Jalan Takwa, Jalan Pembebasan

Hari ini aku memfasilitasi sebuah kelas kepemimpinan untuk para penyelia di sebuah organisasi. Materi pada sore hari sampai pada bahasan bagaimana proses pendelegasian tugas efektif seharusnya terjadi. Yang ku bahas adalah kaidah bahwa seseorang akan termovitasi melakukan sesuatu kala ia memahami bagaimana tugasnya berdampak pada organisasi secara keseluruhan. Kita perlu paham ‘mengapa’, agar termovitasi untuk mengejar ‘apa’ dan menentukan ‘bagaimana’-nya dari sebuah pekerjaan.

Usai kelas, bahasan ini meninggalkan jejak pemikiran yang agak lain dalam pikiranku. Aku jadi terpikir hal lain. Apalagi kala di perjalanan pulang, aku mengemudi sambil mendengarkan tafsir beberapa ayat surat Al Baqarah oleh Ustadz Nouman Ali Khan. Bahasan mengenai takwa.

Kok bisa? Apa hubungannya?

Begini ceritanya.

Sehabis membahas soal goal cascading tadi, terbersit dalam benakku sebuah pemahaman bahwa karena tiap pekerjaan itu penting, maka sejatinya tiap orang mesti sungguh-sungguh menjalankan perannya. Karena tiap pekerjaan itu penting pula, maka tak ada pekerjaan yang sejatinya lebih penting daripada yang lain. Sebab jika pun ada yang lebih penting, pekerjaan itu perlu didukung oleh pekerjaan lain yang tanpanya yang lebih penting itu takkan bisa berjalan. Maka jadilah setiap pekerjaan itu, ya, penting saja. Tak ada yang sesejatinya lebih penting dari yang lain.

Nah, tapi kan kenyataannya ada pekerjaan yang dihargai lebih tinggi daripada yang lain. Itu artinya ada yang lebih penting dong? Buktinya gaji manajer lebih tinggi dari staf?

Betul. Dan itu adalah penilaian yang sanggup diberikan oleh manusia. Penilaian yang adanya di dunia. Oleh pandangan mata sesama manusia yang sungguh banyak batasnya.

Itulah sebabnya, ukuran keberhasilan sejati manusia bukanlah keberhasilan materi, melainkan kesuksesannya mencapai ketakwaan. Takwa, bicara soal kepatuhan, kehati-hatian dalam berjalan. Tiap manusia akan diuji, dan agar berhasil melalui ujiannya itu ia perlu kehati-hatian, kecermatan, ketakwaan.

Ada yang diuji dengan kemiskinan, adakah ia cermat dalam sabarnya, berhati-hati tuk tak mengeluarkan keluhan berlebihan.

Ada yang diuji dengan kekayaan, adakah ia cermat dalam syukurnya. Berhati-hati tuk tak menggunakan kekayaan pada yang tak berguna atau bahkan dosa.

Ada yang diuji dengan pekerjaan yang dianggap penting oleh manusia, adakah ia cermat dalam amanahnya mengelola sumber daya yang menyangkut orang banyak.

Ada yang diuji dengan pekerjaan yang tak dianggap penting oleh manusia, adakah ia cermat dalam menuntaskan tugas nan tak dilihat oleh mata manusia.

Kala manusia meniti jalan takwa, maka sama saja baginya tiap keadaan. Kaya miskin, penting tak penting, pintar bodoh, setara saja. Sama-sama ujian. Sama-sama menghendaki kecermatan, kesungguhan menjalaninya. Yang direksi akan diminta pertanggungjawaban atas wewenang besarnya. Yang staf akan diminta pertanggungjawaban atas wewenang kecilnya. Yang kecil tapi amanah, bisa lebih beruntung kelak dibanding yang besar namun tak amanah.

Di jalan takwa inilah, kiranya, insan mendapatkan pembebasan. Yang diuji dengan kekayaan, tak peduli pujian dari sesama, sebab yang ia incar ridha Allah semata. Yang diuji dengan kemiskinan, tak peduli cibiran dari sesama, sebab yang ia tuju ialah bertemu Penciptanya dalam keadaan tersenyum.

Maka dilihat tak dilihat, dinilai tak dinilai, jalan takwa memberikan pembebasan diri dari penilaian makhluk. Jika kerja bagusnya berbuah bonus lebih tinggi, ia biasa saja, sebab bonus itu pun ujian pula. Jika kerja bagusnya tak dianggap, ia pun biasa saja, sebab tak dianggap oleh manusia itu ujian jua, adakah ia membuat diri jadi tak kerja ikhlas.

Kita ialah khalifah. Orang yang dilimpahi wewenang dan ditinggalkan di belakang. Tugas kita mengelola dunia semampunya. Bukan bergantung padanya.

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *