke sebuah daerah yang membutuhkan beberapa kali pergantian moda transportasi. Yang paling signifikan adalah dari pesawat, sambung dengan perahu motor. Perahu motor itu diisi cukup banyak orang dengan tujuan yang sama. Sebagian besar adalah karyawan sebuah perusahaan, sebagian kecilnya dua orang perempuan, salah seorangnya membawa anak kecil. Maka perahu pun jadi penuh dengan orang dan barang. Perjalanan itu direncanakan ditempuh dalam waktu sekitar dua jam. Jadi, aku memang sudah bersiap bahwa itu bukan perjalanan singkat. Perahu berguncang-guncang, yang untungnya tak membuat perutku berkecamuk. Malah, aku mengantuk-antuk. Mungkin karena angin yang bertiup dan menyejukkan suasana meski perahu agak sesak.
Yang tak ku duga adalah, separuh perjalanan, perahu berhenti berlayar. Ada sesuatu yang terjadi dengan motornya. Kapal berhenti dan terombang-ambing. Awak perahu itu dua orang. Mereka sigap memeriksan kondisi, dan melakukan perbaikan. “Ada baut yang copot,” kata mereka. Tak cepat juga kondisi itu diatasi. Sekira 30 menit baru selesai. Alhamdulillah, perahu bisa berjalan lagi.
Di momen itu, aku merenung, menyadari sesuatu. Mengapa aku tadi, bersama banyak orang lain, cukup tenang? Kami ada di tengah laut, terombang-ambing. Jika saja kondisi tak teratasi, entah berapa lama kami harus ada di sana, dengan keselamatan yang terancam. Ditambah, misalnya, kondisi cuaca buruk seperti hujan, entah apa jadinya. Tapi tidak, kami baik-baik saja. Mungkin, karena kami mengamati dua awak perahu yang berusaha mengatasi situasi dengan tenang. Ya, mereka tenang, dan menunjukkan bahwa mereka tahu apa yang mereka lakukan. Pemandangan mereka bekerja itulah barangkali yang membuat rasa panik tak terpicu dalam diri kami. Padahal, jika mau direnungkan, situasi kami itu cukup mengancam. Sedikit saja tambahan permasalahan pada perahu, nyawa mungkin melayang. Aku, pada khususnya, yang tak bisa berenang ini, jelas kecil kemungkinan selamat jika harus bertahan di laut.
Di titik ketika telah sampai di tujuan, renunganku pun semakin panjang. Ku sadari bahwa peristiwa tadi datang sebagai sebuah pelajaran. Bahwa hidupku ini, pada dasarnya berada di antara hidup dan mati yang batasnya tipis sekali. Aku ini sebenarnya ada di ombang-ambing oleh keadaan, dan masih terselamatkan, karena Dia menjagaku. Dia mengatur awak kapal agar tenang dan bisa mengatasi keadaan. Dia mengatur angin dan hujan tak turut menyerbu. Dia yang memperjalankan perahu dengan selamat sampai di tujuan. Manusia dengan sedikit keterampilannya hanya berusaha, di dalam naungan takdir yang Ia bentangkan di hadapan. Jika Dia katakan belum saatnya, maka hidup ini masih ada. Jika Dia katakan sudah waktunya, maka satu hal kecil saja telah membinasakan.
Pengalaman yang mirip terjadi saat pulang. Pesawatku seharusnya transit di sebuah kota dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Pilot sudah memberikan pengumuman persiapan mendarat kira-kira 30 menit sebelum transit. Tapi agak lama, pesawat tak kunjung mendarat jua. Ia pun kembali menyalakan mikrofon pengumuman, mengungkapkan bahwa cuaca di kota transit tak baik, karenanya pesawat akan berputar dulu 30 menit, menunggu sekiranya hujan dan angin mereda. Maka pesawat pun berputar, dan pengumuman kedua pun terdengar, bahwa cuaca belum membaik. Karenanya, pesawat akan mendarat terlebih dahulu di kota lain yang terdekat. Singkat cerita, kami mendarat, menunggu di pesawat sekitar satu jam, baru terbang kembali. Kali ini berhasil transit dengan aman. Baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Pinggangku sungguh pegal karena tujuh jam di pesawat.
Jika sebelumnya aku terombang-ambing di laut, maka di perjalanan pulang ini aku terombang-ambing di udara. Pesawat yang canggih itu, rupanya tak bisa mendarat hanya karena kondisi cuaca diaturNya sedikit hujan dan angin. Ya, jika Dia tak mengizinkan mendarat, maka tak perlu banyak hal, cukup sedikit rekayasa cuaca saja pesawat canggih itu kehilangan kekuatannya. Dia atur cuaca sedemikian rupa, pesawat itu pun mendarat dengan selamat.
Kita ini, sesungguhnya selalu berada di ujung tanduk. Hidup dan mati kita itu sebenarnya setipis itu batasnya. Kita yang masih hidup ini, bisa menikmati kehidupan, sebab Ia masih beri waktu. Ia izinkan kita untuk menggunakan kebebasan, untuk beramal atau membangkang. Tanpa kita sadari bahwa pada tiap detiknya Dia bisa memanggil kita untuk kembali. Kita yang bersantai-santai dalam kemaksiatan ini, kerapkali tak menyadari bahwa waktu yang terasa masih ada itu fatarmorgana belaka. Waktu yang nyata hanya yang telah lewat. Waktu yang akan datang belum lah datang. Hanya jika Dia mengizinkan waktu itu akan tersedia.
Rasanya, pelajaran penting ini perlu ku ingat rapat-rapat dalam pikiran. Bahwa kematian itu dekat. Namun detik demi detik Dia tunda, jika memang belum saatnya. Moga kala detik itu datang, aku sedang dalam ketaatan.
