Hidup yang Semestinya?

Saat ku tulis artikel bertajuk “Masa Ini adalah Anugerah”, ku akhiri ia dengan sebuah ungkapan tentang hidup yang semestinya. Seorang kawan yang membaca tulisan itu bertanya, mungkin kepada dirinya sendiri, tapi aku pun turut berpikir, “Seperti apakah hidup yang semestinya itu?”

Sebuah pertanyaan yang tampak sederhana, namun ia menghendaki kerumitan jawaban. Sebab dengan mudah kita bisa mengenali berbagai sudut pandang yang mungkin memberikan jawaban. Dan segera pula kita perlu bersiap-siap bahwa takkan ada jawaban yang satu. Bahkan, jawabannya akan sebanyak orang yang mencoba menjawab itu sendiri. 

Tapi bolehlah aku mencoba untuk merenungkan apa yang kiranya akan menjadi jawabanku atas pertanyaan ini. 

Titik awal yang paling mudah adalah dengan mendasarkannya pada keyakinan yang aku pegang. Aku seorang muslim. Dan karenanya meyakini bahwa aku ini hamba. Setidaknya keyakinan itu ada dalam pikiranku, meski harus ku akui belum sebegitu kokoh dalam hatiku. Dan hamba diciptakan untuk menjadi khalifah, yang meminjam penjelasan dari Ustadz Nouman Ali Khan, bermakna orang yang ditinggalkan untuk diserahi tanggung jawab. Karenanya, tugas hamba adalah menjalankan tugasnya. 

Pertanyaannya, apa saja tugas hamba? Atau lebih tepatnya, apa saja tugas ku sebagai hamba? 

Nah, inilah pertanyaan yang jawabannya tak pasti. Atau mungkin, tak tampak pasti dalam pikiranku, karena keterbatasan wawasanku. Mencoba membaca Al Qur’an, tersibaklah sedikit, bahwa begitu ragamnya bahasan di dalamnya tentang kehidupan manusia, bisa jadi adalah tanda bahwa dalam bidang-bidang itulah tugas kita berada. Ada bahasan soal ibadah ritual seperti shalat, zakat, puasa, haji. Ada bahasan keluarga, mulai dari menjaga hingga jika terjadi perpisahan. Ada bahasan jual beli alias bisnis dan ekonomi. Ada bahasan kemasyarakatan yang bisa diperluas menjadi politik. Ada bahasan bertetangga yang bermakna hubungan sosial. 

Di titik inilah, menarik untuk dicermati sebuah ide yang dikemukakan oleh Stephen R. Covey dalam bukunya, The 7 Habits. Tepatnya di Kebiasaan 2, Begin with the End in Mind. Dalam bab tersebut, ia mengajak kita untuk menyusun Pernyataan Misi Pribadi, yang dimulai dengan memetakan berbagai peran yang kita jalani dalam hidup. Standarnya, ada 7 peran yang ia ajak kita petakan. 

Menarik untuk dicermati, bahwa bisa jadi ada orang yang kesulitan untuk memetakan 7 peran dalam hidupnya. Sebab jika dipikir-pikir, seluruh kehidupannya hanya ada peran di pekerjaan/bisnis, dan peran rumah (jika sudah berkeluarga). Padahal, kala ditelisik lebih dalam, ia bukannya tak punya peran lain. Ada keluarga besar. Ada tetangga. Ada bidang yang ia tekuni dan mungkin memiliki komunitas. Ada peran politik sebagai warga negara yang mungkin ia bisa berkontribusi sesuatu. Ada peran sebagai umat beragama. 

Peran-peran ini lah yang sepertinya banyak terabaikan di era belakangan ini, sebab hidup seolah hanya soal pekerjaan yang bersanding dengan keluarga kecil. Bahkan keluarga kecil itu kerap mesti merelakan hak mereka demi pekerjaan pula kala tugas memanggil. Jadi sebenarnya, antara pekerjaan dan keluarga itu tak setara juga. Ada paradoks, kala pekerjaan dikatakan untuk mendapatkan uang demi keluarga, namun kerapkali tak sempat menikmati kebersamaan dengan keluarga. 

Maka hidup yang seharusnya, mungkin bisa dipetakan lebih lengkap dengan menelaah peran-peran ini. 

Jangan-jangan, kita punya peran dalam keluarga besar yang belum dijalankan? 

Jangan-jangan, kita punya peran dalam masyarakat yang masih terabaikan? 

Jangan-jangan, kita punya peran dalam komunitas yang belum tertunaikan? 

Jangan-jangan, kita punya peran dalam kehidupan beragama yang belum mendapat sentuhan? 

Jangan-jangan?

Bagaimana kah jadinya gambaran utuh hidup kita jika semua kemungkinan peran ini kita petakan? Kemudian kita coba menawarkan sebagian waktu kita untuk melayani peran-peran tersebut? 

Tapi bagaimana dengan pekerjaan dan bisnis saya? Waktu saya untuk mengurusnya tentu berkurang, dan berdampak pula pada pendapatan saya?

Ya, sungguh dilematis. Namun jika direnungkan lebih dalam, bukankah uang yang didapat dari pekerjaan dan bisnis itu sejatinya mesti ditukar dengan sesuatu hingga melahirkan kebahagiaan? Uang itu sendiri tak memiliki nilai makna. Ia baru memiliki makna kala ditukarkan dengan yang bermakna. 

Maka bagaimana, bagaimana jika ada cara lain untuk mendapatkan hal bermakna itu, tanpa melalui perantara uang? Atau lagi-lagi, jangan-jangan, uang hanyalah salah satu cara yang kita tahu saja untuk mendapatkan hal bermakna? Sehingga sejatinya, masih ada banyak cara lain untuk mendapatkan makna itu, tanpa bersentuhan dengan uang dulu? 

Sebuah keluarga kelas menengah di Jakarta, misalnya, mengeluarkan uang 500 ribu setiap kali mereka pergi ke mal di akhir pekan. Maka dalam sebulan setidaknya 2 juta dana keluar. Di masa pandemi, 2 juta itu tak keluar karena mereka khawatir tertular Covid. Sebagai gantinya, mereka merancang berbagai aktivitas akhir pekan di rumah yang mungkin hanya menghabiskan dana kurang dari 100 ribu, alias seperlimanya. Kebahagiaan yang dirasakan sama. Berarti, selama ini mereka tak perlu 2 juta sebulan, melainkan hanya 400 ribu. Ada 2 pilihan. Sisanya bisa mereka gunakan untuk aktivitas lain, atau mereka kemudian menyadari bahwa tak perlu bekerja sekeras kemarin sebab kebutuhan pun tak sebesar itu. Mungkinkah waktu bekerja yang kemarin bisa dialokasikan untuk menjalankan peran yang lain? Mungkinkah aku hanya perlu membuka toko hingga jam 16 sore, sehingga malamnya bisa bercengkerama dengan keluarga dan tetangga? Atau aku jadi punya waktu untuk membaca, merenung, berdoa? 

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *