Mengasah Mutiara

Sejenak kuteringat kisah ayah Imam Syafi’i, Idris. Satu hari ia sedang duduk merenung dan menulis di pinggir sebuah sungai. Idris muda yang amat bersemangat mencari dan mengeksplorasi ilmu itu konon menghabiskan seluruh uangnya untuk mencari ilmu sampai pernah memakan makanan sisa. Beberapa jam di tepi sungai ia tiba-tiba melihat sebuah apel mengambang mengikuti aliran air. Seketika perutnya pun mengisyaratkan bahwa ia menginginkan buat segar itu.¬†Idris pun mengambil buah tersebut dan memakannya. Kebiasaan bersyukur membuatnya amat menikmati hidangan tiba-tiba tersebut. Selesai makan, ia pun kembali duduk serius berkonsentrasi melanjutkan pencariannya. Sebuah keheranan muncul, beragam ide yang tadinya mengalir dengan deras tiba-tiba tersumbat tidak mau keluar. Ia segera tersadar, barangkali apel yang dimakannya tadi jatuh dari pohon milik seseorang yang tumbuh di dekat sungai. “Aku telah memasukkan hak milik orang lain ke dalam tubuhku!” pikirnya. Kisah pun berlanjut dan mempertemukan ia dengan seorang istri yang luar biasa cantik dan shalihah.

Cerita yang mirip datang dari Abul A’la Al Maududi. Hanya saja, ini bukan ulama terkenal tersebut, melainkan seorang remaja dengan hafalan Qur’an luar biasa asli orang Indonesia yang pernah kubaca di majalah. Ia bertutur, pernah suatu kali ia merasakan amat sulit menghafal ayat-ayat Al-Qur’an padahal biasanya selalu mudah. Disadarinya ketika itu, ia terlalu banyak menonton serial Power Rangers. Segeralah dihentikan kebiasaan itu dan kemampuannya pun kembali seperti semula.

Satu pelajaran yang kupetik dari keduanya: hidayah itu bagaikan mutiara yang belum terasah. Kebiasaan buruk akan membuatnya kusam dan terbuang sekiranya orang tidak menyadarinya. Kebiasaan baiklah yang akan menjadikannya kembali bercahaya. Kuharap puasaku bisa mengikis debu yang menutupi cahaya yang telah dianugerahkan-Nya kepadaku.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *