Mendadak Karate

Terkadang, sebuah benih ide yang ditanam itu, kala dirawat, akan tumbuh juga pada waktunya. 

Setahun lebih aku dan istriku rutin mengantar anak kami untuk berlatih karate, kami mengamati bahwa beladiri ini sebenarnya memiliki manfaat olahraga yang komplit. Kardio ada, kelenturan ada, kekuatan ada. Bonusnya, belajar membela diri jika dibutuhkan. Kami yang sudah berusia kepala empat ini rupanya makin sadar bahwa tubuh ini tidak akan sehat dengan sendirinya. Perlu ada usaha yang sungguh-sungguh, jika ingin menikmati masa tua secara mandiri. Memang, semenjak pandemi kami mulai rutin berolahraga. Berjalan, jogging tipis-tipis. Menempuh jarak lima kilo sudah bukan hal sulit. Rata-rata langkah kakiku sehari-hari sudah mencapai sepuluh ribu. Tapi tentu saja itu tidak cukup. Kekuatan dan kelenturan otot dan tulang perlu aktivitas olahraga yang lain, yang tak bisa didapat hanya dengan berjalan. Tapi karena aku sendiri bukan orang yang senang berolahraga, maka aku selalu mencari aktivitas apa yang bisa ku jalankan tanpa banyak alasan. 

Maka datanglah momen itu. Momen ketika kami mengamati anak-anak SD hingga SMA rutin berlatih karate. Beberapa di antara mereka sudah sampai sabuk hitam. Aku sendiri sebenarnya sejak kecil menggemari beladiri. Tapi belum sampai tahapan serius ingin berlatih, hanya suka membaca tentang itu. Pernah mencoba saat SMA, berhenti. Sempat memulai lagi saat kuliah, berhenti lagi. Tapi kali ini, rupanya istriku pun meminati, dan jadilah kami memulai perjalanan berlatih karate, di usia empat puluh lebih ini. Bukan karena ingin jadi atlet, semata-mata karena mungkin ini ikhtiar yang bisa ditekuni dalam jangka panjang. Dibimbing oleh Sensei Sofyan dari Gabdika, kami belajar karate aliran Shito Ryu. 

Apa yang terjadi setelah dua bulan? 

Yang jelas, setiap latihan selalu menyisakan rasa pegal yang baru hilang 1-2 hari kemudian. Tapi aku belajar banyak hal baru. Sebuah kesadaran akan hal-hal yang selama ini baru ku tahu, tapi belum ku alami. Berikut ini dua di antaranya. 

Pertama, berlatih karate memahamkanku tentang topik knowledge management (KM) dalam bidang manajemen. Kok bisa? Begini. Kebetulan aku sedang mendalami topik ini untuk keperluan pekerjaan. Dulu sekali, aku memang pernah belajar, hanya kali ini aku mendapat pencerahan baru. 

Ada masanya, aku memahami bahwa KM adalah usaha organisasi untuk mengubah pengetahuan yang tacit menjadi explicit. Maka KM yang aku tahu pada masa itu, adalah KM yang banyak berkutat dengan aktivitas mengekstrak berbagai keahlian untuk kemudian berusaha menjadikannya eksplisit dalam bentuk sistem dan program pembelajaran agar bisa diakses oleh siapapun yang membutuhkan. Namun di pendalamanku yang belakangan ini, lebih tepatnya ketika aku membaca karya-karya para pendahulu KM seperti Nonaka, aku mendapati hal yang berbeda. KM sebenarnya, adalah operasionalisasi pemikiran Michael Polanyi tentang the tacit component of knowledge. Polanyi berpendapat, bahwa sementara ilmu pengetahuan modern berusaha untuk mengeksplisitkan berbagai hal, tetap saja komponen yang tacit jauh lebih banyak. Sebagai contoh, sedalam-dalamnya aku membaca buku karya seorang ahli, tetap saja pemikiran yang ada dalam dirinya jauh lebih banyak daripada apa yang bisa ku dapat dari buku tulisannya. 

Dengan demikian, KM sebenarnya bukanlah semata proses mengeksplisitkan apa yang tacit. Sebab hampir tidak mungkin mengeksplisitkan semua yang tacit. Apalagi, ketika aku mempelajari sebuah ilmu yang sudah dieksplisitkan, ketika akhirnya ilmu itu ku kuasai, ia tak lagi eksplisit, ia berubah menjadi tacit, hanya saja kali ini tacit dalam diriku. Maka proses KM sebenarnya bukan saja dari tacit ke explicit, tapi dari tacit ke explicit ke tacit lagi. Itulah sebabnya ketika aku belajar dari seorang ahli, cara belajar yang paling baik adalah belajar langsung padanya, dibimbing langsung olehnya, sampai akhirnya aku menguasai keahlian itu. Ketika aku sudah sampai pada titik menguasai, apa yang ku kuasai itu sudah bukan lagi explicit knowledge, melainkan sudah menjadi tacit knowledge. 

Nah, proses KM inilah sebenarnya yang terjadi di dalam ilmu-ilmu seperti karate. Ilmu yang benar-benar berbasis keterampilan. Di era digital ini, semua ilmu karate yang eksplisit begitu mudah kita temukan di internet. Jika kita ingin sekadar tahu kurikulum detil setiap aliran karate, jelajah saja Youtube, dan kita akan menemukan mulai dari gerakan pemanasan, latihan dasar (Kihon), rangkaian gerak jurus (Kata), hingga cara bertarung (Kumite). Bahkan, aku menemukan beberapa buku yang amat detil membahas menu latihan dari minggu ke minggu. Tapi itu semua takkan membuatku bisa menguasai karate, karena untuk benar-benar mampu, aku perlu diajari oleh seorang pelatih yang kompeten, dipantau, diberi umpan balik langsung, dikoreksi, berkali-kali. Sebab apa yang ada di internet itu hanyalah secuplik explicit knowledge, sedangkan karate sebagai keterampilan menyimpan terlalu banyak tacit knowledge yang hanya bisa disibak melalui pertemuan dengan guru. 

Ini adalah sebuah pemahaman yang baru bagiku. Aku yang berkutat bertahun-tahun di ilmu-ilmu pikiran, baru benar-benar merasakan hadirnya ilmu di dalam tubuhku, di dalam diriku. Itulah ilmu ketika gerakanku mulai benar dan berdampak, sebagai hasil dari proses perlatihan terbimbing yang intensif. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana rasanya ‘gerakan yang benar’ itu, karena aku hanya bisa merasakannya. ‘Gerakan yang benar ‘itu sudah jadi tacit knowledge. 

Kedua, berlatih karate menyadarkanku betapa buruknya perlakuanku pada diriku sendiri selama ini. Pada tubuhku terutama. Tubuh, harusnya memiliki potensi untuk lentur dan kuat. Tapi kelenturan dan kekuatan itu tidak datang dengan sendirinya. Ia dibangun dengan latihan kelenturan dan kekuatan. Ketika latihan itu tidak dijalankan, maka ia sebenarnya menanggung beban yang lebih berat dari yang seharusnya. Mirip seperti kendaraan yang dipaksa digunakan tanpa secara rutin dirawat mesinnya. 

Dalam latihan seperti karate, kita tidak bisa pura-pura dan membohongi diri sendiri. Jika tidak pemanasan, risiko cedera langsung ada. Jika tidak latihan rutin mandiri, kita pasti lupa gerakan, atau ingat tapi tidak lebih baik dibanding pertemuan sebelumnya. Di bulan kedua ini, aku menyadari bahwa aku ternyata mampu push up 20 kali tanpa berhenti. Tapi itu hanya terjadi karena sejak bulan pertama aku berlatih mulai dari 5 kali, 10 kali, 2 kali 10 kali, hingga akhirnya baru mulai bisa 20 kali langsung di bulan kedua. Pikiran kita bisa merasa sudah tahu dan mampu, tapi tubuh kita selalu membutuhkan proses dan waktu.



Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *