Dari banyak momen yang kita bisa simak bersama, pidato Pak Prabowo menyiratkan seseorang, yang adalah pemimpin dengan kekuasaan sangat besar, namun kehilangan kemampuan untuk membaca realita. Bukan karena tidak bisa, tapi tidak mau. Sebab membaca realita mengandaikan kita, sang pembaca, untuk membuka diri terhadap apa yang nampak di hadapan. Membaca realita menghendaki kita, sang pembaca, untuk membiarkan diri kita dipengaruhi oleh apa yang kita dengar. Mungkin tidak dipengaruhi dalam arti diubah semuanya, melainkan pendapat kita telah mempertimbangkan sudut-sudut pandang lain yang tadinya belum kita perhitungkan.
Ada sebagian orang, para pendukungnya tentu saja, yang mengatakan bahwa rakyat lah yang tak memahami Pak Prabowo. Bahwa beliau itu seorang visioner yang tahu terlalu banyak, dan kita, rakyat jelata ini, tak tahu apa-apa. Pendapat ini, justru makin menguatkan kesan bahwa memang presiden kita saat ini itu memang tak menunjukkan keinginan untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat. Masyarakat yang diam, bukan berarti setuju. Ada banyak penyebab orang diam. Takut, misalnya. Tapi ketakutan itu mungkin akan sirna pada waktunya, ketika orang sudah amat terdesak, dan tak lagi bisa menahan lebih lama.
Mungkin Pak Prabowo perlu menyelami sebuah nasihat yang mengatakan, “Dia yang bisa dibisiki, tak perlu diteriaki.” Sungguh, kita tak berharap lagi, suatu waktu ketika rakyat perlu berteriak amat keras penuh kemarahan, sebab pemimpinnya tak bisa dibisiki.
Ada paradoks memang dalam soal mempertimbangkan kepentingan publik. Era sekarang ini memang era ketika angka-angka dianggap mewakili segalanya. Jika sesuatu tak dianggap cukup banyak, ia tak perlu benar-benar diperhitungkan, dianggap penting. Masalahnya, berapa yang dianggap banyak atau sedikit itu, selalu relatif kepada pembanding yang digunakan. Karenanya, para pemimpin yang tak peduli kerap mengabaikan seruan rakyat ketika masih dianggap sedikit. Padahal, yang sedikit itu adalah manusia yang berharga, yang kebutuhannya tak bisa diabaikan begitu saja. Manusia yang satu itu, punya nilai yang tak terhingga.
Karena itulah, memahami realitas hanya berbekal angka-angka tidak pernah cukup. Ada makna yang harus ditelaah di balik angka-angka itu. Yang satu bisa berarti begitu dalam. Yang sejuta bisa jadi tak terlalu bernilai. Tengoklah jumlah SPPG yang begitu banyak, di sebuah provinsi yang konon stuntingnya rendah. Begitu pula jumlah SPPG yang begitu sedikit, di sebuah provinsi yang stuntingnya tinggi. Digabung secara agregat, seolah angka eksekusi terbentuknya SPPG sudah cukup besar untuk ukuran program kerja yang baru dimulai dalam beberapa tahun. Tapi ketidaksesuaian eksekusi dengan konon tujuan awal bisa kita maknai sebagai kengasalan dalam pekerjaan. Memang sejak awal salah desain, terburu-buru, dan mengabaikan kebijaksanaan ilmu pengetahuan.
Begitu pula gelombang demonstrasi yang digawangi oleh mahasiswa. Oke, mungkin saat ini masih tampak sedikit. Pemerintah sudah menghitungnya, dan angkanya tak begitu banyak. Mereka juga sudah menyiapkan polisi dan tentara untuk menakut-nakuti, tentunya agar jumlah tak bertambah banyak. Mereka cukup belajar dari kejadian beberapa puluh tahun yang lalu. Tapi apa makna jumlah mahasiswa itu? Itulah yang diabaikan. Mahasiswa yang lahir dari generasi yang kerap dianggap lembek dan tak peduli itu, sampai turun ke jalan beramai-ramai, mengajukan tuntutan yang demikian spesifik, haruslah direnungkan penyebabnya dalam-dalam. Kampus-kampus yang mengizinkan mereka pun bukan jenis kampus yang sivitas akademikanya hanya sekadar ikut-ikutan. Kampus-kampus itulah yang sejak dulu selalu jadi penggerak revolusi. TIdak pernah gelombang mereka sekompak ini, jika bukan karena kondisi belakangan ini terlalu terang-benderang untuk didiamkan saja. Mahasiswa kampus itu bukan pula jenis mahasiswa yang mau membuang-buang waktu mereka untuk turun ke jalan hanya karena FOMO, mereka punya banyak hal penting yang jadi impian, atau kesenangan yang ingin mereka lakukan. Kenyataan bahwa mereka turun ke jalan meski banyak halangan adalah indikator bahwa pembisikan sudah tak lagi mempan.
“Dia yang bisa dibisiki, tak perlu diteriaki.”
Ya, kini mereka sudah mulai berteriak. Sedikit demi sedikit. Dan kita mulai pula melihat orang-orang yang menyambut teriakan itu. Pemerintah bisa menunggu dan mengabaikan jumlah mereka yang tampak masih sedikit. Tapi sejarah selalu membuktikan pemerintahan zalim akan tumbang, jika tak mau berbenah diri. Jangankan rezim yang hanya puluhan tahun. Penjajah yang ratusan tahun pun akhirnya tumbang pula. Negeri ini mungkin terkenal ramah. Tapi secara kolektif tak pernah begitu saja kalah oleh tekanan. Selalu saja ada orang yang menggaungkan perjuangan. Selalu saja ada yang mengajak untuk merenung lebih dalam.
“Dia yang bisa dibisiki, tak perlu diteriaki.”
Akan tiba masanya, mobil pengangkut MBG itu diberhentikan rakyat, jika ia tak berhenti melayani penguasa yang tuli.
