“Salah satu penghalang ilmu”, demikian sebuah nasihat, “ialah pikiran ‘Aku sudah tahu’.” Ya, begitu terlintas dalam pikiran bahwa diri ini pernah tahu, pernah belajar, apalagi pernah mendalami, seketika itu pula pintu pertanyaan tertutup. Kita tak lagi bertanya. Kita tak lagi berminat. Dan kita menutup diri. Jika pun ilmu baru masuk, ia kan tertolak tanpa disadari. […]
Tag: belajar
Ada sebuah kondisi menantang yang kutemukan beberapa tahun belakangan ketika memfasilitasi pembelajaran di organisasi. Tak seperti di masa sekolah ketika kegiatan utama murid memang ada belajar, pembelajaran pada orang dewasa bukanlah menu utama. Ia masuk dalam kuadran waktu kategori penting namun tidak mendesak. Ya, belajar adalah aktivitas yang diakui oleh semua orang sebagai sesuatu yang
Seorang guru memahami apa yang pas untuk diajarkan pada murid. Tidak saja bahan, melainkan juga bagaimana ia dipelajari. Maka bagian dari adab belajar ialah mempersiapkan diri tuk menerima apa yang diberi dengan sebaik-baiknya. Menerima dengan penuh kesungguhan, dengan menyimak dan mencatat. Keduanya adalah bagian penting yang akan menjadikan ilmu bagian dari diri, tak hanya tersimpan
Ada hak pada ilmu, yakni tuk diamalkan. Dijadikan manfaat. Ilmu tersia-sia jika tersimpan dalam ingatan belaka. Lebih buruknya lagi, tak teringat pula, tersebab tak ia dipraktikkan, sedang praktik itu sendiri memperkokoh ingatan. Maka salah satu kewajiban pembelajar adalah memastikan tiap yang diketahui mewujud jadi hasil. Bergerak dari tahu, paham, mampu. Sisi lain, ada risiko kala
“Ini zaman serba cepat. Yang tak cepat kan tertinggal.” Demikian ungkap banyak orang masa kini. Dan aku pun sempat setuju. Maka dalam pikiranku, banyak hal mesti dipercepat. Atau setidaknya, berusaha dipercepat. Sebab yang lambat-lambat memang tak punya tempat. Namun beberapa hari lalu, ada sebuah kalimat yang membuatku tertegun. Berasal dari seorang pakar manajemen kenamaan, Tom
Ada 3 jenis insan yang Dia jelaskan pada pembukaan kitabNya. Satu di antaranya selamat, dua di sisanya celaka. Yang selamat adalah ia yang telah diberikan nikmat. Mereka yang dikisahkan dalam berbagai tempat di sepanjang jalan. Dan nikmat itu jelas bukan nikmat dunia, meski sebagian di antaranya dikaruniai. Nikmat itu nikmat di akhirat sana. Yang celaka
Jarak terdekat antara dua titik adalah garis lurus. Wajarlah jika inilah dambaan insan yang sedang bepergian. Adanya jalan lurus selain memudahkan juga menghemat banyak sekali sumber daya. Tidak perlu banyak berpikir. Cukup lurus saja. Namun yang diidamkan memang tak selalu ada dalam kenyataan. Atau setidaknya, tak pernah benar-benar ada 100 persen. Jalan lurus seperti jalan
Ilmu adalah wujud cintaNya. Dia jadikan insan pengelola muka bumi, padahal lemah belaka sejak lahirnya. Manusia beranjak mulia tersebab ilmu yang dimilikinya. Tengoklah sejarah Adam, manusia pertama, kala dipertanyakan penciptaanya, Allah tunjukkan kekuatan berupa kemampuan menyebutkan nama-nama. Lalu seketika tunduk sujudlah malaikat yang telah jauh mengabdi lebih lama. Ketika kita perhatian akan keselamatan seseorang, kita
Meminjam model Taksonomi Bloom yang telah disempurnakan oleh Anderson dan Krathwol, maka proses belajar dimulai dari mengingat, lalu memahami, baru bisa mengaplikasikan, kemudian menganalisa, naik ke mengevaluasi, hingga kemudian menciptakan. Dari sini, kita bisa menarik simpulan bahwa ilmu itu berjenjang. Berjenis-jenis. Ia tak hanya satu, dan karenanya tak dipelajari dengan satu cara saja. Benarlah sebuah
“Tak semua orang ingin menjadi ahli. Buktinya, tak semua orang mau tekun menempa diri.” Disebut unggul, lantaran seseorang memiliki sesuatu yang berarti, yang tak dimiliki oleh orang lain. Karenanya lah keunggulan disebut juga dengan advantage, keuntungan. Dari keunggulan, insan mudah dikenali, dan mudah dipilih orang. Kenallah kita dengan Michael Porter, yang konsepnya tentang competitive advantage

Recent Comments